Negara Agraris yang Perlu Belajar

Rabu, 25 Maret 2015 - 07:57 WIB
Negara Agraris yang...
Negara Agraris yang Perlu Belajar
A A A
Pemerintah hingga saat ini belum bisa memberikan alternatif solusi makanan pokok untuk menyubstitusikan beras. Ini tentu akan berbahaya bagi Indonesia.

Lahan pertanian yang semakin lama semakin terkikis arus peningkatan permukiman dan jumlah penduduk Indonesia yang selalu meningkat setiap tahunnya adalah alasan betapa berbahayanya kondisi masyarakat Indonesia di masa mendatang jika kondisi pertanian Indonesia tidak dilakukan improvement metode produksi yang cepat.

Indonesia memang menjadi penghasil beras terbanyak di Asia Tenggara, tetapi saat ini Indonesia masih mengimpor beras dari negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Tujuh puluh juta ton beras per tahun yang dihasilkan oleh petani-petani Indonesia (tahun 2014) ternyata belum cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras rakyat Indonesia.

Dulu pertanian menjadi ujung tombak perekonomian. Langkah penguatan ekonomi pada zaman Presiden Soeharto, lebih tepatnya ketika menteri perekonomian yang saat itu menjabat adalah Widjojo Nitisastro, lebih menekankan penguatan di bidang pertanian sebagai tulang punggung penggerak perekonomian negara.

Kala itu Pak Widjojo belajar banyak dari Jepang mengenai hal yang sesuai untuk menaikkan taraf perekonomian Indonesia. Hasilnya, melalui penguatan pertanian yang terkhusus pada beras, swasembada beras berhasil dicapai pada 1983. Jika kita melihat lebih luas yaitu negara yang menjadi pengekspor beras terbesar di Asia Tenggara, Vietnam.

Pertanian Vietnam tidak langsung bagus. Berbekal metode teknik ekologi yang diterapkan di China, Vietnam mengalami kemajuan pesat pada produksi padi mereka. Indonesia bisa mengambil pelajaran ini dengan mempertimbangkan segala permasalahan dan batasan lahan pertanian di negara ini yang semakin lama cenderung menyempit.

Langkah intensifikasi lahan pertanian inilah yang perlu digerakkan di Indonesia dalam jangka waktu dekat ini. Tetapi, untuk jangka panjangnya, pemerintah perlu dengan segera melakukan konversi makanan pokok yaitu mencari substitusi beras sebagai bahan pokok secara masif.

Semoga Indonesia yang memiliki label negara agraris tak hanya menjadi istilah, tetapi juga diakui keberadaan dan perannya sebagai penyandang julukan tersebut.

Hamdan A Putra Utama
Mahasiswa Jurusan Teknik IndustriUniversitas Gadjah Mada
(ftr)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Imigrasi Nonaktifkan...
Imigrasi Nonaktifkan Pejabat yang Diperiksa KPK, Pastikan Pelayanan Publik Tetap Berjalan
Dua Truk Towing Masuk...
Dua Truk Towing Masuk Rumah Silmy Karim saat KPK Lakukan Penggeledahan
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved