Indonesia menganut sistem pemerintahan gado-gado

Rabu, 13 November 2013 - 10:02 WIB
Indonesia menganut sistem...
Indonesia menganut sistem pemerintahan gado-gado
A A A
Sindonews.com - Sistem pemerintahan Indonesia sekarang semakin sulit dipahami. Pasalnya, Indonesia menganut banyak partai (multi partai).

Sistem pemerintahan atau sistem demokrasi semakin terbentur dengan pola pembagian kekuasaan. Tarik ulur kepentingan masih terletak pada kekuasaan presidensial atau fungsi kontrol parlementar.

Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta Bachtiar Effendi, sistem pemerintahan sejak reformasi lalu susah ditetapkan sebagai sistem pemerintahan yang kuat.

Kemenangan mutlak hampir 60 persen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada pemilu 2009 lalu, harusnya SBY berdiri sebagai penguasa bebas dari kemauan parlemen (DPR RI). Tetapi, SBY justru dilemahkan dengan suasana politik parlemen.

"Sistemnya jangan presidensial. Ini kan gado-gado. Masa sistemnya presidensial tapi praktiknya politik parlementer," kata Bachtiar kepada Sindonews, Jakarta, Rabu (13/11/2013).

Dalam Undang-undang paket pemilu bentukan DPR RI beberapa waktu lalu, seseorang bisa menjadi presiden setelah memperoleh jumlah suara minimal 30 persen perolehan suara partai secara nasional.

Kata Bachtiar, sistem mengharuskan partai yang tak masuk dalam 30 persen, terpaksa harus menjalin koalisi. "Itu karena aturan-aturan presidensial, idealnya itu empat atau lima partai," ujarnya.

Selain itu, persyaratan 20 persen parliamentary treshold juga semakin menyulitkan posisi presiden, dalam sistem pemerintahan Indonesia.

Menurutnya, sekalipun SBY menang mutlak, tetapi kekuatan partai koalisi lebih dominan bahkan menjadi batu sandungan dalam pemerintahannya.

"Jadi aturan-aturan parlementer itu bukan aturan presidential. Ada parliamentary treshold, ada electoral treshold. Pokoknya yang treshold-treshold banyak sekali," tambahnya.

Baca di sini untuk Indonesia gunakan sistem feodal.
(stb)
Berita Terkait
Pemerintah Belum Tuntaskan...
Pemerintah Belum Tuntaskan Hak 2.747 Penyelenggara Pemilu 2014
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Bayar Uang Penghargaan Penyelenggara Pemilu 2014
Kebocoran Data Pemilih...
Kebocoran Data Pemilih Pemilu 2014, Ini Kata KPU DIY
Capaian Partai Gerindra...
Capaian Partai Gerindra di Pemilu 2009, 2014, dan 2019
Peretas Diduga Bobol...
Peretas Diduga Bobol Data Pemilih Pemilu 2014 Melalui KPU
Data Pemilih Pemilu...
Data Pemilih Pemilu 2014 Diduga Dibobol, Termasuk DPT Bantul
Berita Terkini
Gugatan Paulus Tannos...
Gugatan Paulus Tannos di Singapura Ditolak, KPK: Percepat Proses Ekstradisi ke Indonesia
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Silmy di Jalan Brawijaya Jaksel
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Infografis
8 PTS Terbaik Indonesia...
8 PTS Terbaik Indonesia Masuk THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved