Laskar Aswaja: Barat gagal tegakkan HAM
Minggu, 23 September 2012 - 13:03 WIB
Laskar Aswaja: Barat gagal tegakkan HAM
A
A
A
Sindonews.com – Ketua Dewan Pembina Laskar Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Marwan Ja'far mengatakan, kedewasaan Dunia Barat dalam menyikapi kerukunan beragama ternyata gagal total. Hal ini terlihat ketika dunia barat membiarkan warganya melecehkan Islam dan melabeli Islam sebagai 'agama teroris'.
“Dunia Barat mulai dari benua eropa sampai sampai Amerika Serikat itu Negara munafik. Mereka selalu mengagung-ngagungkan HAM, keberagaman, dan sikap toleran tapi ternyata mereka sendiri gagal menerapkan itu,” ujar Marwan di Jakarta, Minggu (29/9/2012).
Marwan menambahkan, Agama Islam saat ini dijadikan objek oleh barat, khususnya kalangan Islamphobia. Setelah member label Islam sebagai 'agama teroris' dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW.
Belum puas, mereka juga membuat Film Innocence of Muslims dengan sangat sarkastis mencoba mengusik ketenangan beragama umat Islam se-Dunia. Ditambah dengan karikatur pelecehan terhadap Rasulullah di sebuah majalah di Perancis Charlie Hebdo.
“Film tersebut tidak saja mengancam keharmonisan agama-agama besar dunia (agama-agama samawi),tapi juga mengkhianati toleransi beragama yang digembor-gemborkan AS dan negara-negara Barat,” ujarnya.
Kejadian-kejadian tersebut semoga tidak berdampak pada keharmonisan beragama di Indonesia dan dinegara-negara Muslim lainnya.
“Pertanyaan sederhana yang muncul adalah, kenapa ketika kasus penistaan agama dilakukan oleh warga Dunia Barat mereka cenderung diam dan terkesan melindungi oknum-oknum yang secara terang-terangan melakukan penodaan keji serta penistaan terhadap agama lain,” ungkapnya
Sebagai gerakan moral terorganisir yang memahami kader agama dan toleransi, Marwan mengatakan bahwa Laskar Aswaja perlu menyampaikan seruan-seruan, umat Islam Indonesia untuk tidak terprovokasi dan reaksioner, serta menunjukkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin.
Kemudian Menuntut AS dan Perancis untuk menghukum seberat-beratnya kepada masing-masing warganya atas tindakan pelecehan terhadap agama tertentu (Islam) secara tegas, adil, dan transparan.
Selain itu, Laskar Aswaja juga meminta agar semua pihak mewaspadai upaya provokasi produk budaya, disamping upaya merebut sumber-sumber energi dengan peperangan yang mengatasnamakan demokrasi dan memburu 'teroris'.
“Paradigma 'clash of civilization' juga seolah-olah menjadi alat justifikasi. Bisa juga dua kepentingan sekaligus, biar film dan majalahnya laku keras, sekaligus untuk memprovakasi umat Islam sebagai bagian dari agenda terselubungnya,” ungkap Marwan.
Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menambahkan bahwa propaganda konflik global yang semakin tidak terkendali harus diwasapadai.
Sebagai negara yang beradab dan menjunjung tinggi tolerasi dan harmonisasi antar agama, kata dia, Indonesia harus bersuara tegas dalam forum-forum internasional.
“Dunia Barat mulai dari benua eropa sampai sampai Amerika Serikat itu Negara munafik. Mereka selalu mengagung-ngagungkan HAM, keberagaman, dan sikap toleran tapi ternyata mereka sendiri gagal menerapkan itu,” ujar Marwan di Jakarta, Minggu (29/9/2012).
Marwan menambahkan, Agama Islam saat ini dijadikan objek oleh barat, khususnya kalangan Islamphobia. Setelah member label Islam sebagai 'agama teroris' dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW.
Belum puas, mereka juga membuat Film Innocence of Muslims dengan sangat sarkastis mencoba mengusik ketenangan beragama umat Islam se-Dunia. Ditambah dengan karikatur pelecehan terhadap Rasulullah di sebuah majalah di Perancis Charlie Hebdo.
“Film tersebut tidak saja mengancam keharmonisan agama-agama besar dunia (agama-agama samawi),tapi juga mengkhianati toleransi beragama yang digembor-gemborkan AS dan negara-negara Barat,” ujarnya.
Kejadian-kejadian tersebut semoga tidak berdampak pada keharmonisan beragama di Indonesia dan dinegara-negara Muslim lainnya.
“Pertanyaan sederhana yang muncul adalah, kenapa ketika kasus penistaan agama dilakukan oleh warga Dunia Barat mereka cenderung diam dan terkesan melindungi oknum-oknum yang secara terang-terangan melakukan penodaan keji serta penistaan terhadap agama lain,” ungkapnya
Sebagai gerakan moral terorganisir yang memahami kader agama dan toleransi, Marwan mengatakan bahwa Laskar Aswaja perlu menyampaikan seruan-seruan, umat Islam Indonesia untuk tidak terprovokasi dan reaksioner, serta menunjukkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin.
Kemudian Menuntut AS dan Perancis untuk menghukum seberat-beratnya kepada masing-masing warganya atas tindakan pelecehan terhadap agama tertentu (Islam) secara tegas, adil, dan transparan.
Selain itu, Laskar Aswaja juga meminta agar semua pihak mewaspadai upaya provokasi produk budaya, disamping upaya merebut sumber-sumber energi dengan peperangan yang mengatasnamakan demokrasi dan memburu 'teroris'.
“Paradigma 'clash of civilization' juga seolah-olah menjadi alat justifikasi. Bisa juga dua kepentingan sekaligus, biar film dan majalahnya laku keras, sekaligus untuk memprovakasi umat Islam sebagai bagian dari agenda terselubungnya,” ungkap Marwan.
Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menambahkan bahwa propaganda konflik global yang semakin tidak terkendali harus diwasapadai.
Sebagai negara yang beradab dan menjunjung tinggi tolerasi dan harmonisasi antar agama, kata dia, Indonesia harus bersuara tegas dalam forum-forum internasional.
(ysw)