Teror Solo
Senin, 03 September 2012 - 06:26 WIB
Teror Solo
A
A
A
Sindonews.com - Masyarakat Indonesia kembali dikejutkan dengan rentetan teror yang terjadi di Solo, Jawa Tengah. Mulai dari berondongan tembakan ke Pos Polisi Gemblengan, pelemparan granat nanas ke Pos Polisi Gladak hingga tembakan ke Pos Polisi Singosaren yang menewaskan Bripka Dwi Data Subekti.
Terakhir, masyarakat dikagetkan lagi dengan insiden baku tembak antara Densus 88 Antiteror dengan kelompok teroris di Jawa Tengah. Berbagai kejadian di atas menandakan bahwa terorisme masih ada di Indonesia. Terorisme merupakan bahaya laten yang bisa menjadi penebar teror di masyarakat. Fenomena teror di Solo ini harus dilihat sebagai peringatan serius bagi bangsa ini, terutama para aparat keamanan, untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi jaringan teroris yang terus berkembang dengan modus operandi dan sasaran yang baru pula.
Kita tidak meragukan kemampuan Densus 88 yang telah banyak mengungkap dan menangkap para pelaku aksi terorisme yang terjadi di Indonesia, baik di Bali maupun di Jakarta. Serangan ke pos polisi merupakan modus baru para teroris karena sebelumnya mereka menyerang lambang-lambang Barat seperti Kedubes Australia atau Hotel Marriott.
Banyak yang berpendapat bahwa aksi teror ke polisi ini merupakan balas dendam terhadap aparat yang telah menggulung sejumlah gembong terorisme seperti Noordin M Top, dr Azahari. Terlepas apakah dugaan itu benar atau salah, fenomena teror ini tak bisa dianggap sebagai kejadian teror biasa. Kejadian ini harus membuka mata kita bersama, terutama pemerintah dan aparat keamanan, untuk lebih waspada terhadap setiap gerakan yang muncul dan berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban umum.
Intinya, aksi teror ini tak bisa lagi dilihat secara sepihak sebagai masalah sosial kemasyarakatan semata. Dari berbagai fakta yang ada, munculnya terorisme di Indonesia ternyata bukan hanya disebabkan masalah kemiskinan. Namun faktor ideologis juga berperan sentral bagi timbulnya kelompok-kelompok radikal tersebut. Karenaitu, pemerintah dan aparat keamanan perlu jeli dalam meneropong munculnya berbagai kelompok ideologis yang ada di masyarakat.
Hal ini penting karena jika bisa diketahui sejak awal tentu penanganannya juga akan lebih mudah. Pemerintah harus berani bertindak tegas jika melihat adanya gerakan yang dinilai mengancam keamanan masyarakat dan ketertiban umum. Di sinilah pentingnya peran intelijen untuk mengetahui lebih dini setiap gerakan ideologis yang berpotensi mengganggu keamanan negara. Tidak dapat disangkal bahwa Indonesia juga merupakan korban dari terorisme itu sendiri.
Membebaskan negara ini dari aksi teror memang bukan pekerjaan yang mudah. Banyak sekali kepentingan yang bermain dalam area ini. Diperlukan kesungguhan pemerintah yang didukung segenap aparatnya untuk bisa menumpas terorisme sampai ke akar-akarnya.Peran masyarakat tentu juga tak kalah penting untuk ikut menjaga lingkungan masing-masing agar steril dari gerakan radikal yang membahayakan keberlangsungan negara ini.
Tanpa dibantu masyarakat, aparat keamanan yang jumlahnya sangat terbatas tentu akan kesulitan dalam memonitor setiap jengkal wilayah negara ini yang begitu luas. Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah bagaimana kita harus menjadikan terorisme adalah musuh kita bersama. Kesamaan pemahaman ini penting dibangun untuk menghindari adanya salah pengertian tentang terorisme itu sendiri di masyarakat.
Tentu kita tidak ingin bahwa orang yang telah melakukan teror di masyarakat dianggap sebagai pahlawan atau pejuang. Pemahaman yang salah ini akhirnya menyuburkan lahirnya para teroris baru. Tentu kita tidak ingin negara ini menjadi lahan subur bagi lahirnya terorisme, bukan?
Terakhir, masyarakat dikagetkan lagi dengan insiden baku tembak antara Densus 88 Antiteror dengan kelompok teroris di Jawa Tengah. Berbagai kejadian di atas menandakan bahwa terorisme masih ada di Indonesia. Terorisme merupakan bahaya laten yang bisa menjadi penebar teror di masyarakat. Fenomena teror di Solo ini harus dilihat sebagai peringatan serius bagi bangsa ini, terutama para aparat keamanan, untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi jaringan teroris yang terus berkembang dengan modus operandi dan sasaran yang baru pula.
Kita tidak meragukan kemampuan Densus 88 yang telah banyak mengungkap dan menangkap para pelaku aksi terorisme yang terjadi di Indonesia, baik di Bali maupun di Jakarta. Serangan ke pos polisi merupakan modus baru para teroris karena sebelumnya mereka menyerang lambang-lambang Barat seperti Kedubes Australia atau Hotel Marriott.
Banyak yang berpendapat bahwa aksi teror ke polisi ini merupakan balas dendam terhadap aparat yang telah menggulung sejumlah gembong terorisme seperti Noordin M Top, dr Azahari. Terlepas apakah dugaan itu benar atau salah, fenomena teror ini tak bisa dianggap sebagai kejadian teror biasa. Kejadian ini harus membuka mata kita bersama, terutama pemerintah dan aparat keamanan, untuk lebih waspada terhadap setiap gerakan yang muncul dan berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban umum.
Intinya, aksi teror ini tak bisa lagi dilihat secara sepihak sebagai masalah sosial kemasyarakatan semata. Dari berbagai fakta yang ada, munculnya terorisme di Indonesia ternyata bukan hanya disebabkan masalah kemiskinan. Namun faktor ideologis juga berperan sentral bagi timbulnya kelompok-kelompok radikal tersebut. Karenaitu, pemerintah dan aparat keamanan perlu jeli dalam meneropong munculnya berbagai kelompok ideologis yang ada di masyarakat.
Hal ini penting karena jika bisa diketahui sejak awal tentu penanganannya juga akan lebih mudah. Pemerintah harus berani bertindak tegas jika melihat adanya gerakan yang dinilai mengancam keamanan masyarakat dan ketertiban umum. Di sinilah pentingnya peran intelijen untuk mengetahui lebih dini setiap gerakan ideologis yang berpotensi mengganggu keamanan negara. Tidak dapat disangkal bahwa Indonesia juga merupakan korban dari terorisme itu sendiri.
Membebaskan negara ini dari aksi teror memang bukan pekerjaan yang mudah. Banyak sekali kepentingan yang bermain dalam area ini. Diperlukan kesungguhan pemerintah yang didukung segenap aparatnya untuk bisa menumpas terorisme sampai ke akar-akarnya.Peran masyarakat tentu juga tak kalah penting untuk ikut menjaga lingkungan masing-masing agar steril dari gerakan radikal yang membahayakan keberlangsungan negara ini.
Tanpa dibantu masyarakat, aparat keamanan yang jumlahnya sangat terbatas tentu akan kesulitan dalam memonitor setiap jengkal wilayah negara ini yang begitu luas. Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah bagaimana kita harus menjadikan terorisme adalah musuh kita bersama. Kesamaan pemahaman ini penting dibangun untuk menghindari adanya salah pengertian tentang terorisme itu sendiri di masyarakat.
Tentu kita tidak ingin bahwa orang yang telah melakukan teror di masyarakat dianggap sebagai pahlawan atau pejuang. Pemahaman yang salah ini akhirnya menyuburkan lahirnya para teroris baru. Tentu kita tidak ingin negara ini menjadi lahan subur bagi lahirnya terorisme, bukan?
(azh)