Demi kepentingan SBY, KPK pecah dua kubu
Minggu, 17 Februari 2013 - 07:41 WIB
Demi kepentingan SBY, KPK pecah dua kubu
A
A
A
Sindonews.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah pecah menjadi dua kubu. Pasalnya, demi kepentingan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk melengserkan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dari jabatannya.
"Itu ada penekanan dari kubu SBY. Makanya di KPK juga ada dua kubu yang pro SBY dan kontra dengan SBY. SBY memukul Anas lewat tangan KPK yaitu (Ketua KPK) Abraham Samad," kata Pengamat Politik Universitas Indonesia Budiatna saat dihubungi Sindonews, Minggu (17/2/2013).
Pada kesempatan itu, dia mengatakan, ada beberapa pimpinan yang tidak mau diintervensi oleh SBY untuk menetapkan status Anas di proyek Hambalang sebagai tersangka.
"Sedangkan BW (Bambang Widjojanto) dan Busyro (Muqoddas) itu orang yang tidak mau diintervensi oleh SBY. Mangkanya dia tidak mau menandatangani sprindik (surat perintah penyidikan) itu," tukasnya.
Maka itu, dia mencurigai, kebocoran sprindik tersebut bukanlah orang luar dari lembaga antikorupsi tersebut. Melainkan memang orang dalam yang melakukan itu.
"Yang membocorkan (sprindik) itu juga orang dalam KPK, tidak mungkin orang luar," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, SBY secara tegas meminta KPK untuk segera menuntaskan sejumlah kasus yang menimpa kader Partai Demokrat, termasuk Ketua Umumnya Anas Urbaningrum.
Kata SBY, jika seorang kader partai berlambang mercy itu dinyatakan bersalah, pihaknya akan menerima kenyataan tersebut. Namun, jika seorang kader partai Demokrat itu dinyatakan tak bersalah, pihaknya ingin dijelaskan, mengapa dinyatakan tak bersalah.
"Jika salah, ya kita terima memang salah. Kalau tidak salah, kami juga ingin tahu kalau itu tidak salah. Termasuk Ketua Umum PD, Anas Urbanigrum yang juga diperiksa dan dicitrakan publik secara luas di tanah air sebagai bersalah atau terlibat dalam korupsi ini, meskipun KPK belum menentukan hasil pemeriksaan," ujar Presiden SBY di Jeddah, Arab Saudi, Senin 4 Februari 2013 lalu.
"Itu ada penekanan dari kubu SBY. Makanya di KPK juga ada dua kubu yang pro SBY dan kontra dengan SBY. SBY memukul Anas lewat tangan KPK yaitu (Ketua KPK) Abraham Samad," kata Pengamat Politik Universitas Indonesia Budiatna saat dihubungi Sindonews, Minggu (17/2/2013).
Pada kesempatan itu, dia mengatakan, ada beberapa pimpinan yang tidak mau diintervensi oleh SBY untuk menetapkan status Anas di proyek Hambalang sebagai tersangka.
"Sedangkan BW (Bambang Widjojanto) dan Busyro (Muqoddas) itu orang yang tidak mau diintervensi oleh SBY. Mangkanya dia tidak mau menandatangani sprindik (surat perintah penyidikan) itu," tukasnya.
Maka itu, dia mencurigai, kebocoran sprindik tersebut bukanlah orang luar dari lembaga antikorupsi tersebut. Melainkan memang orang dalam yang melakukan itu.
"Yang membocorkan (sprindik) itu juga orang dalam KPK, tidak mungkin orang luar," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, SBY secara tegas meminta KPK untuk segera menuntaskan sejumlah kasus yang menimpa kader Partai Demokrat, termasuk Ketua Umumnya Anas Urbaningrum.
Kata SBY, jika seorang kader partai berlambang mercy itu dinyatakan bersalah, pihaknya akan menerima kenyataan tersebut. Namun, jika seorang kader partai Demokrat itu dinyatakan tak bersalah, pihaknya ingin dijelaskan, mengapa dinyatakan tak bersalah.
"Jika salah, ya kita terima memang salah. Kalau tidak salah, kami juga ingin tahu kalau itu tidak salah. Termasuk Ketua Umum PD, Anas Urbanigrum yang juga diperiksa dan dicitrakan publik secara luas di tanah air sebagai bersalah atau terlibat dalam korupsi ini, meskipun KPK belum menentukan hasil pemeriksaan," ujar Presiden SBY di Jeddah, Arab Saudi, Senin 4 Februari 2013 lalu.
(mhd)