Harapan baru mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia

Selasa, 19 Maret 2013 - 06:53 WIB
Harapan baru mewujudkan...
Harapan baru mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia
A A A
Kardinal Jorge Mario Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires, terpilih sebagai Paus, Rabu (13/3/2013), dalam konklaf hari kedua. Ia adalah Paus pertama dari Amerika Latin dan merupakan Paus pertama yang bukan berasal dari kawasan Eropa.

Paus Fransiskus menggantikan Paus Benediktus XVI. Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) menyambut baik terpilihnya Kardinal Jorge Mario Bergoglio. Paus Fransiskus merupakan pilihan terbaik untuk perkembangan gereja Katolik di masa mendatang dan menjadi figur harapan baru untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia.

Dengan terpilihnya Bapak Suci ini memberi harapan bagi negara berkembang khususnya Indonesia, Amerika Latin dan Afrika termasuk Asia. Terutama karena Paus Fransiskus dikenal sebagai Paus yang sederhana, Paus kaum buruh, pejuang kemanusiaan dan keadilan. Paus yang dalam kesehariannya sering naik kendaraan umum, rumahnya juga sederhana dan dekat dengan kalangan miskin.

Harapan utama kita agar Bapak Suci ini membawa perubahan baru bagi Gereja, sebagaimana sosok Paus Yohanes Paulus II yang karismatik. Dengan Paus Fransiskus, kita berharap arah pastoral Gereja akan terfokus pada persoalan keadilan dan perdamaian. Tata dunia baru sebagaimana yang dikatakan Paus Yohanes Paulus II akan menjadi nyata. Kita bisa banyak belajar dari terpilihnya Paus Fransiskus ini.

Yang paling utama bahwa pemimpin agama seharusnya memberikan teladan yang baik untuk menciptakan perubahan. Teladan yang baik menjadi salah satu ciri yang harus dimiliki. Itu merupakan sumber kesaksian hidup para pemimpin yang dapat menularkan dan menggerakkan orang muda. Apalagi, saat ini dapat kita saksikan publik lebih simpatik terhadap figur pemimpin yang punya kesatuan dan kesesuaian antara kata dan perbuatan. Ini bisa kita pelajari juga pada masa Paus Yohanes Paulus II.

Dia memberi keteladanan yang baik dan keberanian, sehingga banyak orang muda waktu itu yang tertarik padanya. Keteladanan itulah yang menggerakkan orang muda. Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa para pemimpin agama harus bisa menjadi contoh untuk kaum muda.

Kata dengan perbuatan mereka harus satu visi. Pemimpin agama juga harus berani mengambil jarak dengan kekuasaan sehingga ada keberanian untuk mengkritik kebijakan negara jika ada salah. Selain itu seorang pemimpin harus bisa menjadi oase kedamaian.

Mengembangkan Dialog

Berbagai agenda pun sudah menanti Paus baru. Salah satunya tetap mengembangkan dan meningkatkan dialog antaragama. Dialog dibutuhkan bagi dunia yang saat ini menghadapi berbagai macam persoalan. Dialog amat penting dilakukan dalam menghadapi keangkuhan kapitalisme global yang sering kali mereduksi isu kemanusiaan, dan ketika kemanusiaan tidak lagi melekat sebagai cara pandang utama negara maju dalam melihat negara miskin.

Dibutuhkan cara pandang baru mengenai manusia. Manusia bukanlah semata-mata alat ekonomi/produksi melainkan manusia harus diperlakukan dalam segala aspeknya. Kemanusiaan adalah paradigma dasar bagi kebersamaan untuk mengembangkan keharmonisan antara majuterbelakang, miskinkaya, mayoritas-minoritas, serta tertindas-penguasa. Dalam kemanusiaan itu, manusia mampu menemukan akar kebersamaan sejati.

Kemanusiaan pula yang akan menjadi dasar dalam membangundialog antaragama, yang sering mudah diucapkan tapi sulit direalisasikan. Dialog antaragama akan berkembang dan menemukan tujuannya yang tepat bila orientasinya terarah pada problem-problem kemanusiaan yang dihadapi manusia saat ini. Di abad komunikasi ini, dunia mengalami pergeseran orientasi nyata ketika nilai-nilai kebersamaan bergerak secara revolusioner menuju individualisme.

Perubahan ini membawa akibat orientasi kemanusiaan semakin menipis. Masyarakat cenderung hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, agama, dan kelompoknya sendiri. Dapat ditebak pasti, kecenderungan ini dikhawatirkan akan menguatkan sentimen pribadi, keagamaan dan kesukuan. Kenyataan itu membuat dialog antaragama sulit menjawab persoalan-persoalan global, seperti hancurnya peradaban manusia.

Hancurnya peradaban itu menyebabkan manusia semakin terasing dengan dirinya dan lingkungan sekitar. Lingkungan hidup tidak lagi menjadi tempat tinggal yang damai, karena tanah, air, udara mulai tercemar mulai dari limbah fisik sampai nonfisik. Persaudaraan tidak lagi menjadi bagian hidup dalam menjalin relasi dengan sesama. Relasi hanya ditentukan oleh transaksi uang dan kekuasaan. Siapa kuat ia menang, persis ketika zaman manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya.

Krisis Global

Kalangan agamawan tidak bisa tinggal diam untuk terus berperan dalam mencegah krisis global. Selain itu, juga untuk menegaskan keberpihakan kepada kaum lemah. Globalisasi telah membuat yang lemah kian tersingkir. Globalisasi telah menjadi agama baru manusia modern. Seolah tidak ada yang bisa menolak. Seolah harus dipandang sebagai sebuah keniscayaan. Jika memang demikian, bagaimana agama berperan melindungi kaum miskin yang pasti hancur akibat globalisasi ini?

Globalisasi bisa membawa kemajuan bila di dalamnya terdapat keadilan dan cinta kasih. Namun jika diorientasikan semata-mata untuk perolehan keuntungan dan persaingan, serta penghambaan buta kepada uang, maka globalisasi akan menjadi malapetaka karena hilang aspek keadilannya Ini tugas agama secara bersama- sama untuk memikirkan kembali tugas barunya, yakni menjawab persoalan yang dihadapi demi menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran.

Agama harus bersatu untuk memikirkan alternatif baru membangun tata dunia baru. Tata dunia yang ada sekarang adalah tata dunia ketidakadilan dan eksploitasi. Tata dunia seperti inilah yang membuat radikalisme agama akan muncul. Radikalisme hanya diatasi bila agama bersatu untuk merumuskan etika bersama.

Etika itu menyangkut nilai-nilai kebersamaan yang orientasinya adalah memberdayakan kaum miskin dan tertindas. Kemiskinan itulah musuh bersama kaum beragama. Kemiskinan itulah yang membuat kemanusiaan tak berdaya menghadapi persaingan dunia. Di sini agama dituntut untuk mengubah wajahnya bukan lagi doktrinal, yang sibuk dengan klaim kebenaran.

Agama harus mengubah wajahnya menjadi lebih profetis terhadap persoalan kehidupan manusia yang kompleks. Pengakuan ini penting demi terwujudnya dunia yang baru tanpa prasangka buruk terhadap yang lain. Cita-cita inilah seharusnya dijadikan titik temu dalam membangun kebersamaan. Hans Kung mengatakan tiada perdamaian sejati tanpa perdamaian di dalam agama itu sendiri. Semoga pertemuan merajut kebersamaan ini. ●

BENNY SUSETYO
Rohaniwan, Sekretaris Eksekutif
Komisi HAK KWI
(mhd)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Revisi UU Polri: Batas...
Revisi UU Polri: Batas Usia dan Syarat Anggota Kompolnas Diusulkan Lebih Fleksibel
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved