Jika ingin berakhir manis, SBY harus reshuffle kabinet
Sabtu, 29 Desember 2012 - 13:58 WIB
Jika ingin berakhir manis, SBY harus reshuffle kabinet
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai sudah saatnya melakukan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Hal itu disampaikan pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris.
Menurut Syamsuddin, reshuffle tersebut bisa membawa dampak positif terhadap masa jabatan SBY yang akan habis pada 2014 mendatang.
"Kalau Pak SBY mau meninggalkan nama baik, atau meninggalkan tinta emas, ya mau enggak mau, anggota kabinet yang kinerjanya jelek ya dicopot saja," kata Syamsuddin usai mengikuti seminar Budaya Politik Indonesia dan Kelas Menengah di Gren Alia Cikini, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/12/2012).
Samsyuddin menegaskan, sudah tidak ada waktu lagi untuk SBY memikirkan apakah akan merombak kabinetnya itu atau tidak.
"Enggak usah ditimbang-timbang lagi koalisisnya dengan siapa. Dari pada tidak sama sekali, sepanjang reshuffle tidak bersifat politis, tapi kinerja," tegasnya.
Lebih lanjut lulusan Universitas Indonesia (UI) ini menerangkan, sudah banyak contoh yang mengharuskan sudah saatnya SBY melakukan reshuffle. Misalnya, ketidakmampuan beberapa kementerian untuk menyerap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
"Banyak faktor, teman-teman dari Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) mengutarakan, ada enam kementerian dengan daya serap APBN kurang dari 20 persen," ungkapnya.
Menurutnya, jika SBY benar ingin meningkatkan kualitas kinerja pemerintahannya, mestinya posisi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang ditinggalkan Andi Alfian Mallarangeng, harus segera diisi. Selain itu, kinerja menteri yang tidak maksimal, harus ikut di reshuffle.
"Untuk kinerja kabinet di pemerintahan, yang lebih tahu UKP4 (Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan)," pungkasnya.
Menurut Syamsuddin, reshuffle tersebut bisa membawa dampak positif terhadap masa jabatan SBY yang akan habis pada 2014 mendatang.
"Kalau Pak SBY mau meninggalkan nama baik, atau meninggalkan tinta emas, ya mau enggak mau, anggota kabinet yang kinerjanya jelek ya dicopot saja," kata Syamsuddin usai mengikuti seminar Budaya Politik Indonesia dan Kelas Menengah di Gren Alia Cikini, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (29/12/2012).
Samsyuddin menegaskan, sudah tidak ada waktu lagi untuk SBY memikirkan apakah akan merombak kabinetnya itu atau tidak.
"Enggak usah ditimbang-timbang lagi koalisisnya dengan siapa. Dari pada tidak sama sekali, sepanjang reshuffle tidak bersifat politis, tapi kinerja," tegasnya.
Lebih lanjut lulusan Universitas Indonesia (UI) ini menerangkan, sudah banyak contoh yang mengharuskan sudah saatnya SBY melakukan reshuffle. Misalnya, ketidakmampuan beberapa kementerian untuk menyerap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
"Banyak faktor, teman-teman dari Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) mengutarakan, ada enam kementerian dengan daya serap APBN kurang dari 20 persen," ungkapnya.
Menurutnya, jika SBY benar ingin meningkatkan kualitas kinerja pemerintahannya, mestinya posisi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang ditinggalkan Andi Alfian Mallarangeng, harus segera diisi. Selain itu, kinerja menteri yang tidak maksimal, harus ikut di reshuffle.
"Untuk kinerja kabinet di pemerintahan, yang lebih tahu UKP4 (Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan)," pungkasnya.
(maf)