50,3% pemilih Indonesia ditentukan oleh uang
Senin, 19 November 2012 - 15:41 WIB
50,3% pemilih Indonesia ditentukan oleh uang
A
A
A
Sindonews.com - Indonesia Network Election Survey (INES) merilis hasil surveinya yang cukup menarik terkait karaktistik pemilih Indonesia pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) maupun Pemilihan Umum (Pemilu) nasional.
INES menyebutkan, pemilih di Indonesia lebih cenderung karena pertimbangan uang daripada iklan, program, visi dan misi partai politik (parpol) dalam Pemilihan Umum (Pemilu) maupun kepala daerah.
Dari hasil itu, pemilih yang lebih menyukai uang mendapat persentase 50,3 persen, iklan 22,4 persen, program 17,2 persen, dan visi 10,1 persen.
Mengomentari hal itu, Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Bima Arya, mengaku miris. Hal itu membuktikan uang lebih menentukan hasil ketimbang visi dan misi, sehingga sulit menemukan demokrasi yang bersih.
"Ini kita harus evaluasi jika uang yang menentukan bagaimana demokrasi kita bersihkan dari transaksional ini," jelas Bima di Gallery Cafe Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat, Senin (19/11/2012).
Lebih lanjut dia mengatakan, di masa sekarang sebenarnya bukan hanya uang yang membuat elektabilitas tinggi, tapi figur seseorang dalam sebuah parpol juga menjadi faktor peningkat jumlah suara parpol.
"Harusnya dimasukkan juga mengenai figur di masa sekarang ini. Karena figur juga menentukan dalam meningkatkan jumlah suara partai, jadi saya ingin adanya figur dalam sebuah penelitian. Nantinya bisa dilihat, saya tidak tahu penelitian ini ada atau tidak," katanya.
INES menyebutkan, pemilih di Indonesia lebih cenderung karena pertimbangan uang daripada iklan, program, visi dan misi partai politik (parpol) dalam Pemilihan Umum (Pemilu) maupun kepala daerah.
Dari hasil itu, pemilih yang lebih menyukai uang mendapat persentase 50,3 persen, iklan 22,4 persen, program 17,2 persen, dan visi 10,1 persen.
Mengomentari hal itu, Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Bima Arya, mengaku miris. Hal itu membuktikan uang lebih menentukan hasil ketimbang visi dan misi, sehingga sulit menemukan demokrasi yang bersih.
"Ini kita harus evaluasi jika uang yang menentukan bagaimana demokrasi kita bersihkan dari transaksional ini," jelas Bima di Gallery Cafe Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat, Senin (19/11/2012).
Lebih lanjut dia mengatakan, di masa sekarang sebenarnya bukan hanya uang yang membuat elektabilitas tinggi, tapi figur seseorang dalam sebuah parpol juga menjadi faktor peningkat jumlah suara parpol.
"Harusnya dimasukkan juga mengenai figur di masa sekarang ini. Karena figur juga menentukan dalam meningkatkan jumlah suara partai, jadi saya ingin adanya figur dalam sebuah penelitian. Nantinya bisa dilihat, saya tidak tahu penelitian ini ada atau tidak," katanya.
(lns)