Lihai Jadi Mata-mata, Perwira Muda TNI AD Ini Diperebutkan Tiga Jenderal Jadi Ajudan

Jum'at, 03 Februari 2023 - 06:13 WIB
Ketika masih menjalani pendidikan, yakni pada waktu masih menjadi Kopral Taruna, Pierre Tendean telah diikutkan dalam operasi militer untuk menumpas pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera. Sebagai taruna Atekad, Pierre ditempatkan dalam kesatuan Zeni Tempur Operasi Saptamarga.

Jabatan pertama yang dipangku Pierre setelah menyelesaikan pendidikan di Atekad adalah Komandan Peleton pada Batalyon Zeni Tempur 2/Daerah Militer (Dam) II Bukit Barisan berkedudukan di Medan.

Kebetulan yang tak disangka-sangka, pada tahun yang sama dengan seruan ganyang Malaysia dilancarkan, sepucuk surat diterima Pierre. Isinya tak lain adalah perintah untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) Bogor, sebagai persiapan menjalani tugas dan tanggung jawab yang telah diperhitungkan.

Pierre sadar betul sebagai seorang prajurit akan kesiapannya menghadapi segala kemungkinan termasuk tugas-tugas dan panggilan negara. Terlebih penunjukan dirinya sebagai salah satu perwira muda yang ikut dalam pendidikan intelijen merupakan kesempatan langka yang tak sembarangan orang bisa mendapatkannya.

Tak main-main, Letda Pierre kala itu menjadi salah satu siswa termuda, baik dari segi usia maupun pengalamannya. Sementara siswa lain yang juga diberi kesempatan mengenyam pendidikan intelijen dengannya merupakan para prajurit yang notabene sudah memiliki jam terbang tinggi.

Predikat memuaskan juga berhasil diperoleh Pierre ketika dinyatakan lulus dari STIN dengan masa pendidikan yang ditempuh selama satu tahun.

Pada tahun 1963, Indonesia sedang melakukan politik konfrontasi terhadap Malaysia. Presiden Soekarno mengumumkan perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) sebagai bagian dari konfrontasi melawan Malaysia dan Inggris.

Entah sebuah kebetulan yang tiba-tiba atau justru sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari, setelah lulus ia memang harus langsung siap siaga untuk ditugaskan ke medan pertempuran. Pendidikan intelijen itu diberikan, sebab Pierre akan ditugaskan untuk melakukan penyusupan ke daerah Malaysia. Dalam melaksanakan tugas ini ia diperbantukan pada Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat yang bertugas di garis depan.

Dituliskan juga dalam buku "Pierre Tendean, Jejak Sang Ajudan", dua tahun lamanya Pierre Tendean ditempatkan di garis depan dan selama masa itu tiga kali ia melakukan penyusupan ke daerah Malaysia. Pertama kali ia memasuki daerah Malaysia dengan menyamar sebagai wisatawan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!