Partai Golkar berpeluang menang pemilu, Ical belum tentu
Minggu, 23 Juni 2013 - 07:02 WIB
Partai Golkar berpeluang menang pemilu, Ical belum tentu
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Umum Partai Golongan Karya Aburizal Bakrie optimis partainya akan memenangkan Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif dan Pilpres 2014. Namun optimisme ini harus melihat kondisi nyata di masyarakat.
"Kalau Aburizal Bakrie lalu bilang optimis, ya mesti begitu, dia kan ketua umumnya," ujar Pengamat Politik dari Universitas Gadjah Mada Ichlasul Amal, kepada Sindonews, Minggu (23/6/2013).
Dia mengatakan, Golkar berpotensi meraih suara tinggi pada pemilu mendatang, namun Ketua Umum Golkar yang akrab disapa Ical itu belum tentu akan bernasib sebaik partainya.
"Walaupun Golkar suaranya naik, itu tidak berarti otomatis Aburizal Bakrie menjadi presiden," kata Guru Besar Universitas Gadjah Mada ini.
Hal yang menghambat kemenangan Ical dalam pilpres bukan karena partai yang dipimpinnya mendukung pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, namun lebih kepada stigma Ical terhadap masa lalunya.
"Yang agak sulit karena Aburizal Bakrie stigma lamanya banyak sekali kelemahannya. Dulu kan Aburizal Bakrie Menko Perekonomian, itu banyak pengusaha tidak setuju, kemudian dia digeser jadi Menko Kesra. Menko Perekonomiannya diganti Boediono," ucap Ichlasul mengingatkan.
Lebih lanjut dia mengatakan, kasus lumpur Lapindo juga semakin mengganjal langkah Ical untuk meraih suara tinggi di Jawa Timur pada pilpres nanti. Ditambah dengan korporasi perusahaan Bakrie yang kini tengah diambang kerugian.
"Termasuk Lapindo itu yang paling sulit, kemudian perusahaannya juga lagi agak bangkrut, pada hal kekuatan Bakrie itu kan dari kekayaannya," kata dia.
"Kalau Aburizal Bakrie lalu bilang optimis, ya mesti begitu, dia kan ketua umumnya," ujar Pengamat Politik dari Universitas Gadjah Mada Ichlasul Amal, kepada Sindonews, Minggu (23/6/2013).
Dia mengatakan, Golkar berpotensi meraih suara tinggi pada pemilu mendatang, namun Ketua Umum Golkar yang akrab disapa Ical itu belum tentu akan bernasib sebaik partainya.
"Walaupun Golkar suaranya naik, itu tidak berarti otomatis Aburizal Bakrie menjadi presiden," kata Guru Besar Universitas Gadjah Mada ini.
Hal yang menghambat kemenangan Ical dalam pilpres bukan karena partai yang dipimpinnya mendukung pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, namun lebih kepada stigma Ical terhadap masa lalunya.
"Yang agak sulit karena Aburizal Bakrie stigma lamanya banyak sekali kelemahannya. Dulu kan Aburizal Bakrie Menko Perekonomian, itu banyak pengusaha tidak setuju, kemudian dia digeser jadi Menko Kesra. Menko Perekonomiannya diganti Boediono," ucap Ichlasul mengingatkan.
Lebih lanjut dia mengatakan, kasus lumpur Lapindo juga semakin mengganjal langkah Ical untuk meraih suara tinggi di Jawa Timur pada pilpres nanti. Ditambah dengan korporasi perusahaan Bakrie yang kini tengah diambang kerugian.
"Termasuk Lapindo itu yang paling sulit, kemudian perusahaannya juga lagi agak bangkrut, pada hal kekuatan Bakrie itu kan dari kekayaannya," kata dia.
(lal)