Tantangan terbesar Indonesia adalah atasi utang asing
Minggu, 02 Maret 2014 - 14:21 WIB
Tantangan terbesar Indonesia adalah atasi utang asing
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia saat ini sedang memiliki warisan utang yang sangat besar kepada negara asing. Warisan utang tersebut sudah dimulai pada era Presiden Soeharto.
Hal tersebut dikatakan Ekonom dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Daniel Anzar dalam diskusi pesan kunci dengan tema Indonesia Pasca SBY, di rumah makan Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat.
"Zaman Pak Harto adalah zaman utang. Semuanya dibiayai oleh utang dan eksploitasi besar-besaran," kata Daniel di Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (2/3/2014).
Untuk itu menurut Daniel, tantangan Indonesia setelah dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah melakukan normalisasi terhadap utang-utang yang sudah dipupuk sejak zaman Soeharto.
Salah satu cara untuk melakukan normalisasi utang tersebut yakni, dengan cara mencabut semua subsidi yang pernah diberikan kepada rakyat pada era pemerintahan Soeharto.
"Itu tantangan kita saat ini di era reformasi. Kita harus menekan eksploitasi itu dengan cara menekan tingkat konsumsi masyarakat dan mencabut semua subsidi," pungkas Daniel.
Hal tersebut dikatakan Ekonom dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Daniel Anzar dalam diskusi pesan kunci dengan tema Indonesia Pasca SBY, di rumah makan Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat.
"Zaman Pak Harto adalah zaman utang. Semuanya dibiayai oleh utang dan eksploitasi besar-besaran," kata Daniel di Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (2/3/2014).
Untuk itu menurut Daniel, tantangan Indonesia setelah dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah melakukan normalisasi terhadap utang-utang yang sudah dipupuk sejak zaman Soeharto.
Salah satu cara untuk melakukan normalisasi utang tersebut yakni, dengan cara mencabut semua subsidi yang pernah diberikan kepada rakyat pada era pemerintahan Soeharto.
"Itu tantangan kita saat ini di era reformasi. Kita harus menekan eksploitasi itu dengan cara menekan tingkat konsumsi masyarakat dan mencabut semua subsidi," pungkas Daniel.
(maf)