Peran media, 2014 masih didominasi pencitraan
Minggu, 09 Desember 2012 - 13:39 WIB
Peran media, 2014 masih didominasi pencitraan
A
A
A
Sindonews.com - Peneliti dari Intitute Survei Indonesia (INSIS) Mochtar W Oetama memprediksi pemilihan presiden (pilpres) 2014 mendatang masih didominasi dengan pencitraan yang dilakukan setiap pasangan calon presiden (capres).
Indikasinya, dari tiga pemilihan umum (pemilu) masyarakat Indonesia telah terdoktrin dengan pencitraan yang dilakukan capres. Gambaran itu diprediksi akan terulang pada 2014.
"Saya kira masih sama (pencitraan), tiga pemilu yang sudah berlangsung kita tahu peran pencitraan, media, iklan masih tinggi untuk elektabilitas, akseptablitas, dan popularitas," katanya usai mengikuti rilis hasil survei nasional bertema "Figur Politisi Muda di Mata Publik: Mendorong Pemimpin Alternatif" di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (9/12/2012).
Dia menambahkan dalam pencitraan tersebut sangat dipengaruhi peran media massa dalam menyajikan iklan maupun pemberitaan kepada capres. "Jadi saya rasa belanja iklan politik akan lebih tinggi dari Pemilu 2009," tandasnya.
Mochtar pun mencontohkan, pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta mayoritas warga DKI memilih Joko Widodo. Hal ini didasari pencitraan positif yang dimiliki oleh pria yang biasa disapa Jokowi itu.
"Apalagi kalau orang masih ingat denga snowballing effect dari Jokowi. Namun dengan pencitraan yang sedemikian rupa diubah oleh mereka (capres). Jadi fenomena Jokowi masih akan latah, padalah semestinya tidak seperti itu. Karena politikus harusnya memiliki peran sendiri," tutupnya.
Indikasinya, dari tiga pemilihan umum (pemilu) masyarakat Indonesia telah terdoktrin dengan pencitraan yang dilakukan capres. Gambaran itu diprediksi akan terulang pada 2014.
"Saya kira masih sama (pencitraan), tiga pemilu yang sudah berlangsung kita tahu peran pencitraan, media, iklan masih tinggi untuk elektabilitas, akseptablitas, dan popularitas," katanya usai mengikuti rilis hasil survei nasional bertema "Figur Politisi Muda di Mata Publik: Mendorong Pemimpin Alternatif" di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (9/12/2012).
Dia menambahkan dalam pencitraan tersebut sangat dipengaruhi peran media massa dalam menyajikan iklan maupun pemberitaan kepada capres. "Jadi saya rasa belanja iklan politik akan lebih tinggi dari Pemilu 2009," tandasnya.
Mochtar pun mencontohkan, pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta mayoritas warga DKI memilih Joko Widodo. Hal ini didasari pencitraan positif yang dimiliki oleh pria yang biasa disapa Jokowi itu.
"Apalagi kalau orang masih ingat denga snowballing effect dari Jokowi. Namun dengan pencitraan yang sedemikian rupa diubah oleh mereka (capres). Jadi fenomena Jokowi masih akan latah, padalah semestinya tidak seperti itu. Karena politikus harusnya memiliki peran sendiri," tutupnya.
(kur)