SBY bersumpah tak bahas Century
Kamis, 16 Agustus 2012 - 08:54 WIB
SBY bersumpah tak bahas Century
A
A
A
Sindonews.com - Bola panas kasus Century terus bergulir. Tadi malam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya secara khusus menanggapi kontroversi pengakuan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, yang menyatakan rapat terbatas di Istana tanggal 9 Oktober 2008 membahas dana talangan (bailout) Bank Century. Presiden SBY bersumpah rapat tersebut tidak membicarakan masalah bailout Bank Century.
Menurut Kepala Negara, pertemuan yang dihadiri para penegak hukum dan para menteri terkait ini untuk membahas antisipasi krisis.
“Saya katakan malam ini di hadapan Allah SWT bahwa sama sekali tidak ada (pembahasan bailout Century). Tidak ada yang menyinggung Bank Century, apalagi membahasnya yang dinamakan bailout itu,” ujar Presiden dalam jumpa pers di Istana Negara tadi malam.
Dalam kesempatan itu, hadir mendampingi Presiden, antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa,Mensesneg Sudi Silalahi, dan Seskab Dipo Alam.
Seperti diberitakan pekan lalu, Antasari melalui tayangan Metro TV mengatakan bahwa terjadi pertemuan pada tanggal 9 Oktober 2008 di Kantor Presiden yang membahas perihal bailout Bank Century.
Menurut mantan Menkopolkam ini, pertemuan yang berlangsung tanggal 9 Oktober 2008 benar adanya. Dalam pertemuan itu hadir Jaksa Agung Hendarman Supandji, Kapolri Bambang Hendarso Danuri, Kepala BPKP Didi Widayadi, Ketua BPK Anwar Nasution, dan Ketua KPK Antasari Azhar.
Selain itu hadir pula jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid I, yaitu Menko Polhukam Widodo AS, Mensesneg Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Sofyan Djalil, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.
“Dokumentasi pertemuan itu lengkap. Baik itu rekaman, kasetnya utuh,tayangan video, tayangan dokumentasi, dan catatan masing-masing menteri di situ, apa saja yang dibicarakan saat itu,” tandas SBY meyakinkan.
Pada kesempatan itu Presiden juga meminta wartawan yang hadir meliput untuk membaca transkrip rapat pada tanggal 9 Oktober 2008 yang telah dikemas rapi menjadi sebuah buku.Buku bersampul biru berjudul “Bersatu Menghadapi Krisis” ditunjukkan oleh Presiden tadi malam.
“Transkrip lengkap akan saya bagikan. Silakan. Ada atau tidak kata-kata Bank Century, apalagi bailout Bank Century?” tambahnya dengan nada sedikit bertanya.
Pertemuan 9 Oktober 2008, lanjut Presiden, merupakan rangkaian pertemuan sidang kabinet pada tanggal 6 Oktober di Sekretariat Negara yang dihadiri seluruh jajaran KIB I, Kadin, ekonom, dan media massa. Pada rapat saat itu, menurut Presiden, banyak pandangan yang muncul karena krisis.
“Saudara-saudara, politik itu memang punya banyak cara, tetapi pilihlah cara yang patut dan beretika. Menyebarkan berita yang tidak benar bukanlah politik yang baik,” ujarnya.
Pada kesempatan itu Presiden mengaku lega karena telah membaca pernyataan Antasari yang dibacakan kuasa hukumnya, Maqdir Ismail. “Dan dikatakan tidak ada pembicaraan bailout Bank Century. Saya juga sudah meminta Pak Antasari untuk membaca transkrip pertemuan itu, termasuk ucapan Pak Antasari sendiri, siapa tahu Pak Antasari lupa atau khilaf,” papar Presiden.
Pengamat politik dari Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, Presiden SBY saat ini sulit lepas dari perang opini mengenai kasus Century. Karena itu, Presiden merasa perlu untuk memberi penjelasan sehubungan dengan pernyataan Antasari mengenai adanya pertemuan di Istana tanggal 9 Oktober 2008.
”Mungkin Presiden merasa sudah dalam pertarungan opini seakan-akan sudah dibentuk, apalagi informasi ini dijemput oleh DPR menjadi bola panas, mungkin Presiden ingin membentuk opini lain supaya tidak membunuh karakter beliau,” katanya.
Menurut Yunarto, pernyataan Presiden tersebut sebaiknya tidak terus-menerus digiring ke dalam pertarungan opini.
Sebab bila hal itu terjadi, kasus Century akan melebar tak tentu arah dan menjadi komoditas politik ketimbang diselesaikan secara hukum. Menurut dia, KPK harus fokus untuk melakukan penyelesaian atas kasus Century tersebut tanpa terombang-ambing dalam perang opini.
Menurut Kepala Negara, pertemuan yang dihadiri para penegak hukum dan para menteri terkait ini untuk membahas antisipasi krisis.
“Saya katakan malam ini di hadapan Allah SWT bahwa sama sekali tidak ada (pembahasan bailout Century). Tidak ada yang menyinggung Bank Century, apalagi membahasnya yang dinamakan bailout itu,” ujar Presiden dalam jumpa pers di Istana Negara tadi malam.
Dalam kesempatan itu, hadir mendampingi Presiden, antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Rajasa,Mensesneg Sudi Silalahi, dan Seskab Dipo Alam.
Seperti diberitakan pekan lalu, Antasari melalui tayangan Metro TV mengatakan bahwa terjadi pertemuan pada tanggal 9 Oktober 2008 di Kantor Presiden yang membahas perihal bailout Bank Century.
Menurut mantan Menkopolkam ini, pertemuan yang berlangsung tanggal 9 Oktober 2008 benar adanya. Dalam pertemuan itu hadir Jaksa Agung Hendarman Supandji, Kapolri Bambang Hendarso Danuri, Kepala BPKP Didi Widayadi, Ketua BPK Anwar Nasution, dan Ketua KPK Antasari Azhar.
Selain itu hadir pula jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid I, yaitu Menko Polhukam Widodo AS, Mensesneg Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Sofyan Djalil, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.
“Dokumentasi pertemuan itu lengkap. Baik itu rekaman, kasetnya utuh,tayangan video, tayangan dokumentasi, dan catatan masing-masing menteri di situ, apa saja yang dibicarakan saat itu,” tandas SBY meyakinkan.
Pada kesempatan itu Presiden juga meminta wartawan yang hadir meliput untuk membaca transkrip rapat pada tanggal 9 Oktober 2008 yang telah dikemas rapi menjadi sebuah buku.Buku bersampul biru berjudul “Bersatu Menghadapi Krisis” ditunjukkan oleh Presiden tadi malam.
“Transkrip lengkap akan saya bagikan. Silakan. Ada atau tidak kata-kata Bank Century, apalagi bailout Bank Century?” tambahnya dengan nada sedikit bertanya.
Pertemuan 9 Oktober 2008, lanjut Presiden, merupakan rangkaian pertemuan sidang kabinet pada tanggal 6 Oktober di Sekretariat Negara yang dihadiri seluruh jajaran KIB I, Kadin, ekonom, dan media massa. Pada rapat saat itu, menurut Presiden, banyak pandangan yang muncul karena krisis.
“Saudara-saudara, politik itu memang punya banyak cara, tetapi pilihlah cara yang patut dan beretika. Menyebarkan berita yang tidak benar bukanlah politik yang baik,” ujarnya.
Pada kesempatan itu Presiden mengaku lega karena telah membaca pernyataan Antasari yang dibacakan kuasa hukumnya, Maqdir Ismail. “Dan dikatakan tidak ada pembicaraan bailout Bank Century. Saya juga sudah meminta Pak Antasari untuk membaca transkrip pertemuan itu, termasuk ucapan Pak Antasari sendiri, siapa tahu Pak Antasari lupa atau khilaf,” papar Presiden.
Pengamat politik dari Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, Presiden SBY saat ini sulit lepas dari perang opini mengenai kasus Century. Karena itu, Presiden merasa perlu untuk memberi penjelasan sehubungan dengan pernyataan Antasari mengenai adanya pertemuan di Istana tanggal 9 Oktober 2008.
”Mungkin Presiden merasa sudah dalam pertarungan opini seakan-akan sudah dibentuk, apalagi informasi ini dijemput oleh DPR menjadi bola panas, mungkin Presiden ingin membentuk opini lain supaya tidak membunuh karakter beliau,” katanya.
Menurut Yunarto, pernyataan Presiden tersebut sebaiknya tidak terus-menerus digiring ke dalam pertarungan opini.
Sebab bila hal itu terjadi, kasus Century akan melebar tak tentu arah dan menjadi komoditas politik ketimbang diselesaikan secara hukum. Menurut dia, KPK harus fokus untuk melakukan penyelesaian atas kasus Century tersebut tanpa terombang-ambing dalam perang opini.
(lns)