Reshuffle, bibir dan telinga SBY harus hati-hati
Rabu, 12 Desember 2012 - 13:37 WIB
Reshuffle, bibir dan telinga SBY harus hati-hati
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai memiliki kewenangan penuh untuk melakukan reshuffle di tubuh kabinetnya. Hal itu menyusul penilaian buruk publik terhadap sejumlah menteri di kabinetnya.
Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Hasrul Azwar mengatakan, SBY harus melakukan reshuffle menteri yang hanya membuat gaduh di kabinetnya. Pasalnya, dengan begitu, performa kabinet akan kembali sesuai jalur yang diharapkan.
"Menteri yang bikin gaduh perlu direshuffle," ujar Hasrul, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (12/12/2012).
Ketika dikonfirmasi apakah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dan Menteri Sekretaris Kabinet (seskab) Dipo Alam pantas di reshuffle, Hasrul enggan berkomentar. Namun, dia mengingatkan agar seorang pembantu presiden harus lebih berhati-hati.
"Saya enggak menyebut nama, menteri itukan telinga dan bibirnya presiden, perlu berhati-hati dalam berstatemen," ujarnya.
Hasrul berpesan, jika mau melakukan reshuffle, maka SBY dinilai harus mendengarkan pandangan masyarakat termasuk dari parlemen. Hal itu, kata dia, agar pemerintahan SBY yag kurang dari dua tahun itu dapat berakhir dengan baik dan berkesan di masyarakat.
"harus happy ending, khusnul khotimah, sebuah kabinet yang kuat, tidak menimbulkan kegaduhan," tandasnya.
Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Hasrul Azwar mengatakan, SBY harus melakukan reshuffle menteri yang hanya membuat gaduh di kabinetnya. Pasalnya, dengan begitu, performa kabinet akan kembali sesuai jalur yang diharapkan.
"Menteri yang bikin gaduh perlu direshuffle," ujar Hasrul, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (12/12/2012).
Ketika dikonfirmasi apakah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dan Menteri Sekretaris Kabinet (seskab) Dipo Alam pantas di reshuffle, Hasrul enggan berkomentar. Namun, dia mengingatkan agar seorang pembantu presiden harus lebih berhati-hati.
"Saya enggak menyebut nama, menteri itukan telinga dan bibirnya presiden, perlu berhati-hati dalam berstatemen," ujarnya.
Hasrul berpesan, jika mau melakukan reshuffle, maka SBY dinilai harus mendengarkan pandangan masyarakat termasuk dari parlemen. Hal itu, kata dia, agar pemerintahan SBY yag kurang dari dua tahun itu dapat berakhir dengan baik dan berkesan di masyarakat.
"harus happy ending, khusnul khotimah, sebuah kabinet yang kuat, tidak menimbulkan kegaduhan," tandasnya.
(rsa)