Belum Pilih Jaksa Agung, Jokowi Dinilai Hati-hati
Jum'at, 07 November 2014 - 21:46 WIB
Belum Pilih Jaksa Agung, Jokowi Dinilai Hati-hati
A
A
A
JAKARTA - Lebih dari dua minggu Presiden Joko Widodo (Jokowi) berada di pucuk kekuasaan, Jaksa Agung baru pengganti Basrief Arief belum juga dipilih. Kini, tarik ulur calon Jaksa Agung dari internal maupun eksternal Kejaksaan tengah muncul ke permukaan.
Menyikapi wacana yang berkembang, Pengamat Hukum Tata Negara Refly Harun menilai, untuk mewujudkan visi-misi presiden di bidang hukum khususnya memberantas korupsi, kuncinya ada pada pemilihan Kapolri dan Jaksa Agung.
"Jabatan ini sangat strategis karena menyangkut perwujudan visi-misi presiden di bidang hukum. Sehingga presiden baru tidak buru-buru mencari pengganti Jaksa Agung," kata Refly dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Forum Wartawan Kejaksaan Agung di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (7/11/2014).
Menurut Refly, saat ini Jokowi juga tengah menghadapi tarik menarik kepentingan dalam memilih calon Jaksa Agung. Bahkan, tarik menarik konflik kepentingan itu datang dari orang-orang di sekitar Jokowi.
"Para pembisik Jokowi tentu juga mengusulkan siapa jagonya. Tapi kita harus kembali pada prinsip bahwa persoalan ini adalah hak prerogatif presiden," kata Refly.
Menyikapi wacana yang berkembang, Pengamat Hukum Tata Negara Refly Harun menilai, untuk mewujudkan visi-misi presiden di bidang hukum khususnya memberantas korupsi, kuncinya ada pada pemilihan Kapolri dan Jaksa Agung.
"Jabatan ini sangat strategis karena menyangkut perwujudan visi-misi presiden di bidang hukum. Sehingga presiden baru tidak buru-buru mencari pengganti Jaksa Agung," kata Refly dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Forum Wartawan Kejaksaan Agung di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (7/11/2014).
Menurut Refly, saat ini Jokowi juga tengah menghadapi tarik menarik kepentingan dalam memilih calon Jaksa Agung. Bahkan, tarik menarik konflik kepentingan itu datang dari orang-orang di sekitar Jokowi.
"Para pembisik Jokowi tentu juga mengusulkan siapa jagonya. Tapi kita harus kembali pada prinsip bahwa persoalan ini adalah hak prerogatif presiden," kata Refly.
(kri)