Pendidikan Nasional

Sabtu, 02 Mei 2015 - 09:26 WIB
Pendidikan Nasional
Pendidikan Nasional
A A A
Hari ini kita memperingati salah satu hari penting bagi bangsa ini, yaitu Hari Pendidikan Nasional.

Pada momen ini bangsa Indonesia memperingati dan memberikan penghargaan atas perjuangan salah satu tokoh peletak batu fondasi pendidikan negeri ini, yaitu Ki Hadjar Dewantara, yang lahir pada 2 Mei 1889. Pendidikan adalah sektor krusial bagi kemajuan setiap bangsa. Sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah tentu akan menjadi modal bagi suatu bangsa untuk mencapai kesejahteraan.

Tapi tanpa sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam mengolahnya, kelebihan yang dimiliki akan tersia-siakan. Bahkan bisa jadi bangsa tersebut dininabobokan oleh SDA yang melimpah karena SDM yang visinya maju langka.

Sayangnya pendidikan di negeri ini selalu saja dihadapkan pada masalah klasik yang tak kunjung terpecahkan seperti masalah kurikulum, kualitas guru, gaji guru, anggaran pendidikan, serta para pejabat di bidang pendidikan yang tidak bervisi panjang dan bahkan sebagiannya korup.

Masalah-masalah tersebut selalu saja dipecahkan setengah-setengah sehingga tak kunjung selesai sepenuhnya. Lihat saja masalah kurikulum yang selalu mengundang perdebatan. Memang sudah sewajarnya menjawab perubahan zaman, maka kurikulum akan berubah.

Namun sayangnya selama ini perubahan kurikulum seperti menegasikan pencapaian yang sudah dicapai kurikulum sebelumnya. Bahkan di akhir tahun lalu ada kejadian menarik ketika Menteri Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan membatalkan implementasi Kurikulum 2013 yang belum lama diresmikan Menteri Pendidikan Muhammad Nuh yang memimpin pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sangat aneh, untuk kurikulum saja bisa terkesan sedemikian politis. Padahal berbagai penelitian mengungkapkan bahwa kurikulum memang penting, tetapi para pelaksana dari kurikulum sangat diperlukan kualitasnya.

Secanggih apa pun kurikulum yang dibuat dan seholistis apa pun kurikulum yang diimplementasikan akan menjadi onggokan huruf di atas kertas saja jika para guru tidak mampu menyerap dan memaknai kurikulum tersebut. Kualitas guru juga selalu menjadi sumber kekhawatiran dalam dunia pendidikan Indonesia.

Sangat banyak guru di negeri ini yang cerdas dan kreatif, tetapi guru yang kualitasnya biasa-biasa saja dan di bawah standar tak kalah banyak. Sungguh sangat miris membayangkan anak bangsa dididik oleh orang yang biasa-biasa saja. Namun kita juga punya masalah apresiasi terhadap guru yang relatif biasa saja.

Memang kita sudah punya sertifikasi guru yang memberikan pemasukan lebih besar kepada guru, tetapi pemberiannya cenderung seperti urut kacang dari senior terlebih dahulu, bukan dari yang paling bagus kualitasnya. Masih ada pula nasib guru honorer yang sudah mendedikasikan dirinya untuk bangsa, tetapi dianaktirikan pemerintah. Indonesia ini tidak pernah kekurangan orang pintar.

Lihat saja banyak individu-individu yang sukses di berbagai bidang dan mendapatkan berbagai macam penghargaan di bidang internasional. Negeri ini seperti pool of talent yang sayangnya belum mampu diberdayakan dengan baik oleh para pemimpin.

Kenapa perlu diberdayakan, padahal mereka pintar? Karena dalam membangun negeri ini akan sangat sempit pandangannya jika lihat individu per individu. Kita perlu melakukan helicopter view untuk melihat berbagai potensi bangsa ini yang terserak.

Dalam membangun pendidikan pun harus diterapkan sudut pandang itu. Para pengambil kebijakan harus bisa melihat secara holistis kondisi pendidikan dan menyelesaikannya dengan cara yang holistis pula.

Negeri ini butuh pemimpin yang berpikir outside the box karena sudah terbukti para pemimpin di bidang pendidikan yang membangun pendidikan Indonesia dengan cara by the book belum mampu melentingkan tingkat pendidikan bangsa ini. Budaya kritis dalam sekolah perlu ditingkatkan. Selama masih banyak guru yang terjebak dalam mindset sebagai pemilik tunggal kebenaran dan yang paling tahu di dalam bidang yang diajarnya, murid pun khawatir untuk kritis.

Guru harus sadar bahwa mereka adalah teman bagi murid, pemerintah harus sadar juga bahwa mereka ini fungsinya untuk menjamin bahwa bangsa ini akan bertahan ribuan tahun lagi dengan makmur tentunya.
(ftr)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Jokowi Bakal Hadir di...
Jokowi Bakal Hadir di Sidang Roy Suryo-Dokter Tifa, Kuasa Hukum: Kalau 100% Terlalu Dini
Kemlu Ungkap 2 WNI Awak...
Kemlu Ungkap 2 WNI Awak Kapal Ikan Hilang di Perairan Busan Korsel
Jaksa KPK Limpahkan...
Jaksa KPK Limpahkan Berkas Perkara Mantan Ketua PN Depok ke Pengadilan Bandung
Prabowo Bertemu Kapolri...
Prabowo Bertemu Kapolri di Istana, Terima Laporan Kamtibmas-Persiapan Hari Bhayangkara 2026
Komisi I Bangga TNI...
Komisi I Bangga TNI Ikut Urus Pertanian, Dave Laksono: Ini Bukan Kembali ke Dwifungsi
Keberlangsungan Energi...
Keberlangsungan Energi Listrik vs Dominasi Oligarki Batubara
Infografis
5 Madrasah Tertua di...
5 Madrasah Tertua di Indonesia, Pelopor Pendidikan Islam Modern
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved