Proses rekrutmen parpol berdasarkan uang
Selasa, 20 November 2012 - 15:35 WIB
Proses rekrutmen parpol berdasarkan uang
A
A
A
Sindonews.com - Mekanisme rekrutmen pemimpin yang dilakukan partai politik (parpol) selama ini sangat lemah. Parpol mengesampingkan kompetensi figur, dan mengedepankan masalah kekuatan uang, beriklan, dan aspek pencitraannya.
Ketua Forum President Center Didied Maheswara melihat selama ini mekanisme di parpol memang mengedepankan aspek kompetisi, bukan aspek kompetensi dalam merekrut capres, calon kepala daerah, maupun calon anggota legislatif.
"Tak bisa dibantah jika pola rekrutmen partai sangat tertutup dalam memilih capres, calon bupati, wali kota dan gubernur. Yang dipilih pun selama ini hanya ketua umum atau ketua dewan pembina. Sedangkan figur potensial lainnya disikat," ujar Didied Maheswara di Jakarta, Selasa (20/11/2012).
Figur yang diusung partai sejatinya bukan pemimpin yang ideal di mata rakyat, tapi hanya ideal di mata partainya sendiri. "Kalau seperti itu terus pola rekrutmennya, jadikan saja mereka presiden partai, bukan presiden bangsa," tuturnya.
Sementara itu, Pengamat Politik dari UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Teguh Santosa berpendapat, apa yang disampaikan forum President Center memang sangat tepat. Forum ini bisa menjadi lembaga think thank yang independen dalam menjaring figur pemimpin ideal untuk ditawarkan kepada parpol.
"Lembaga independen seperti President Centre ini bisa menjadi auto kritik ketika parpol tak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Peran seperti ini semestinya dijalankan oleh Litbang partai. Tapi umumnya Litbang partai tidak concern untuk persoalan seperti ini," ungkapnya.
Ketua Forum President Center Didied Maheswara melihat selama ini mekanisme di parpol memang mengedepankan aspek kompetisi, bukan aspek kompetensi dalam merekrut capres, calon kepala daerah, maupun calon anggota legislatif.
"Tak bisa dibantah jika pola rekrutmen partai sangat tertutup dalam memilih capres, calon bupati, wali kota dan gubernur. Yang dipilih pun selama ini hanya ketua umum atau ketua dewan pembina. Sedangkan figur potensial lainnya disikat," ujar Didied Maheswara di Jakarta, Selasa (20/11/2012).
Figur yang diusung partai sejatinya bukan pemimpin yang ideal di mata rakyat, tapi hanya ideal di mata partainya sendiri. "Kalau seperti itu terus pola rekrutmennya, jadikan saja mereka presiden partai, bukan presiden bangsa," tuturnya.
Sementara itu, Pengamat Politik dari UIN Syarief Hidayatullah Jakarta Teguh Santosa berpendapat, apa yang disampaikan forum President Center memang sangat tepat. Forum ini bisa menjadi lembaga think thank yang independen dalam menjaring figur pemimpin ideal untuk ditawarkan kepada parpol.
"Lembaga independen seperti President Centre ini bisa menjadi auto kritik ketika parpol tak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Peran seperti ini semestinya dijalankan oleh Litbang partai. Tapi umumnya Litbang partai tidak concern untuk persoalan seperti ini," ungkapnya.
(lns)