Jokowi temui dubes asing tanpa Nasdem itu aneh
Jum'at, 18 April 2014 - 16:21 WIB
Jokowi temui dubes asing tanpa Nasdem itu aneh
A
A
A
Sindonews.com - Pertemuan antara calon presiden (capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Joko Widodo (Jokowi) dengan sejumlah duta besar (dubes) asing termasuk Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia dinilai janggal. Apalagi tanpa keikutsertaan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang menjadi mitra koalisinya.
"Bagi saya aneh saja kalau PDIP dan Jokowi bertemu dengan sejumlah duta besar tanpa melibatkan Partai Nasdem," ucap Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin kepada Sindonews, Jumat (18/4/2014).
Karena Said meyakini pertemuan tersebut merupakan pertemuan politik. Pasalnya, pertemuan dilakukan saat momen politik Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 segera dilakukan. "Siapa yang berani membantah kalau itu bukan pertemuan politik?" tukas Said.
Sebagai mitra koalisi, sudah seharusnya Nasdem mengetahui isi dari pertemuan. Namun ternyata tidak. Ini bisa merugikan Nasdem sebagai mitra koalisi. Karena dalam momentum politik seperti itu, deal-deal bisa terjadi dengan pihak mana saja.
Dengan adanya pertemuan itu, bisa jadi Nasdem justru mengalami ketidaknyamanan yang berimbas pada pembatalan koalisi. Akibat dari pertemuan yang dinilai tidak transparan tersebut, boleh jadi Nasdem akan melakukan 'deal' politik dengan partai lain di luar sepengetahuan PDIP.
"Apa yang dirasakan oleh NasDem itu baru akan dirasakan oleh PDIP apabila Surya Paloh, misalnya, secara diam-diam melakukan pertemuan dengan Prabowo," sambungnya.
Pada Senin 14 April 2014, Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri dan Jokowi melakukan pertemuan dengan beberapa duta besar (dubes) luar negeri. Pertemuan itu dihadiri beberapa dubes yang memiliki hubungan bilateral dengan Indonesia. Hadir di antaranya Duta Besar AS dan China. Pertemuan itu dilakukan di Kediaman Jacob Soetojo di Jalan Sircon, Permata Hijau, Jakarta Selatan.
"Bagi saya aneh saja kalau PDIP dan Jokowi bertemu dengan sejumlah duta besar tanpa melibatkan Partai Nasdem," ucap Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin kepada Sindonews, Jumat (18/4/2014).
Karena Said meyakini pertemuan tersebut merupakan pertemuan politik. Pasalnya, pertemuan dilakukan saat momen politik Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 segera dilakukan. "Siapa yang berani membantah kalau itu bukan pertemuan politik?" tukas Said.
Sebagai mitra koalisi, sudah seharusnya Nasdem mengetahui isi dari pertemuan. Namun ternyata tidak. Ini bisa merugikan Nasdem sebagai mitra koalisi. Karena dalam momentum politik seperti itu, deal-deal bisa terjadi dengan pihak mana saja.
Dengan adanya pertemuan itu, bisa jadi Nasdem justru mengalami ketidaknyamanan yang berimbas pada pembatalan koalisi. Akibat dari pertemuan yang dinilai tidak transparan tersebut, boleh jadi Nasdem akan melakukan 'deal' politik dengan partai lain di luar sepengetahuan PDIP.
"Apa yang dirasakan oleh NasDem itu baru akan dirasakan oleh PDIP apabila Surya Paloh, misalnya, secara diam-diam melakukan pertemuan dengan Prabowo," sambungnya.
Pada Senin 14 April 2014, Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri dan Jokowi melakukan pertemuan dengan beberapa duta besar (dubes) luar negeri. Pertemuan itu dihadiri beberapa dubes yang memiliki hubungan bilateral dengan Indonesia. Hadir di antaranya Duta Besar AS dan China. Pertemuan itu dilakukan di Kediaman Jacob Soetojo di Jalan Sircon, Permata Hijau, Jakarta Selatan.
(hyk)