Skalabilitas Rupiah Digital
Sabtu, 25 Februari 2023 - 17:04 WIB
Sederhananya, skalabilitas bisa diartikan sebagai kemampuan CBDC untuk memenuhi permintaan yang terjadi secara simultan dalam jangka waktu singkat secara masif. Bila rupiah digital tidak memiliki skalabilitas yang mumpuni, maka akan berdampak pada efisiensi sistem pembayaran. Ujungnya, bisa menyerang kredibilitas BI dan kepercayaan akan pengadopsian rupiah digital itu sendiri.
Galibnya, masalah skalabilitas ini berasal dari keterbatasan dan kekuatan teknologi digital yang saling terhubung dalam suatu jaringan, atau sebut saja dengannodeserta pilihan teknologi yang digunakan,permissioned DLTataupermissionless DLT.
Dari sisi peningkatannode,ada beberapa strategi yang dapat dilakukan. Pertama, meningkatkan kuantitasnodeke dalam jaringan CBDC atauhorizontal scaling. Bila yang dipilihhorizontal scaling, keuntungannya adalah lebih mudah, resiliensi tinggi, dandowntimeyang lebih singkat. Namun, ini akan membuat pengoperasian dan prosesmaintenancejadi lebih kompleks serta biayanya lebih mahal.
Kedua, meningkatkan kekuatannodedalam memproses CBDC atauvertical scaling. Di arah yang berbeda,vertical scalinglebih hemat dan prosesmaintenancelebih mudah. Sayangnya, ada risiko waktudowntimeyang lebih lama danupgradeyang terbatas.
Dari sisi teknologi yang digunakan, umumnya yang disarankan adalahpermissioned DLT. Ini disebabkan karenapermission DLTsifatnya lebih terbatas dan lebih cepat. Sayangnya, ini tidak datang tanpa biaya.
Bila BI berfokus pada peningkatan skalabilitas melalui adopsipermission DLT, maka pilihan pelik yang harus dikorbankan adalah berkurangnya desentralisasi dan transparansi. Tapi, ini pilihan yang masuk akal karena CBDC seyogyanya memang harus divalidasi dan dikontrol oleh bank sentral serta beberapa otoritas yang berwenang saja.
Selain itu, adopsipermissionless DLT juga kurang implementatif dalam beberapa kebijakan atau regulasi karena sifat sejatinya yang terdesentralisasi.
Namun,permissioned DLT ini ditakutkan masih belum memadai dan mampu mewadahi transaksi yang memiliki volume sangat tinggi. Alhasil, masih ada perdebatan antara menggunakan sistem berbasis operasi DLT-Blockchain atau Non-DLT yang tersentralisasi.
Galibnya, masalah skalabilitas ini berasal dari keterbatasan dan kekuatan teknologi digital yang saling terhubung dalam suatu jaringan, atau sebut saja dengannodeserta pilihan teknologi yang digunakan,permissioned DLTataupermissionless DLT.
Dari sisi peningkatannode,ada beberapa strategi yang dapat dilakukan. Pertama, meningkatkan kuantitasnodeke dalam jaringan CBDC atauhorizontal scaling. Bila yang dipilihhorizontal scaling, keuntungannya adalah lebih mudah, resiliensi tinggi, dandowntimeyang lebih singkat. Namun, ini akan membuat pengoperasian dan prosesmaintenancejadi lebih kompleks serta biayanya lebih mahal.
Kedua, meningkatkan kekuatannodedalam memproses CBDC atauvertical scaling. Di arah yang berbeda,vertical scalinglebih hemat dan prosesmaintenancelebih mudah. Sayangnya, ada risiko waktudowntimeyang lebih lama danupgradeyang terbatas.
Dari sisi teknologi yang digunakan, umumnya yang disarankan adalahpermissioned DLT. Ini disebabkan karenapermission DLTsifatnya lebih terbatas dan lebih cepat. Sayangnya, ini tidak datang tanpa biaya.
Bila BI berfokus pada peningkatan skalabilitas melalui adopsipermission DLT, maka pilihan pelik yang harus dikorbankan adalah berkurangnya desentralisasi dan transparansi. Tapi, ini pilihan yang masuk akal karena CBDC seyogyanya memang harus divalidasi dan dikontrol oleh bank sentral serta beberapa otoritas yang berwenang saja.
Selain itu, adopsipermissionless DLT juga kurang implementatif dalam beberapa kebijakan atau regulasi karena sifat sejatinya yang terdesentralisasi.
Namun,permissioned DLT ini ditakutkan masih belum memadai dan mampu mewadahi transaksi yang memiliki volume sangat tinggi. Alhasil, masih ada perdebatan antara menggunakan sistem berbasis operasi DLT-Blockchain atau Non-DLT yang tersentralisasi.
Lihat Juga :