Katrol bantu tentukan pilihan di Pemilu 2014
Jum'at, 28 Maret 2014 - 18:23 WIB
Katrol bantu tentukan pilihan di Pemilu 2014
A
A
A
Sindonews.com - Jurusan Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM melaunching penggunaan Kartu Kontrol (Katrol) jelang Pemilu 2014. Katrol sendiri bisa menjadi alat yang dapat digunakan pemilih untuk membantu menentukan pilihan dalam segala jenis pemilu di Indonesia.
"Melalui Katrol, kami ingin mendorong terwujudnya pemilih yang lebih cerdas. Bentuk instrumen ini sendiri memang berupa software sehingga memang menuntut para penggunanya memiliki kemampuan teknologi dan akses internet," ujar Peneliti Pusat Studi Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM Abdul Gaffar Karim Jumat (28/3/2014).
Ditemui usai acara Diseminasi Gagasan dan Launching Kartu Kontrol di Hotel Jogjakarta Plaza, Gaffar menuturkan, Katrol sangat berguna membantu pemilih menilai kualitas dari caleg di daerah pemilihan masing-masing.
Dalam hal ini, pemilik Katrol memang dituntut aktif mencari informasi terkait caleg-caleg. Mengingat susahnya mencari informasi terkait para caleg, tim peneliti pun berinisiatif menyediakan link-link khusus yang menyajikan informasi seputar caleg yang bisa dipercaya.
"Dalam hal ini, kami menuntut logika berpikir pemilih. Pemilih akan lebih mudah, jika sebelumnya ia telah memiliki partai politik (parpol) pilihan. Dan jika pemilih tetap tidak memiliki caleg yang menurut mereka layak dipilih, paling tidak pemilih bisa memilih parpol yang mereka anggap terbaik, toh suara mereka akan dianggap sah nantinya," jelasnya.
Diakui Gaffar, pengguna Katrol akan sangat tersegmen. Namun demikian, pihaknya berharap, paling tidak Katrol mampu memberikan kontribusi pada segmen yang mereka sasar yakni pihak yang memiliki akses internet. Dan untuk kelompok masyarakat, tim Katrol menyasar pada kaun perempuan, buruh dan difabel.
"Ketiga kelompok masyarakat ini menjadi sasaran utama kami karena merekalah yang paling rentan untuk golput karena keterbatasan akses informasi. Dan kelebihannya, Katrol sendiri tidak hanya bisa digunakan dalam pemilihan legislatif, tapi juga pada pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah bahkan pemilihan kepala desa," imbuhnya.
Pemilih yang berminat menggunakan Katrol dapat mengaksesnya melalui jaringan internet ke website jpp.fisipol.ugm.ac.id/katrol. Hingga saat ini, pengguna katrol sendiri telah mencapai 500 lebih. Dan pemilih pemula yakni kisaran usia 17-24 tahun menjadi kelompok yang paling antusias menggunakan Katrol dan mencari informasi mengenai caleg pilihan mereka.
Konsultan dan Pendamping perwakilan Yayasan Anisa Swasti Yogyakarta Umi Asih menuturkan, lembaga swadaya masyarakat tempatnya bekerja selama ini juga terlibat dalam upaya sosialisasi pemilu, utamanya bagi buruh gendong se-DIY. Ia berharap, melalui aplikasi dan buku saku Katrol ini, para buruh gendong bisa menyalurkan hak suara mereka dengan benar.
"Buruh gendong se-DIY memang terpusat di empat pasar besar yakni Beringharjo, Giwangan, Gamping dan pasar Kranggan. Kami perkirakan ada lebih dari 1.000 buruh gendong yang memiliki hak suara. Dan selama ini, hak suara mereka terpakai hanya karena ada instruksi satu arah dari RT atau orang yang dituakan di wilayah mereka. Ini tentu tidak benar karena mereka seharusnya memilih caleg yang dirasa mampu memperjuangkan hak mereka," ujarnya.
Umi menuturkan, aplikasi Katrol memang menjadi hal yang baru bagi para buruh gendong tersebut. Namun alat itu setidaknya akan menjadi sumber informasi mengenai kualitas caleg dan mempermudah pihaknya melakukan sosialisasi.
Apalagi mengingat para buruh gendong kebanyakan adalah kaum perempuan dengan latar belakang pendidikan rendah bisa jadi sasaran empuk politik transaksional.
"Kami tentu akan terus melakukan pendampingan. Kami hanya menginginkan adanya perubahan para buruh gendong ini dalam memilih dan menggunakan hak suaranya. Semoga mulai pemilu 2014 ini mereka bisa menggunakan hak suaranya sesuai keinginan sendiri," imbuhnya.
"Melalui Katrol, kami ingin mendorong terwujudnya pemilih yang lebih cerdas. Bentuk instrumen ini sendiri memang berupa software sehingga memang menuntut para penggunanya memiliki kemampuan teknologi dan akses internet," ujar Peneliti Pusat Studi Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM Abdul Gaffar Karim Jumat (28/3/2014).
Ditemui usai acara Diseminasi Gagasan dan Launching Kartu Kontrol di Hotel Jogjakarta Plaza, Gaffar menuturkan, Katrol sangat berguna membantu pemilih menilai kualitas dari caleg di daerah pemilihan masing-masing.
Dalam hal ini, pemilik Katrol memang dituntut aktif mencari informasi terkait caleg-caleg. Mengingat susahnya mencari informasi terkait para caleg, tim peneliti pun berinisiatif menyediakan link-link khusus yang menyajikan informasi seputar caleg yang bisa dipercaya.
"Dalam hal ini, kami menuntut logika berpikir pemilih. Pemilih akan lebih mudah, jika sebelumnya ia telah memiliki partai politik (parpol) pilihan. Dan jika pemilih tetap tidak memiliki caleg yang menurut mereka layak dipilih, paling tidak pemilih bisa memilih parpol yang mereka anggap terbaik, toh suara mereka akan dianggap sah nantinya," jelasnya.
Diakui Gaffar, pengguna Katrol akan sangat tersegmen. Namun demikian, pihaknya berharap, paling tidak Katrol mampu memberikan kontribusi pada segmen yang mereka sasar yakni pihak yang memiliki akses internet. Dan untuk kelompok masyarakat, tim Katrol menyasar pada kaun perempuan, buruh dan difabel.
"Ketiga kelompok masyarakat ini menjadi sasaran utama kami karena merekalah yang paling rentan untuk golput karena keterbatasan akses informasi. Dan kelebihannya, Katrol sendiri tidak hanya bisa digunakan dalam pemilihan legislatif, tapi juga pada pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah bahkan pemilihan kepala desa," imbuhnya.
Pemilih yang berminat menggunakan Katrol dapat mengaksesnya melalui jaringan internet ke website jpp.fisipol.ugm.ac.id/katrol. Hingga saat ini, pengguna katrol sendiri telah mencapai 500 lebih. Dan pemilih pemula yakni kisaran usia 17-24 tahun menjadi kelompok yang paling antusias menggunakan Katrol dan mencari informasi mengenai caleg pilihan mereka.
Konsultan dan Pendamping perwakilan Yayasan Anisa Swasti Yogyakarta Umi Asih menuturkan, lembaga swadaya masyarakat tempatnya bekerja selama ini juga terlibat dalam upaya sosialisasi pemilu, utamanya bagi buruh gendong se-DIY. Ia berharap, melalui aplikasi dan buku saku Katrol ini, para buruh gendong bisa menyalurkan hak suara mereka dengan benar.
"Buruh gendong se-DIY memang terpusat di empat pasar besar yakni Beringharjo, Giwangan, Gamping dan pasar Kranggan. Kami perkirakan ada lebih dari 1.000 buruh gendong yang memiliki hak suara. Dan selama ini, hak suara mereka terpakai hanya karena ada instruksi satu arah dari RT atau orang yang dituakan di wilayah mereka. Ini tentu tidak benar karena mereka seharusnya memilih caleg yang dirasa mampu memperjuangkan hak mereka," ujarnya.
Umi menuturkan, aplikasi Katrol memang menjadi hal yang baru bagi para buruh gendong tersebut. Namun alat itu setidaknya akan menjadi sumber informasi mengenai kualitas caleg dan mempermudah pihaknya melakukan sosialisasi.
Apalagi mengingat para buruh gendong kebanyakan adalah kaum perempuan dengan latar belakang pendidikan rendah bisa jadi sasaran empuk politik transaksional.
"Kami tentu akan terus melakukan pendampingan. Kami hanya menginginkan adanya perubahan para buruh gendong ini dalam memilih dan menggunakan hak suaranya. Semoga mulai pemilu 2014 ini mereka bisa menggunakan hak suaranya sesuai keinginan sendiri," imbuhnya.
(lns)