Ambisi Ical hancurkan Golkar
Sabtu, 01 Desember 2012 - 08:18 WIB
Ambisi Ical hancurkan Golkar
A
A
A
Sindonews.com - Ambisi Ketua Umum Partai Aburizal Bakrie (Ical) yang memaksakan kehendaknya maju sebagai calon Presiden dalam perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, dinilai menghancurkan citra partai.
"Indonesia khususnya era reformasi, punya kebiasaan yang sebenarnya buruk. Partai terbiasa majukan ketuanya dalam capres. Padahal belum tentu baik dalam mengelola pemerintahan," ujar pengamat politik Arbi Sanit saat dihubungi Sindonews, Sabtu (1/12/2012).
Ditambahkan dia, dalam semua survei, elektabilitas Ical selalu turun. Sebaliknya, mereka yang bukan berasal dari partai politik justru memiliki elektabilitas tinggi.
"Hasil survei lihat saja, siapa yang dipercaya? Yang elektabilitasnya tinggi justru bukan datang dari partai, karena orang sudah menganggap partai buruk," terangnya.
Dia menambahkan, republik butuh orang yang bisa mengelola pemerintahan, dan punya rekam jejak baik dalam partai. Dalam diri Ical, masyarakat tidak akan menemukan itu. Sebaliknya, masyarakat hanya melihat keburukan.
"Tentunya orang yang bisa mengelola pemerintahan, orang yang punya pengalaman baik dalam partainya, dan saya rasa itu sudah tidak ada di Golkar. Coba lihat saja survei-survei sekarang," cetusnya.
"Indonesia khususnya era reformasi, punya kebiasaan yang sebenarnya buruk. Partai terbiasa majukan ketuanya dalam capres. Padahal belum tentu baik dalam mengelola pemerintahan," ujar pengamat politik Arbi Sanit saat dihubungi Sindonews, Sabtu (1/12/2012).
Ditambahkan dia, dalam semua survei, elektabilitas Ical selalu turun. Sebaliknya, mereka yang bukan berasal dari partai politik justru memiliki elektabilitas tinggi.
"Hasil survei lihat saja, siapa yang dipercaya? Yang elektabilitasnya tinggi justru bukan datang dari partai, karena orang sudah menganggap partai buruk," terangnya.
Dia menambahkan, republik butuh orang yang bisa mengelola pemerintahan, dan punya rekam jejak baik dalam partai. Dalam diri Ical, masyarakat tidak akan menemukan itu. Sebaliknya, masyarakat hanya melihat keburukan.
"Tentunya orang yang bisa mengelola pemerintahan, orang yang punya pengalaman baik dalam partainya, dan saya rasa itu sudah tidak ada di Golkar. Coba lihat saja survei-survei sekarang," cetusnya.
(san)