Prabowo terancam gigit jari tanpa dukungan PPP
Jum'at, 25 April 2014 - 05:36 WIB
Prabowo terancam gigit jari tanpa dukungan PPP
A
A
A
Sindonews.com - Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) III Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berujung pada salah satu keputusan berupa fatwa islah antara para elitenya yang bersiteru. Mukernas juga menganulir semua keputusan yang diambil Ketua Umum PPP Suryadharma Ali dalam hal dukungan koalisi ke Gerindra dan capresnya Prabowo Subianto.
Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin mengatakan, hasil Mukernas III PPP dan menurunnya posisi tawar SDA menjadi ancaman serius untuk pencapresan Prabowo pada Pilpres 2014.
"Sepertinya PPP tidak akan bergabung dalam koalisi Gerindra untuk mencapreskan Prabowo. Kalau Golkar bisa menggaet PKB dan Hanura, boleh jadi PPP akan masuk dalam gerbong ini," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Jumat (25/4/2014).
Menurutnya, akan ada tiga kemungkinan pasangan capres-cawapres dengan dua kemungkinan peta koalisi. Kemungkinan pertama, koalisi PDIP, Nasdem, dan PKPI, lalu koalisi Golkar, PKB, PPP, dan Hanura, serta koalisi Gerindra, Demokrat, PAN, PKS, dan PBB.
"Kalau demikian petanya, maka kemungkinan capres-cawapresnya adalah Jokowi berpasangan dengan JK atau tokoh militer, lalu Ical-Mahfud, dan Prabowo-Hatta," jelasnya.
Kemungkinan kedua, lanjut Said, bisa terjadi perubahan komposisi pada koalisi dalam hal Demokrat berhasil mempengaruhi PAN untuk memajukan kandidat mereka masing-masing.
"Jadi bisa saja yang diusung adalah Hatta-Anies Baswedan, misalnya. Kalau PKS dan PBB bisa menerima pasangan itu, bukan mustahil PPP akan lari dari Golkar dan bergabung dengan koalisi ini," tandasnya.
"Nah, kalau itu yang terjadi, maka Prabowo bisa gigit jari karena Gerindra sudah tidak punya teman koalisi lagi. Alhasil kemungkinan Gerindra akan mengambil peran sebagai oposisi," pungkasnya.
Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin mengatakan, hasil Mukernas III PPP dan menurunnya posisi tawar SDA menjadi ancaman serius untuk pencapresan Prabowo pada Pilpres 2014.
"Sepertinya PPP tidak akan bergabung dalam koalisi Gerindra untuk mencapreskan Prabowo. Kalau Golkar bisa menggaet PKB dan Hanura, boleh jadi PPP akan masuk dalam gerbong ini," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Jumat (25/4/2014).
Menurutnya, akan ada tiga kemungkinan pasangan capres-cawapres dengan dua kemungkinan peta koalisi. Kemungkinan pertama, koalisi PDIP, Nasdem, dan PKPI, lalu koalisi Golkar, PKB, PPP, dan Hanura, serta koalisi Gerindra, Demokrat, PAN, PKS, dan PBB.
"Kalau demikian petanya, maka kemungkinan capres-cawapresnya adalah Jokowi berpasangan dengan JK atau tokoh militer, lalu Ical-Mahfud, dan Prabowo-Hatta," jelasnya.
Kemungkinan kedua, lanjut Said, bisa terjadi perubahan komposisi pada koalisi dalam hal Demokrat berhasil mempengaruhi PAN untuk memajukan kandidat mereka masing-masing.
"Jadi bisa saja yang diusung adalah Hatta-Anies Baswedan, misalnya. Kalau PKS dan PBB bisa menerima pasangan itu, bukan mustahil PPP akan lari dari Golkar dan bergabung dengan koalisi ini," tandasnya.
"Nah, kalau itu yang terjadi, maka Prabowo bisa gigit jari karena Gerindra sudah tidak punya teman koalisi lagi. Alhasil kemungkinan Gerindra akan mengambil peran sebagai oposisi," pungkasnya.
(kri)