Jokowi tak bisa dongkrak popularitas kader PDIP
Senin, 09 September 2013 - 10:31 WIB
Jokowi tak bisa dongkrak popularitas kader PDIP
A
A
A
Sindonews.com - Gubernur DKI Jakarta yang juga kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Joko Widodo (Jokowi), memang tengah berada di masa popularitas dan elektabilitasnya. Namun hal itu tidak mampu menyedot suara pemilih di berbagai daerah.
Hal itu diungkapkan Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro. Menurutnya, kendati Jokowi ikut dalam kampanye di sejumlah daerah, untuk mendukung calon kepala daerah yang diusung PDIP. Namun, partai bentukan Megawati Soekarnoputri ini tidak bisa unggul meraih simpati masyarakat.
"Dari sejumlah pilkada dimana Jokowi ikut hadir sebagai juru kampanye, tak menunjukkan adanya relasi positif antara kemenangan calon yang diusung PDIP dengan kehadiran Jokowi," jelas Siti Zuhro saat dihubungi, Senin (9/9/2013).
Dengan fenomena ini, kata dia, menunjukkan setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik dan kekhasannya masing-masing tanpa bisa dipengaruhi dengan kehadiran Jokowi.
"Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya. Bila Jateng (Jawa Tengah) bisa dimenangkan PDIP, itu lebih pada faktor Ganjar Pranowo yang bisa menawarkan perubahan bagi Jateng," imbuhnya.
Wanita yang akrab disapa Wiwieq ini menjelaskan, Jokowi bisa dijadikan mesin partai untuk mendongkrak elektabilitas PDIP.
Kendati demikin, pria asal Solo ini tidak dapat meningkatkan elektabilitas kader PDIP di daerah dalam berbagai pemilukada.
"Artinya, Jokowi memang untuk Jokowi dan Jokowi bisa jadi mesin pendongkrak bagi elektabilitas PDIP, sebagai institusi yang dipercaya rakyat. Tapi bukan untuk meningkatkan elektabilitas kader PDIP," tuntasnya.
Hal itu diungkapkan Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro. Menurutnya, kendati Jokowi ikut dalam kampanye di sejumlah daerah, untuk mendukung calon kepala daerah yang diusung PDIP. Namun, partai bentukan Megawati Soekarnoputri ini tidak bisa unggul meraih simpati masyarakat.
"Dari sejumlah pilkada dimana Jokowi ikut hadir sebagai juru kampanye, tak menunjukkan adanya relasi positif antara kemenangan calon yang diusung PDIP dengan kehadiran Jokowi," jelas Siti Zuhro saat dihubungi, Senin (9/9/2013).
Dengan fenomena ini, kata dia, menunjukkan setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik dan kekhasannya masing-masing tanpa bisa dipengaruhi dengan kehadiran Jokowi.
"Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya. Bila Jateng (Jawa Tengah) bisa dimenangkan PDIP, itu lebih pada faktor Ganjar Pranowo yang bisa menawarkan perubahan bagi Jateng," imbuhnya.
Wanita yang akrab disapa Wiwieq ini menjelaskan, Jokowi bisa dijadikan mesin partai untuk mendongkrak elektabilitas PDIP.
Kendati demikin, pria asal Solo ini tidak dapat meningkatkan elektabilitas kader PDIP di daerah dalam berbagai pemilukada.
"Artinya, Jokowi memang untuk Jokowi dan Jokowi bisa jadi mesin pendongkrak bagi elektabilitas PDIP, sebagai institusi yang dipercaya rakyat. Tapi bukan untuk meningkatkan elektabilitas kader PDIP," tuntasnya.
(stb)