DNA Soekarno

Rabu, 21 Mei 2014 - 06:24 WIB
DNA Soekarno
DNA Soekarno
A A A
PEMILIHAN presiden (pilpres) pada 9 Juli dipastikan akan diikuti oleh dua pasangan yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK).

Tentunya dua pasangan tersebut merasa yakin akan menjadi presiden dan wakil presiden periode 2014-2019. Dalam rangka meraih kursi RI-1 dan RI-2, dua pasangan tersebut telah “berjualan” bahkan sebelum dideklarasikan.

“Jualan” program atau visi dan misi akan semakin gencar seusai deklarasi. Saat deklarasi mereka bahkan mengemas agar tampak menarik bagi masyarakat. Prabowo-Hatta Rajasa memilih Rumah Polonia di Jakarta Timur yang merupakan bekas rumah Presiden Pertama Indonesia Soekarno.

Ada nilai historis dari Rumah Polonia karena pernah menjadi tempat singgah salah satu founding fathers negeri ini yaitu Soekarno. Pasangan Prabowo-Hatta ingin mengambil semangat Soekarno dalam membangun negeri ini.

Sedangkan Jokowi- JK memilih Gedung Joeang yang juga mempunyai nilai sejarah karena tempat ini digunakan Soekarno untuk menggembleng pemuda- pemuda Indonesia saat revolusi. Jokowi-JK juga ingin mengambil semangat Soekarno. Memang, deoxyribonucleic acid (DNA) Soekarno sangat kental pada Pilpres 2014 ini.

Sangat jelas baik Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK mengambil DNA Soekarno untuk digunakan “jualan” dalam rangka kompetisi pada 9 Juli nanti. Salahkah? Tentu tidak. Karena, mereka menganggap saat ini semangat Soekarno sangat relevan untuk membangun negeri ini. Bisa jadi, mereka menganggap pada 2014 hingga tahun-tahun berikutnya butuh perjuangan untuk menjadikan bangsa ini disegani negara-negara lain seperti cita-cita Soekarno.

Tak hanya tempat deklarasi yang merupakan DNA Soekarno. Visi mereka pun mencomot DNA Soekarno. Prabowo mengatakan, jika menjadi presiden, akan mengupayakan seluruh kekayaan bangsa harus dimiliki oleh bangsa ini. Jelas ini seperti keinginan Soekarno yang ingin melakukan nasionalisasi kekayaan bangsa. Lalu Jokowi mengusung politik Trisakti yaitu berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial budaya. Jelas konsep ini juga milik Soekarno.

Belum lagi dalam beberapa komentar, nama Soekarno juga sering diucapkan dua pasangan tersebut. Sekali lagi, tidak ada yang salah jika Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK mengambil DNA Soekarno untuk berkampanye. Konsep- konsep Soekarno memang baik untuk membangun negeri ini. Hanya, apakah memang konsep-konsep Soekarno yang sudah berusia puluhan tahun masih relevan untuk membangun negeri ini?

Jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada dua pasangan tersebut, tentu jawaban masih relevan karena konsep Soekarno memang digunakan sebagai bahan utama kampanye mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa Soekarno masih sangat “laku” digunakan sebagai bahan kampanye. Sosok Soekarno memang milik bangsa ini, bukan hanya milik salah satu partai. Artinya, sah-sah saja ketika semua anak bangsa menggunakan nama Soekarno sebagai bahan kampanye.

Keharuman nama Soekarno yang merupakan salah satu tokoh berjasa bagi kemerdekaan negeri ini dianggap masih layak untuk disebarkan ke semua masyarakat Indonesia saat ini. Tentu harapannya, dua pasangan tersebut tidak hanya melakukan copy paste konsep tersebut. Perlu ada modifikasi-modifikasi konsep yang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Konsep-konsep lama memang bisa dianggap master piece, namun tetap harus ada penyesuaian dengan kondisi saat ini.

Bisa saja, ketika Soekarno mengeluarkan konsep-konsep yang dicontoh dua pasangan tersebut hanya untuk saat itu. Namun, bisa juga konsep tersebut digunakan langgeng dari masa ke masa.

Masyarakat akan menjadi saksi, apakah dua pasangan tersebut benar-benar akan mengimplementasikan visi mereka saat mencalonkan atau justru meninggalkan. Lalu, akankah konsep tersebut benar-benar melekat pada individu-individu pasangan, berarti akan tetap dipegang teguh ketika tidak terpilih menjadi presiden-wapres?

Tentu harapannya, DNA Soekarno yang digunakan oleh dua pasangan tersebut bukan hanya bahan jualan untuk menarik simpati rakyat, melainkan juga digunakan untuk menyejahterakan rakyat.
(nfl)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Didik Rachbini Prediksi...
Didik Rachbini Prediksi Safari Politik Jokowi Menjadi Faktor Negatif Ekonomi Nasional
Gus Yaqut Dibantarkan,...
Gus Yaqut Dibantarkan, KPK: Petugas Pengawal Tahanan Lakukan Pengamanan Melekat
Penegak Hukum Terkoneksi...
Penegak Hukum Terkoneksi Politik, Ubedilah Badrun: Mestinya Independen
Kepercayaan Publik terhadap...
Kepercayaan Publik terhadap Polri Meningkat Jadi Modal Sosial yang Harus Diperkuat
Silaturahmi di Lampung,...
Silaturahmi di Lampung, Jokowi: Aku Masih Seperti yang Dulu
Tak Bisa Ditunda, Tata...
Tak Bisa Ditunda, Tata Kelola, Dana, dan Independensi PBNU Harus Dibenahi
Infografis
Persentase Kesamaan...
Persentase Kesamaan DNA antara Manusia dengan Monyet
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved