Tantangan PT DI

Rabu, 04 September 2013 - 06:41 WIB
Tantangan PT DI
Tantangan PT DI
A A A
SENYUM semringah tengah menaungi PT Dirgantara Indonesia (DI). Perusahaan kebanggaan bangsa ini kini memasuki masa tinggal landas untuk menjemput kejayaan yang pernah mereka rasakan di era sebelumnya.

Tidak ada lagi wajah masam dan demonstrasi menuntut pembayaran gaji seperti mewarnai hari-hari pascaperusahaan plat merah tersebut tersungkur karena menjadi korban politik International Monetary Fund (IMF). Intervensi IMF yang merupakan bagian dari paket restrukturisasi krisis ekonomi 1997 bukan hanya mengandaskan program N250 yang tinggal selangkah lagi akan menjadi penguasa dirgantara di kelasnya serta membenamkan ambisi BJ Habibie untuk membangun N-2130,
melainkan juga memaksa ratusan tenaga ahli pergi ke luar negeri untuk menyambung hidup dan sebagian memilih bertahan dengan risiko hidup pas-pasan.

Tapi, cerita muram tersebut perlahan mulai tinggal kenangan. Saat ini perusahaan yang bermarkas di Bandung tersebut sudah bisa tersenyum lebar. PT DI bahkan kini kebanjiran order pesawat, terutama dari Kementerian Pertahanan. Kebijakan pemerintah yang memprioritaskan penggunaan alutsista dalam negeri telah menjadi dewa penolong yang membangkitkan kinerja PT DI.

Informasi terbaru, PT DI baru saja mendapat pesawat pesanan membuat 11 helikopter antikapal selam dari TNI Angkatan Laut. Helikopter jenis AS565 MB Panther buatan Eurocopter akan dibikin di Indonesia. Pada saat yang sama, PT DI juga mendapat pesanan membuat 12 helikopter multiperan AS350 Ecureuil yang juga dari Eurocopter. Melalui kerja sama itu pula, PT DI kini tengah membangun tujuh helikopter EC-725 Cougar varian Combat SAR and Personal Recovery, sejumlah CN-235 MPA, dan delapan CN-295.

Di luar pesanan lain, PT DI juga mendapat pesanan membuat helikopter dan pesawat dari sejumlah negara dan komponen dari pabrikan utama dunia seperti Airbus dan Boeing. Untuk pesawat, PT DI pada 2013 ini sudah menarget penjualan senilai Rp3,47 triliun. Jumlah tersebut lebih besar dari pencapaian penjualan pada 2012 sebesar Rp2,7 triliun. Selain itu, PT DI pun menargetkan pencapaian kontrak pembuatan pesawat terbang, servis, pesanan komponen, dan alutsista engineeringsebesar Rp4,24 triliun.

Banjir pesanan tentu menjadi berkah bagi PT DI. Tetapi, di balik itu sekaligus menjadi tantangan, terutama bagaimana bisa menyelesaikan seluruh pesanan tepat waktu dengan kualitas terbaik. Jika tidak, kredibilitas PT DI akan menjadi taruhannya. Minimnya tenaga ahli sudah diatasi dengan merekrut 1.500 tenaga kerja baru. Tapi, menggembleng mereka tentu butuh waktu.

Karena itu, PT DI hendaknya kembali merangkul para ahli yang tersebar di berbagai negara agar mau balik ke Tanah Air dan bersama kembali membangun perusahaan yang pernah bernama IPTN. Banyaknya pesanan jangan membuat PT DI terlena untuk berinovasi dan mengembangkan rancang bangun sendiri karena bagaimanapun berbagai proyek yang tengah dikerjakan bukanlah murni karya anak bangsa. Proyek N-219 bisa menjadi pintu masuk untuk kembali membangun kepercayaan diri.

Apalagi, beberapa pihak sudah memesan, termasuk 100 pesanan dari Lion Air. Target selanjutnya, PT DI juga berpikir bagaimana kembali menghidupkan N-250. Pesawat turboprop ini sangatlah sesuai dengan kebutuhan penerbangan di Tanah Air karena sangat irit dan cocok untuk penerbangan jangka pendek. Sebagai perbandingan, ATR jenis 72 dan 42 yang lahir setelah IMF membenamkan N-250 hingga kini berhasil menjual lebih dari 1.500 unit.

Selanjutnya tentu bagaimana PT kembali menghidupkan N-2130. Semua harapan itu bukanlah mimpi. Talenta yang diberikan Tuhan kepada anak bangsa untuk menguasai industri dirgantara merupakan anugerah yang harus dimanfaatkan dan dikembangkan bangsa ini. Pertumbuhan ekonomi yang kian membaik serta kesadaran pemerintah dan swasta untuk mendorong terwujudnya kebanggaan nasional juga modal yang sangat berharga untuk meraih mimpi tersebut. Semoga.
(nfl)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
5 Pangdam Lulusan Akmil...
5 Pangdam Lulusan Akmil 1997 Teman Satu Angkatan Danpaspampres Mayjen Edwin Adrian Sumantha
Ketua BEM FH UBK Akui...
Ketua BEM FH UBK Akui Terima Rp20 Juta, DPR: Polri Harus Investigasi
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Jalani Sidang Pembacaan Dakwaan Hari Ini
Program Binawan Eropa...
Program Binawan Eropa Antarkan 36 Perawat Indonesia Berkarier di Eropa
Roy Suryo Tegaskan Jokowi...
Roy Suryo Tegaskan Jokowi Harus Hadir di Pengadilan: Nggak Boleh Mengakali dengan Zoom
Jalur Medan-Berastagi...
Jalur Medan-Berastagi Tak Lagi Memadai
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved