Amir Syarifuddin dan gerakan anti-Jepang

Selasa, 31 Desember 2013 - 10:38 WIB
Amir Syarifuddin dan...
Amir Syarifuddin dan gerakan anti-Jepang
A A A
GAGALNYA pemberontakan rakyat tahun 1926-1927 sangat merugikan gerakan komunis di Indonesia. Ribuan kaum komunis dibuang ke Digul, ratusan tokohnya ditangkap, dan beberapa di antaranya dihukum mati.

Sejak saat itu, terjadi kekosongan gerakan melawan kolonialisme di Tanah Air. Kekosongan itu langsung di isi kaum nasionalis dan sosialis. Di bawah mata-mata Belanda, gerakan perlawanan dilanjutkan. Namun dengan wajah yang lebih manis.

Di bawah kondisi itu, Amir Syarifuddin Harahap, tokoh komunis bawah tanah yang militan mendirikan Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang berhaluan Marxist dan antifasis.

Sikap Amir itu, sejalan dengan kebijakan Komunis Internasional (Komintern) yang antifasis. Politik Gerindo yang keras terhadap Jepang, menimbulkan stigma partai ini lebih anti terhadap Jepang ketimbang kolonialisme Belanda.

Namun begitu, partai ini langsung mendapatkan perhatian kalangan sosialis dan tokoh komunis bawah tanah untuk bergabung. Dengan cepat, gerakan ini membesar dan tercium oleh mata-mata Belanda.

Sejak itu, Amir menjadi tokoh pemuda dan simbol perlawanan. Gerak geriknya mulai dimata-matai oleh Belanda. Hingga akhirnya dia ditangkap dan dituduh ingin melakukan pemberontakan, seperti kawan-kawannya tahun 1926-1927.

Ternyata, di balik tudingan itu tersimpan keinginan Belanda untuk bekerja sama. Kemudian mereka menawarkan dua opsi terhadap Amir, dibuang ke Digul atau bekerja sama dengan Belanda melawan Jepang. Pihak Belanda yang bertanggung jawab terhadap gerakan bawah tanah itu adalah Residen Jawa Timur Charles van der Plass.

Setelah melalui pertimbangan yang matang dan konsultasi dengan teman-teman komunisnya, Amir pun bersedia bekerja sama dengan Belanda. Keputusan itu diambil sesuai dengan kebijakan Komintern melawan kekuatan fasisme.

Sebagai imbalan, Belanda memberikan modal kepada Amir untuk membangun gerakan bawah tanah sebesar 25.000 gulden. Uang itu, dimanfaatkan Amir untuk membentuk Gerakan Rakyat Antifasis (Geraf) yang berhaluan Marxist antifasis.

Gerakan itu langsung mendapat sambutan kubu sosialis. Namun bersebrangan dengan kubu nasionalis yang lebih memilih untuk bekerja sama dengan Jepang dalam mengusir Belanda.

Baca juga:Amir Syarifuddin dalam bingkai sejarah
(san)
Berita Terkait
RUU HIP, Mahfud MD:...
RUU HIP, Mahfud MD: Komunisme Dilarang di Indonesia Bersifat Final
Sisa-sisa Komunisme...
Sisa-sisa Komunisme di Mutiara Danube
Fadli Zon: Pak Harto...
Fadli Zon: Pak Harto Orang yang Menyelamatkan Indonesia dari Komunisme
Polemik Wikipedia, PDIP:...
Polemik Wikipedia, PDIP: Cerminan Perang Sejarah Bangsa Ini
Pernyataan Tegas HMI...
Pernyataan Tegas HMI Soal Komunisme
PKS: Pancasila Yes,...
PKS: Pancasila Yes, Komunisme No
Berita Terkini
Pengadilan Negeri Jakarta...
Pengadilan Negeri Jakarta Timur Larang Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Mensesneg Jelaskan Maksud...
Mensesneg Jelaskan Maksud Prabowo terkait 4 Kali Kalah Pemilu Tak Ganggu Pemegang Mandat
Salam Prabowo Disampaikan...
Salam Prabowo Disampaikan Jumhur, Raja Charles Beri Pujian untuk Indonesia
Prabowo Singgung Pihak...
Prabowo Singgung Pihak Bikin Gaduh usai Pemilu: Kapan Kita Mau Menuju Kesejahteraan untuk Rakyat?
Ajukan Kasasi, Kuasa...
Ajukan Kasasi, Kuasa Hukum Harap MA Vonis Bebas Kerry Anak Riza Chalid
Jokowi Pede PSI Masuk...
Jokowi Pede PSI Masuk Parlemen Senayan di Pemilu 2029
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved