Akbar: Tradisi menjaring pemimpin harus dibangun
Rabu, 21 November 2012 - 15:09 WIB
Akbar: Tradisi menjaring pemimpin harus dibangun
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar Akbar Tanjung mengatakan tradisi menjaring dan memunculkan calon pemimpin harus terus dibiasakan. Terlebih kebutuhan bangsa Indonesia pada pemimpin yang baik semakin dibutuhkan pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.
"Kepemimpinan harus disiapkan menghadapi agenda politik 2014, ketika agenda konstitusional lima tahun semakin mendekat, maka tradisi menjaring dan memunculkan figur harus terus dilakukan," ujar Akbar membuka diskusi Akbar Tanjung Institute 'refleksi kepemimpinan bangsa ke depan' di Jakarta, Rabu (21/11/2012).
Menurut Akbar, adanya gerakan mencari pemimpin secara mandiri akan selalu menarik, meskipun pada akhirnya pengusungan calon pemimpin baik capres, cagub, cabup, ataupun calon walikota tetap melalui partai politik.
Sebab dengan munculnya tokoh atau figur, maka partai politik pun akan berpikir untuk melakukan mekanisme yang lebih terbuka dalam menentukan siapa calon yang akan diusung dalam pemilu.
Mantan Ketua DPR ini mengingatkan, ketika Indonesia sudah dua kali memilih presiden secara langsung, maka masa transisi politik sudah dilewati. Kemudian Indonesia saatnya masuk tahap konsolidasi demokrasi pada Pemilu 2014.
"Jadi di 2014 kita harus letakkan dasar-dasar untuk menjamin konsolidasi demokrasi. Makanya penting menyiapkan pemimpin yang kuat, dan dengan basis dukungan yang kuat pula. Dan secara konstitusional pada gilirannya akan melalui partai politik pula," ungkapnya.
"Kepemimpinan harus disiapkan menghadapi agenda politik 2014, ketika agenda konstitusional lima tahun semakin mendekat, maka tradisi menjaring dan memunculkan figur harus terus dilakukan," ujar Akbar membuka diskusi Akbar Tanjung Institute 'refleksi kepemimpinan bangsa ke depan' di Jakarta, Rabu (21/11/2012).
Menurut Akbar, adanya gerakan mencari pemimpin secara mandiri akan selalu menarik, meskipun pada akhirnya pengusungan calon pemimpin baik capres, cagub, cabup, ataupun calon walikota tetap melalui partai politik.
Sebab dengan munculnya tokoh atau figur, maka partai politik pun akan berpikir untuk melakukan mekanisme yang lebih terbuka dalam menentukan siapa calon yang akan diusung dalam pemilu.
Mantan Ketua DPR ini mengingatkan, ketika Indonesia sudah dua kali memilih presiden secara langsung, maka masa transisi politik sudah dilewati. Kemudian Indonesia saatnya masuk tahap konsolidasi demokrasi pada Pemilu 2014.
"Jadi di 2014 kita harus letakkan dasar-dasar untuk menjamin konsolidasi demokrasi. Makanya penting menyiapkan pemimpin yang kuat, dan dengan basis dukungan yang kuat pula. Dan secara konstitusional pada gilirannya akan melalui partai politik pula," ungkapnya.
(rsa)