Bawa amanat raja-raja, Yusril mulai gerilya
Sabtu, 29 September 2012 - 09:04 WIB
Bawa amanat raja-raja, Yusril mulai gerilya
A
A
A
Sindonews.com - Mendapat kepercayaan dari para raja-raja se-nusantara, membuat Mantan Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra bersemangat melakukan gerilya dengan mendatangi sejumlah daerah. Yusril terus menggalang kekuatan dan dukungan untuk pancalonan dirinya di Pemilihan Umum (Pemilu) 2014.
"Amanah para raja, sultan dan pemangku adat tadi malam, membuat sy berpikir utk merenungkan kembali konsep bernegara kt yg ada sekarang," tulis Yusril dalam akun twitternya @Yusrilihza_Mhd, Sabtu (29/9/2012).
Dimulai dari Semarang, dilanjutkan ke Kudus, Yursil memulai perjalanannya. "Konsolidasi jalur kultural terus saya galang menuju 2014. Pagi ini terbang ke Semarang, Jawa Tengah. Dari Semarang terus ke Kudus. Teman2 adakan pagelaran wayang dg dalang KI Manteb S "Pendawa Sukur" dan Ki Entus Susmono "Wisanggeni Dadi Ratu"," sambungnya.
Konsep kenegaraan yang dimaksud Yusril adalah, peran Indonesia dalam peta perpolitikan dunia dan ekonomi. Yusril beranggapan, makin lemahnya peran Indonesia dan terpuruknya ekonomi masyarakat, disebabkan oleh kapitalisme global.
"Siapa yg diuntungkan dg globalisas? Bangsa kita atau kapitalisne global yg menunggangi negara2 besar dan kuat? Globalisasi tlh berdampak luas kpd bangsa dan negara kita dan mebuat kt makin tercabut dari akar budaya dan tradisi kt sendiri," tulisnya lagi.
Namun, di tengah mendesaknya berbagai persoalan bangsa, pakar hukum tata negara ini melihat, anak bangsa sangat disibukkan dengan persoalan dalam negeri yang diduga terjadi karena adanya campur tangan pihak asing.
"Tiap hari kita disibukkan oleh persoalan2 domestik yg kadang jg akibat intrik asing. Kita jd lengah, habis energi, kurang waktu dan pusing. Tiap hari bangsa ini dirugikan karena pengelola negaranya lemah, kurang cerdas dan berani membuat segala sesutu yg dpt menguntungkan bangsa," ungkapnya.
Lebih jauh, Yusril melihat dampak dari semua persoalan dalam negeri itu membuat bangsa ini semakin terjerembab dalam kesengsaraan. Bahkan tak kuasa bangkit atas tekanan kepentingan pihak asing.
"Yang terlihat sekarang, globalisasi telah membuat bangsa kt bukan hanya tamu, bahkan bisa menjadi hamba di negeri sendiri," tukasnya.
"Amanah para raja, sultan dan pemangku adat tadi malam, membuat sy berpikir utk merenungkan kembali konsep bernegara kt yg ada sekarang," tulis Yusril dalam akun twitternya @Yusrilihza_Mhd, Sabtu (29/9/2012).
Dimulai dari Semarang, dilanjutkan ke Kudus, Yursil memulai perjalanannya. "Konsolidasi jalur kultural terus saya galang menuju 2014. Pagi ini terbang ke Semarang, Jawa Tengah. Dari Semarang terus ke Kudus. Teman2 adakan pagelaran wayang dg dalang KI Manteb S "Pendawa Sukur" dan Ki Entus Susmono "Wisanggeni Dadi Ratu"," sambungnya.
Konsep kenegaraan yang dimaksud Yusril adalah, peran Indonesia dalam peta perpolitikan dunia dan ekonomi. Yusril beranggapan, makin lemahnya peran Indonesia dan terpuruknya ekonomi masyarakat, disebabkan oleh kapitalisme global.
"Siapa yg diuntungkan dg globalisas? Bangsa kita atau kapitalisne global yg menunggangi negara2 besar dan kuat? Globalisasi tlh berdampak luas kpd bangsa dan negara kita dan mebuat kt makin tercabut dari akar budaya dan tradisi kt sendiri," tulisnya lagi.
Namun, di tengah mendesaknya berbagai persoalan bangsa, pakar hukum tata negara ini melihat, anak bangsa sangat disibukkan dengan persoalan dalam negeri yang diduga terjadi karena adanya campur tangan pihak asing.
"Tiap hari kita disibukkan oleh persoalan2 domestik yg kadang jg akibat intrik asing. Kita jd lengah, habis energi, kurang waktu dan pusing. Tiap hari bangsa ini dirugikan karena pengelola negaranya lemah, kurang cerdas dan berani membuat segala sesutu yg dpt menguntungkan bangsa," ungkapnya.
Lebih jauh, Yusril melihat dampak dari semua persoalan dalam negeri itu membuat bangsa ini semakin terjerembab dalam kesengsaraan. Bahkan tak kuasa bangkit atas tekanan kepentingan pihak asing.
"Yang terlihat sekarang, globalisasi telah membuat bangsa kt bukan hanya tamu, bahkan bisa menjadi hamba di negeri sendiri," tukasnya.
(san)