Diragukan, Golkar dan Demokrat bisa berkoalisi
Kamis, 15 Mei 2014 - 16:06 WIB
Diragukan, Golkar dan Demokrat bisa berkoalisi
A
A
A
Sindonews.com - Partai Golkar dan Demokrat diragukan akan berkoalisi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Namun kalaupun kedua parpol itu bergabung, koalisi itu dinilai terlalu dipaksakan.
Pengamat politik Universitas Parahyangan (Unpar) Asep Warlan Yusuf menilai sulit bagi kedua parpol itu bergabung di tengah dinamika politik yang mengarah kepada kedua kekuatan politik, yakni kubu mendukung Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo. “Saya ragu Demokrat akan bergabung dengan Golkar,” ujar Asep saat dihubungi Sindonews, Kamis (15/5/2014).
Penggabungan Partai Demokrat dan Partai Golkar adalah kemungkinan yang agak dipaksakan. Meski sebelumnya kedua partai tergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Secara politik tidak ada chemistry (kedekatan emosional) di antara keduanya,” ujar Asep.
Adapun yang menjadi hambatan kedua parpol itu bergabung kata dia, Golkar akan bersikeras menginginkan posisi calon presiden (capres). Sementara Demokrat sulit menerima karena telah terikat oleh etika karena telah menggelar konvensi calon presiden (capres).
Pada detik-detik akhir menjelang masa pendaftaran pasangan capres dan cawapres, Asep melihat Partai Demokrat dan Partai Golkar cenderung akan bergabung dengan dua kubu koalisi yang sudah ada. “Bisa ke Prabowo, bisa juga ke Jokowi,” pungkasnya
Pengamat politik Universitas Parahyangan (Unpar) Asep Warlan Yusuf menilai sulit bagi kedua parpol itu bergabung di tengah dinamika politik yang mengarah kepada kedua kekuatan politik, yakni kubu mendukung Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo. “Saya ragu Demokrat akan bergabung dengan Golkar,” ujar Asep saat dihubungi Sindonews, Kamis (15/5/2014).
Penggabungan Partai Demokrat dan Partai Golkar adalah kemungkinan yang agak dipaksakan. Meski sebelumnya kedua partai tergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Secara politik tidak ada chemistry (kedekatan emosional) di antara keduanya,” ujar Asep.
Adapun yang menjadi hambatan kedua parpol itu bergabung kata dia, Golkar akan bersikeras menginginkan posisi calon presiden (capres). Sementara Demokrat sulit menerima karena telah terikat oleh etika karena telah menggelar konvensi calon presiden (capres).
Pada detik-detik akhir menjelang masa pendaftaran pasangan capres dan cawapres, Asep melihat Partai Demokrat dan Partai Golkar cenderung akan bergabung dengan dua kubu koalisi yang sudah ada. “Bisa ke Prabowo, bisa juga ke Jokowi,” pungkasnya
(dam)