Tersandera Mafia Pasar

Kamis, 05 Maret 2015 - 10:44 WIB
Tersandera Mafia Pasar
Tersandera Mafia Pasar
A A A
Tauchid Komara Yuda
Mahasiswa Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Aktivis HMI. Universitas Gadjah Mada


Terkadang aneh juga kalau dipikir-pikir, sebagai salah satu negeri agraris terbesar di dunia, gonjang-ganjingdi negeri ini justru berkutat pada mahalnya padi, sayur, buah dengan label”lokal”.

Sontak hal ini menimbulkan pertanyaan, ada apa gerangan? Kalau berbicara melalui perspektif ekonomi, kelangkaan sumber daya merupakan alasan rasional penyebab naiknya harga barang. Bamun kalau secara politis, hal tersebut belum tentu berlaku. Pasalnya, permainan monopoli pada pelaku pasar mulai dari elite sampai warga sipil sekalipun tidak bisa hindari.

Perkara politisasi sumber daya di Indonesia sebenarnya merupakan sebuah proyeksi sejarah panjang bangsa Indonesia sejak kedatangan VOC dan makin suburnya feodalisme.Dalam sistem feodal, pemangku kekuasaan diniscayakan sebagai sosok yang suci, sehingga otomatis masyarakat dipastikan mau melakukan apa saja yang diperintahkan oleh sang raja. Tak ada ubahnya dengan jaman sekarang, hanya yang membedakan adalah strategi yang bernuansa birokratis.

Seperti kasus politik dagang sapi pada tahun 2013, KPK memerkarakan politikus Lutfhi Hasan Ishaq selaku tersangka dalam kasus suap dengan tujuan untuk melicinkan penambahan kuota impor daging sapi. Perkara semacam ini jika dibiarkan tentu akan menimbulkan kekhawatiran bagi peternak sapi lokal jika harus bersaing dengan produk impor di negeri sendiri.

Selanjutnya, keberadaan mafia penimbun juga menjadi masalah krusial pada pasokan distribusi. Akibat yang ditimbulkan dari perilaku menimbun ini jelas berdampak memicu inflasi akibat kenaikan harga sejumlah barang dan jasa. Seperti yang terjadi pada minggu-minggu ini, isu soal kenaikan harga beras kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah kalangan menilai, harga beras yang di atas Rp10.000 per kilogramnya, khususnya di sekitar Jabodetabek, dianggap tidak wajar dan teramat memprihatinkan.

Analisis sementara, penyebab kenaikan harga beras dikarenakan terlambatnya musim panen di Pulau Jawa, namun merebaknya mafia pasar juga patut diwaspadai. Menagih janji presiden, infrastruktur guna menopang persediaan lumbung Bulog sudah seharusnya dipikirkan, dan suntikan dana untuk membeli gabah kepada petani juga harus diperbesar agar dapat mendorong kemampuan Bulog membeli gabah petani secara fair.

Langkah ini dirasa tepat dalam rangka memperkecil keterlibatan peran mafia pasar dalam proses distribusi.
(ars)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
UU PFII Bukti Pemerintah...
UU PFII Bukti Pemerintah Serius Bangun Fondasi Ekonomi Jangka Panjang
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama...
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama Baru, Ada Mantan Kapuspenkum Kejagung
Dugaan Penyamaran Aset...
Dugaan Penyamaran Aset Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Disorot
Jadi Investor Fiktif,...
Jadi Investor Fiktif, 10 WNA Ditangkap Imigrasi
Penguatan Kualitas Lulusan...
Penguatan Kualitas Lulusan Terus Digencarkan SGU
Cerita Megawati Pergoki...
Cerita Megawati Pergoki Intelijen: Hidup Saya Ini Diinteli Terus
Infografis
Gubernur DKI Dorong...
Gubernur DKI Dorong Pasar di Jakarta Lakukan Digitalisasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved