Ramadan menempa lahirnya pemimpin bangsa

Selasa, 30 Juli 2013 - 16:38 WIB
Ramadan menempa lahirnya...
Ramadan menempa lahirnya pemimpin bangsa
A A A
OPTIMALISASI ibadah di bulan Ramadan tentu tak sekadar dimaknai secara privat sebagai totalitas penghambaan kepada Allah (ubudiyah). Substansi yang tak boleh dilupakan dalam Ramadan adalah nilai keprihatinan merasakan penderitaan fakir miskin, anak yatim, dan masyarakat yang masih jauh dari kategori layak hidup.

Derajat Ramadan di ruang sosial inilah justru menjadi pesan profetik yang niscaya direalisasikan oleh setiap mukmin. Pesan profetik dalam konteks kearifan sosial ini, segaris dengan peran manusia sebagai pemimpin di muka bumi (khalifatun fil ardhi). Karena itu, pengendalian diri, kesabaran, dan kejujuran menjadi bagian integral dari aspek-aspek penempaan diri di kawah candradimuka Ramadan.

Terjadi integrasi proporsional antara kepekaan sosial dan dimensi penempaan diri itu dalam konteks melahirkan sosok pemimpin transformasional. Dari momentum penempaan diri di bulan Ramadan ini, kita sangat optimistis akan mampu lahir kaderkader pemimpin dengan mentalitas transformasional, dengan catatan jika spirit Ramadan dibawa terus-menerus hingga datangnya Ramadan tahun depan.

Dan, demikian seterusnya. Tipologi pemimpin transformasional ini memang susah dicari, tetapi memang harus dilahirkan. Hanya kondisilah yang melahirkan pemimpin semacam ini. Dan sekali lagi, Ramadan adalah kondisi yang potensial bagi lahirnya generasi pemimpin masa depan, yakni pemimpin yang bertipe transformasional tersebut.

Karakter kepemimpinan ini akan menghasilkan perubahan ke arah lebih luas, tinggi, dan mendalam. Kata kunci dari segenap keputusan adalah berapa jauh sebanyak mungkin pihak mengalami pertumbuhan. Dia adalah seorang pemimpin yang mampu mengantarkan rakyatnya ke dalam suatu kesadaran yang lebih tinggi dan dinamis.

Kelebihan-kelebihan kepemimpinan transformasional dan kaitannya dengan paradigma-paradigma kekinian dikemukakan berbagai kalangan. Para pengembang teori kepemimpinan mengidentifikasi pendekatan transformatif sebagai pendekatan kepemimpinan abad ke-21.

Dalam konteks tersebut, kepemimpinan transformatif digambarkan sebagai bentuk kepemimpinan yang mampu meningkatkan komitmen stafnya, mengomunikasikan suatu visi dan implementasinya, memberikan kepuasan dalam bekerja, dan mengembangkan fokus yang berorientasi pada rakyat. Lantas, seperti apa konstruksi tipologis pemimpin transformasional itu?

Pertama, transformasi spiritual. Spiritualitas adalah “kekuatan dalam” (inner power) yang menggerakkan seorang pemimpin agar konsisten merambah jalan kebenaran.

Rancang bangun peradaban sebuah bangsa akan semakin kukuh bila desain oleh pemimpin dengan kecerdasan spiritual tinggi. Sebaliknya, keruntuhan sebuah peradaban dilatari oleh faktor hilangnya dimensi spiritualitas pemimpinnya.

Danah Zohar membuktikan, kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) akan berdampak pada kecerdasan pikir, ketenangan sikap, dan pembentukan karakter seorang pemimpin.

Kedua, transformasi intelektual. Ia sejatinya adalah pengayaan diri (personal ability) yang mutlak dimiliki oleh pemimpin. Seorang pemimpin transformatif niscaya berkemampuan multidisipliner dan berpengetahuan luas.

Ketiga, transformasi keberpihakan sosial. Kecermatan dan kejelian membaca realitas sosiokultural rakyat dengan serangkaian perbedaan background dibutuhkan untuk mengasah kepekaan krisis (sense of crisis) dan kearifan sosial (social wisdom). Ini akan membentuk karakter pemimpin yang benar-benar mempunyai kesadaran sosial (social consciousness) tinggi.

Keempat, transformasi transnasional. Di mata negara lain, daya tawar Indonesia merosot drastis. Prestasi internasional yang pernah diukir Soekarno dan para founding father seolah tenggelam dimakan waktu. Memang tidak mudah menjadi memimpin bangsa ini. Apalagi, memimpin negeri yang besar dan plural di tengah-tengah akutnya permasalahan bangsa. Rakyat menghendaki pergeseran dari pemimpin transaksional ke transformatif.

Rakyat sudah bosan dengan teatrikal luaran dan merindukan kedalaman mata hati pemimpinnya. Pada akhirnya, Ramadan harus kita maksimalkan untuk menempa diri, mendisiplinkan hati, mendidik keluarga, dam mendidik masyarakat dalam rangka menata mentalitas transformasional.

KHATIBUL UMAM WIRANU
Anggota Komisi III DPR
(hyk)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Prabowo Pimpin Upacara...
Prabowo Pimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila
Prabowo Tiba di Kantor...
Prabowo Tiba di Kantor Kemhan Jelang Upacara Persemayaman Ryamirzad Ryamizard Ryacudu
Lewat Pameran Filateli,...
Lewat Pameran Filateli, Wali kota Agustina dan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon Tegaskan Pentingnya Merawat Memori Bangsa
Apa Itu Amicus Curiae?...
Apa Itu Amicus Curiae? Istilah yang Muncul di Sidang Kasus Chromebook Nadiem Makarim
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin...
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Pimpin Upacara Pemakaman Jenazah Ryamizard Ryacudu di TMP Kalibata
Usai Puncak Haji, Kemenhaj...
Usai Puncak Haji, Kemenhaj Siapkan Fase Kepulangan Jemaah ke Tanah Air
Infografis
Jadwal Imsakiyah Ramadan...
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H, Selasa 3 Maret 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved