Polemik Rencana Impor 2 Juta Ton Beras

Selasa, 04 April 2023 - 13:02 WIB
Bagi yang kontra, impor beras dinilai sebagai pengkhianatan pada petani. Selama ini petani didorong berproduksi tinggi dengan disuntik subsidi pupuk, dan bantuan alat dan mesin pertanian. Saat produksi surplus kok impor. Seperti perkiraan BPS, produksi beras Januari-April 2023 surplus sebesar 3,22 juta ton. Tahun 2022 lalu ada surplus 1,34 juta ton beras. Surplus kok impor? Jika Bulog terkendala menyerap gabah/beras petani domestik karena harga di pasar tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP), mengapa ini tak dicarikan jalan keluar. Impor bahkan dinilai cara mudah untuk menangguk cuan.

Impor juga menampar muka Presiden Jokowi. Bukankah pada Agustus 2022 lalu Presiden telah menerima pengakuan dari IRRI (International of Rice Research Institute) atas prestasi tiga tahun berturut-turut (2019-2021) tak impor beras (medium)? Apa makna pengakuan itu jika akhirnya Indonesia jatuh lagi sebagai importir beras 500.000 ton pada 2022 dan kini mengimpor lagi?

Keputusan impor beras bukan saja bagai menjilat ludah sendiri, tetapi juga bisa dimaknai menelikung petani. Petani hanya dinggap penting saat tahun politik lima tahun sekali, setelah itu mereka ditinggalkan dan ditanggalkan.

Akan tetapi, bagi yang pro, impor adalah rasional dan logis. Bagi kelompok ini, keputusan impor merupakan langkah terakhir ketika tidak tersedia alternatif solusi lain. Karena itu, meskipun pahit keputusan harus diambil. Diakui atau tidak, memutuskan impor saat ini adalah hal sulit.

Keputusan pahit dan sulit karena izin impor justru dikeluarkan/diberikan saat panen raya, sesuatu yang jarang terjadi. Sebab, saat panen raya biasanya pasokan gabah/beras melimpah dan harga turun. Masalahnya, saat ini pasokan gabah/beras belum benar-benar melimpah. Harga gabah/beras pun masih tetap tinggi.

Merujuk data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, harga beras medium pada 30 Maret 2023 bergerak antara Rp13.300-Rp13.450/kg. Selain lebih tinggi dari Januari (Rp12.600-Rp12.800/kg) dan Februari 2023 (Rp12.950-Rp13.100/kg), harga ini telah melampaui harga eceran tertinggi (HET) baru beras: Rp10.900-Rp11.800/kg (tergantung wilayah). Merujuk data BPS (Maret 2023), produksi padi masih terbatas.

Menurut BPS, Februari 2023 sudah mulai ada surplus beras. Produksi pada bulan itu apabila dikurangi kebutuhan konsumsi sekitar 2,53 juta ton beras ada surplus 0,32 juta ton. Lalu, Maret diproyeksikan ada surplus 2,84 juta ton, dan April ada surplus 1,26 juta ton beras.

Surplus pada Februari 2023 itu tergolong masih kecil. Surplus yang kecil ini jadi rebutan pelaku usaha, apakah penggilingan padi atau pedagang beras, untuk memastikan pengisian pipa (pipiline) distribusi mereka yang kering kerontang sejak musim paceklik Oktober tahun lalu. Karena pasar jauh dari jenuh, perebutan gabah/beras oleh pelaku pasar tidak terelakkan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!