Puan Maharani: Stop kegaduhan politik
Senin, 19 November 2012 - 13:21 WIB
Puan Maharani: Stop kegaduhan politik
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Puan Maharani angkat bicara soal pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam yang menduga ada ketua fraksi yang diduga terlibat 'kongkalikong' dalam korupsi anggaran.
"Saya tidak mengatakan ini betul, kan Pak Dipo tidak menyebutkan nama dari ketua fraksi itu, jadi saya minta sudah stop saja kegaduhan politik yang hanya untuk pencitraan dan membuat kerisauan di masyarakat," ujar Puan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (19/11/2012).
Sebagai pejabat publik, sambung putri Megawati Soekarnoputri ini, dalam memberikan pernyataan baik untuk lembaga atau personal yang mengindikasikan adanya dugaan pelanggaran hukum, harus disertai alat bukti yang cukup.
"Harusnya didasarkan fakta di lapangan, bukan hanya kata orang. Ini kan jadinya seperti temen-temen di DPR, dan lembaga di DPR semua sama, tidak baik semua," terangnya.
Menurutnya, pernyataan pejabat publik ke media massa cendrung dianggap benar, meskipun belum tentu sesuai fakta. "Statement itu padahal belum tentu benar, karena belum terbukti data dan faktanya," pungkasnya.
"Saya tidak mengatakan ini betul, kan Pak Dipo tidak menyebutkan nama dari ketua fraksi itu, jadi saya minta sudah stop saja kegaduhan politik yang hanya untuk pencitraan dan membuat kerisauan di masyarakat," ujar Puan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (19/11/2012).
Sebagai pejabat publik, sambung putri Megawati Soekarnoputri ini, dalam memberikan pernyataan baik untuk lembaga atau personal yang mengindikasikan adanya dugaan pelanggaran hukum, harus disertai alat bukti yang cukup.
"Harusnya didasarkan fakta di lapangan, bukan hanya kata orang. Ini kan jadinya seperti temen-temen di DPR, dan lembaga di DPR semua sama, tidak baik semua," terangnya.
Menurutnya, pernyataan pejabat publik ke media massa cendrung dianggap benar, meskipun belum tentu sesuai fakta. "Statement itu padahal belum tentu benar, karena belum terbukti data dan faktanya," pungkasnya.
(san)