Ujian kesabaran dibalik ibadah haji
Senin, 08 Oktober 2012 - 07:47 WIB
Ujian kesabaran dibalik ibadah haji
A
A
A
Sindonews.com - Perjalanan ibadah haji memiliki banyak makna. Ibadah, ujian kesabaran dan keikhlasan serta pahala yang berlimpah berada di dalamnya. Adalah keinginan semua orang, agar perjalanan ibadah haji dalam keadaan usia muda, sehat dan bersama pasangan untuk meraih haji yang mabrur. Sebab haji pada dasarnya adalah ibadah fisik dalam melaksanakan rukun Islam dan wajib haji.
Namun kadang kala, ujian menghadang ketika perjalanan ibadah haji baru akan dimulai. Tak jarang mereka harus menghadapi ujian dengan lemahnya kondisi fisik akibat usia, kehilangan seorang yang paling dicintai dan kondisi kesehatan yang menurun.
Bertempat di sebuah hotel, pemondokan disekitar Masjid Nabawi Madinah Arab Saudi, kita dapat menemui kisah pilu di antara sekian banyak jemaah calon haji Indonesia. Salah satunya adalah Pasangan suami-istri Subagyo (60), dan Eko Hartini (59), dari Embarkasi Semarang-Jawa Tengah kloter 30.
Sebelum berangkat ke tanah suci, istrinya mengalami sakit stroke. Hal ini menjadi ujian untuk melaksanakan ibada haji itu, karena istrinya mengalami lumpuh separo badan, bahkan tidak bisa berbicara. Sepanjang perjalanan, kursi dorong dan peluh keringat Subagyo menemani perjalanan istrinya yang saat ini hanya bisa berbaring di tempat tidur.
Di tengah kondisi seperti itu, tekad Subagyo yang tidak lagi muda, hanya satu. "Saya ingin istri dapat menunaikan ibadah haji apapun konsekuensi yang dialami," ungkapnya, di Madimah, Arab Saudi, Senin (8/10/2012).
Wajah tegar itu, berubah jadi muram dan perlahan dari kedua pelupuk matanya mengeluarkan air mata. Ujian ini begitu berat di rasakannya.
Setiap hari dengan keikhlasan, sang suami-lah yang membersihkan bagian tubuh istrinya. Menyuapi hingga memandikannya, mendorong dengan kursi roda setiap aktifitas dari istrinya menjelang perjalanan spiritual, terutama sampai pelaksanaan ibadah haji nantinya.
"Saya kasihan, ini impian dia selama ini. Tapi kenyataannya demikian. Saya rela mengurusi dia apapun yang terjadi," ujarnya.
Namun, rasa sabar dan keihlasan membuat bapak ini tegar dalam menghadapi ujian dari Allah SWT. Subagyo menjelaskan, istrinya terserang stroke pada Agustus lalu pasca Lebaran dan sempat dirawat di rumah sakit sebelum terpaksa diambil karna perjalanan haji sudah dekat.
Subagyo menyakini, setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Dirinya tetap berharap bahwa ada 'keajaiban' sehingga istrinya diberikan kesehatan dan kemudahan guna mencapai haji yang mabrur. "Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan," katanya.
Bersama empat teman sekamarnya, istrinya Ibu Eko Hartini juga mendapatkan perhatian khusus. Teman-teman sekamarnya begitu peduli dan selalu menghibur dengan kecerian serta senda gurau.
Meski tidak bisa bercanda ria dengan tidak bisa berbicara, namun terlihat wajah Ibu Eko yang memiliki tubuh tak berdaya, terkadang tersenyum dengan bibir merekah lebar mendengar canda dari teman2 sekamarnya.
"Saya juga membantu menyuapi dan bahkan mengganti pampers, tanpa risih karena teman, kasihan dia," ungkap Ngatini teman sekamar Ibu eko.
Sedangkan senda gurau dan senyum juga menjadi senjata andalan dalam menghadapi persoalan dari Subagyo. Kecerian tetap melingkar di wajahnya meski hatinya harus melonggarkan kata ikhlas dan Kesabaran.
Sebagai hamba dan umat-Nya, melaksanakan haji merupakan panggilan-Nya. Ujian pasti datang, karna kasih sayang Allah terhadap Hamba-nya. Dan semua ujian, harus dilalui dengan Sholat dan Sabar. Dalam firman-Nya, Jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.
Namun kadang kala, ujian menghadang ketika perjalanan ibadah haji baru akan dimulai. Tak jarang mereka harus menghadapi ujian dengan lemahnya kondisi fisik akibat usia, kehilangan seorang yang paling dicintai dan kondisi kesehatan yang menurun.
Bertempat di sebuah hotel, pemondokan disekitar Masjid Nabawi Madinah Arab Saudi, kita dapat menemui kisah pilu di antara sekian banyak jemaah calon haji Indonesia. Salah satunya adalah Pasangan suami-istri Subagyo (60), dan Eko Hartini (59), dari Embarkasi Semarang-Jawa Tengah kloter 30.
Sebelum berangkat ke tanah suci, istrinya mengalami sakit stroke. Hal ini menjadi ujian untuk melaksanakan ibada haji itu, karena istrinya mengalami lumpuh separo badan, bahkan tidak bisa berbicara. Sepanjang perjalanan, kursi dorong dan peluh keringat Subagyo menemani perjalanan istrinya yang saat ini hanya bisa berbaring di tempat tidur.
Di tengah kondisi seperti itu, tekad Subagyo yang tidak lagi muda, hanya satu. "Saya ingin istri dapat menunaikan ibadah haji apapun konsekuensi yang dialami," ungkapnya, di Madimah, Arab Saudi, Senin (8/10/2012).
Wajah tegar itu, berubah jadi muram dan perlahan dari kedua pelupuk matanya mengeluarkan air mata. Ujian ini begitu berat di rasakannya.
Setiap hari dengan keikhlasan, sang suami-lah yang membersihkan bagian tubuh istrinya. Menyuapi hingga memandikannya, mendorong dengan kursi roda setiap aktifitas dari istrinya menjelang perjalanan spiritual, terutama sampai pelaksanaan ibadah haji nantinya.
"Saya kasihan, ini impian dia selama ini. Tapi kenyataannya demikian. Saya rela mengurusi dia apapun yang terjadi," ujarnya.
Namun, rasa sabar dan keihlasan membuat bapak ini tegar dalam menghadapi ujian dari Allah SWT. Subagyo menjelaskan, istrinya terserang stroke pada Agustus lalu pasca Lebaran dan sempat dirawat di rumah sakit sebelum terpaksa diambil karna perjalanan haji sudah dekat.
Subagyo menyakini, setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Dirinya tetap berharap bahwa ada 'keajaiban' sehingga istrinya diberikan kesehatan dan kemudahan guna mencapai haji yang mabrur. "Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan," katanya.
Bersama empat teman sekamarnya, istrinya Ibu Eko Hartini juga mendapatkan perhatian khusus. Teman-teman sekamarnya begitu peduli dan selalu menghibur dengan kecerian serta senda gurau.
Meski tidak bisa bercanda ria dengan tidak bisa berbicara, namun terlihat wajah Ibu Eko yang memiliki tubuh tak berdaya, terkadang tersenyum dengan bibir merekah lebar mendengar canda dari teman2 sekamarnya.
"Saya juga membantu menyuapi dan bahkan mengganti pampers, tanpa risih karena teman, kasihan dia," ungkap Ngatini teman sekamar Ibu eko.
Sedangkan senda gurau dan senyum juga menjadi senjata andalan dalam menghadapi persoalan dari Subagyo. Kecerian tetap melingkar di wajahnya meski hatinya harus melonggarkan kata ikhlas dan Kesabaran.
Sebagai hamba dan umat-Nya, melaksanakan haji merupakan panggilan-Nya. Ujian pasti datang, karna kasih sayang Allah terhadap Hamba-nya. Dan semua ujian, harus dilalui dengan Sholat dan Sabar. Dalam firman-Nya, Jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.
(mhd)