Ini cikal bakal hegemoni bisnis dan dinasti politik Atut

Sabtu, 12 Oktober 2013 - 16:24 WIB
Ini cikal bakal hegemoni...
Ini cikal bakal hegemoni bisnis dan dinasti politik Atut
A A A
Sindonews.com - Juru Bicara Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, Fitron Nur Ikhsan, membeberkan cikal bakal hegemoni bisnis dan dinasti politik yang dibangun keluarga Ratu Atut.

Menurutnya, pembangunan politik dinasti Banten yang dilakukan oleh keluarga Ratu Atut tak berlangsung singkat, melainkan bertahap, terjal, dan penuh hambatan.

Fitron mengungkapkan, hegemoni bisnis dan politik gubernur yang akrab disapa Atut di Banten dimulai dari penguasaan aset ekonomi yang sangat melimpah. Pembangunan kerajaan bisnis dimulai sejak zaman Chasan Sochib yang juga sebagai ayah kandung Atut.

"Kenapa keluarga Atut begitu kuat di Banten? Karena sang ayah, Chasan Sochib mempunyai usaha besar yang bernaung di bawah PT Ciomas Raya. Pada tahun 1970, PT tersebut mendapat proyek senilai ratusan juta rupiah. Sejak saat itulah, keluarga Atut dipandang sebagai keluarga berpengaruh. Ini fakta, ini pernah diungkap oleh media nasional," kata Fitron, dalam Polemik SINDO Trijaya, di Cikini, Jakarta, Sabtu (12/10/2013).

Dikatakan Fitron, hegemoni dan cengkraman kerajaan bisnis dan politik Atut semakin menguat pasca reformasi 1998. Angin perubahan tersebut ternyata menjadi pijakan awal bagi bercokolnya dinasti Atut di wilayah paling barat Pulau Jawa itu.

Salah satu tuntutan utama dari reformasi, adalah proses pemilihan kepala daerah secara langsung. Sistem pemilihan tersebut dipandang sangat ideal dan mewakili aspirasi rakyat. Berbekal modal kapital dan pengaruh kharismatik tradisional, Atut bersama sang ayah mulai memperluas pengaruh. Sebagai instrumen awalnya adalah meraih kemenangan dalam setiap ajang pemilukada di provinsi Banten.

"Selain modal kapital kuat, keluarga Atut juga dikenal sebagai keluarga Jawara yang disegani seantero Banten. Jawara tersebut dipelihara oleh sang ayah sampai pada tataran paling rendah, di tingkat desa. Jawara itu sebagai basis akar rumput," jelas Fitron.

Dikonfirmasi terkait para jawara Banten yang berhasil digalang Almarhum Chasan Sochib, menurut Fitron, jawara dikatakan merupakan warisan budaya lokal berupa kepandaian dalam ilmu bela-diri, kemahiran menggunakan senjata. Ia juga menerangkan, praktik jawara tidak identik dengan kekuatan supranatural, semisal, santet, tenung, dan pelet.

"Ini kan local wisdom yang kita lestarikan, ada silat, debus, dan jaipong semua itu kan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Jadi kita harus fair dalam melihat persoalan tersebut. Jangan lantas dijustifikasi semuanya salah," ujar Fitron.

Baca juga berita Dinasti Atut berhak menjabat.
(lal)
Berita Terkait
Gugatan Jaksa Dipecat...
Gugatan Jaksa Dipecat Karena Korupsi Ditolak Mahkamah Konstitusi
Perbedaan Mahkamah Konstitusi...
Perbedaan Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung
Menjaga Martabat Mahkamah...
Menjaga Martabat Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Konstitusi...
Mahkamah Konstitusi Kembali Diuji
Menimbang Mahkamah Konstitusi...
Menimbang Mahkamah Konstitusi Hari Ini
Mahkamah Konstitusi...
Mahkamah Konstitusi dalam Pusaran Politik
Berita Terkini
Nanik S Deyang Merapat...
Nanik S Deyang Merapat ke Istana, Mau Lapor Efisiensi Anggaran MBG
Prabowo Bakal Bertemu...
Prabowo Bakal Bertemu JK
MUI Desak Pemerintah-DPR...
MUI Desak Pemerintah-DPR Rumuskan Regulasi Soal LGBT: Harus Lebih Berat dari Perzinaan!
Perkuat Gerak Pelayanan,...
Perkuat Gerak Pelayanan, PKB Jabar Gelar PKBFest
KPK Tetapkan 4 Tersangka...
KPK Tetapkan 4 Tersangka terkait OTT BPK, Salah Satunya Bupati Muara Enim Edison
Mendagri Minta Tambahan,...
Mendagri Minta Tambahan, Total Pagu Anggaran 2027 Rp10 Triliun
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved