Parpol agama takkan dilirik di 2014
Minggu, 21 Oktober 2012 - 13:50 WIB
Parpol agama takkan dilirik di 2014
A
A
A
Sindonews.com - Partai politik (parpol) berbasis agama, dinilai tak akan dilirik masyarakat dalam Pemilu 2014 nanti.
Menurut Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Donny Gahral, fenomena tersebut sudah terbukti di sejumlah Pemilukada. Selain itu, sejumlah kader partai berbasis agama yang duduk di pemerintahan, tidak terlalu menorehkan prestasi.
"Sebut saja Menakertrans Muhaimin Iskandar dari PKB dan Menag Suryadharma Ali dari PPP, tidak terlalu berhasil selama di pemerintahan. Itu juga salah satunya, masyarakat tidak melihat kerja politiknya," katanya kepada wartawan, Minggu (21/10/12).
Banyak kader yang diusung partai berbasis agama di Pemilukada dan akhirnya terpilih menjadi kepala daerah, rata-rata bermasalah. Imbasnya, masyarakat kini melirik calon dari partai nasionalis. Hal ini terlihat pada Pemilukada DKI dan Surabaya.
"Rata-rata bermasalah, sebut saja Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail dan Ahmad Heryawan dari PKS, tidak terlihat prestasinya selama menjadi kepala daerah," tukasnya.
Dia menilai, masih ada waktu bagi partai berbasis agama untuk memperbaiki dan mendongkrak suara di 2014.
"Masih ada waktu jika mau berkoalisi dengan partai nasionalis, perkuat kaderisasi, berantas elit yang korupsi. Namun jika berbicara 2014, memang dua tahun bukan waktu yang cukup untuk perbaiki citra partai. Ini persulit posisi partai Islam di tengah pertarungan politik," tandasnya.
Menurut Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Donny Gahral, fenomena tersebut sudah terbukti di sejumlah Pemilukada. Selain itu, sejumlah kader partai berbasis agama yang duduk di pemerintahan, tidak terlalu menorehkan prestasi.
"Sebut saja Menakertrans Muhaimin Iskandar dari PKB dan Menag Suryadharma Ali dari PPP, tidak terlalu berhasil selama di pemerintahan. Itu juga salah satunya, masyarakat tidak melihat kerja politiknya," katanya kepada wartawan, Minggu (21/10/12).
Banyak kader yang diusung partai berbasis agama di Pemilukada dan akhirnya terpilih menjadi kepala daerah, rata-rata bermasalah. Imbasnya, masyarakat kini melirik calon dari partai nasionalis. Hal ini terlihat pada Pemilukada DKI dan Surabaya.
"Rata-rata bermasalah, sebut saja Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail dan Ahmad Heryawan dari PKS, tidak terlihat prestasinya selama menjadi kepala daerah," tukasnya.
Dia menilai, masih ada waktu bagi partai berbasis agama untuk memperbaiki dan mendongkrak suara di 2014.
"Masih ada waktu jika mau berkoalisi dengan partai nasionalis, perkuat kaderisasi, berantas elit yang korupsi. Namun jika berbicara 2014, memang dua tahun bukan waktu yang cukup untuk perbaiki citra partai. Ini persulit posisi partai Islam di tengah pertarungan politik," tandasnya.
(maf)