Golkar perlu siapkan Capres cadangan
Sabtu, 04 Agustus 2012 - 04:46 WIB
Golkar perlu siapkan Capres cadangan
A
A
A
Sindonews.com - Partai Golkar disarankan untuk menyiapkan skenario cadangan atau plan B jika keputusan mencalonkan ketua umumnya, Aburizal Bakrie (Ical), harus kandas lantaran hasil pemilu legislatif tidak sesuai target 30% suara.
Pengamat politik dari Univer sitas Katolik Parahyangan (Unpar) Asep Warlan Yusuf menyatakan, bagaimanapun hasil pemilu legislatif akan sangat menentukan peta politik dan bursa pencalonan di Pilpres 2014.
"Kalau Golkar adalah partai yang peduli dan responsif ya harusnya ada skenario B. Skenario tunggal sekarang ini kan Pak Ical capresnya dan tinggal mencari cawapres, itu sudah final. Tapi hal itu justru bisa men jadi blunder ketika mendekati pilpres elektabilitasnya tetap mandek dan di sisi lain suara Golkar juga tidak memenuhi persyaratan mengajukan capres sendiri," kata Asep, di Jakarta, kemarin.
Dalam skenario B yang perlu disiapkan, kata dia, capresnya bukan Ical, melainkan berdasarkan pertimbangan dan keputusan yang rasional hasil konsolidasi struktural secara keseluruhan. Dalam pengambilan keputusan itu, Golkar perlu menyusun daftar kadernya yang paling potensial memenangi pilpres bila diusung.
"Kalau skenario itu dirancang, maka akan dinamis betul. Karena kalau tetap ngotot justru akan terperosok," ungkap Asep.
Menurut dia, ada empat kriteria yang perlu ditekankan oleh Golkar dalam seleksi menyiapkan skenario mengusung capres selain Ical. Keempat kriteria itu adalah mencari figur berpengalaman, punya program realistis, bisa memobilisasi finansial, dan mampu menyolidkan mesin politik. Jika capres cadangan memenuhi keempat faktor tersebut, peluang Golkar memenangi Pilpres 2014 sangat terbuka. "Dan itu memang tidak ada pada figur Pak Ical," kata Asep.
Siapa figur ideal untuk mengisi posisi capres cadangan? Asep melihat Golkar tidak akan mengalami kesulitan. Golkar, kata dia, adalah partai yang banyak memiliki tokoh besar dan berpengalaman. Menurut dia, mantan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla (JK) dan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso bisa disiapkan untuk skenario B.
Pengamat politik dari Charta Politika YunartoWijaya menilai, penetapan Ical sebagai capres Golkar hingga sejauh ini baru sebatas ke putusan. "Secara de jure pencapresan Ical sah berdasarkan internal partainya. Tapi secara de facto masih banyak masalah karena selain tokoh seniornya belum solid, juga karena belum ada dukungan riil dari DPD II atau kabupaten/kota," jelasnya.
Menurut dia, dengan keputusan formalitas itu, bisa jadi Ical hanya membutuhkan legitimasi bahwa tidak ada lagi kader Golkar yang berspekulasi mengenai capres.
Kalaupun pada akhirnya menyadari dirinya tidak akan memenangi Pilpres 2014, Ical juga yang akan mendominasi keputusan selanjutnya. Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung mengatakan, secara resmi partainya memang sudah men deklarasikan Ical sebagai capres. Namun, kata Akbar, Ical dalam berbagai kesempatan juga selalu mengatakan akan terus mencermati hasil survei elektabilitas.
Artinya, ketika ada dinamika yang berkembang dan itu punya efek politik, bisa jadi nantinya akan diputuskan skenario lain, termasuk mengenai capres cadangan. "Itu akan dicermati terus agar capres kami memiliki elektabilitas tinggi, memiliki probability, dan peluangnya tinggi jadi pemenang," ungkapnya.
Sambil terus mencermati dinamika politik, lanjut Akbar, lebih baik jika Ical dan Golkar fokus pada konsolidasi dan berupaya memenangi setiap pemilihan kepala daerah (pilkada). Jika bisa mendominasi pilkada, Golkar memiliki modal sangat besar untuk memenangi pemilu legislatif.
Pengamat politik dari Univer sitas Katolik Parahyangan (Unpar) Asep Warlan Yusuf menyatakan, bagaimanapun hasil pemilu legislatif akan sangat menentukan peta politik dan bursa pencalonan di Pilpres 2014.
"Kalau Golkar adalah partai yang peduli dan responsif ya harusnya ada skenario B. Skenario tunggal sekarang ini kan Pak Ical capresnya dan tinggal mencari cawapres, itu sudah final. Tapi hal itu justru bisa men jadi blunder ketika mendekati pilpres elektabilitasnya tetap mandek dan di sisi lain suara Golkar juga tidak memenuhi persyaratan mengajukan capres sendiri," kata Asep, di Jakarta, kemarin.
Dalam skenario B yang perlu disiapkan, kata dia, capresnya bukan Ical, melainkan berdasarkan pertimbangan dan keputusan yang rasional hasil konsolidasi struktural secara keseluruhan. Dalam pengambilan keputusan itu, Golkar perlu menyusun daftar kadernya yang paling potensial memenangi pilpres bila diusung.
"Kalau skenario itu dirancang, maka akan dinamis betul. Karena kalau tetap ngotot justru akan terperosok," ungkap Asep.
Menurut dia, ada empat kriteria yang perlu ditekankan oleh Golkar dalam seleksi menyiapkan skenario mengusung capres selain Ical. Keempat kriteria itu adalah mencari figur berpengalaman, punya program realistis, bisa memobilisasi finansial, dan mampu menyolidkan mesin politik. Jika capres cadangan memenuhi keempat faktor tersebut, peluang Golkar memenangi Pilpres 2014 sangat terbuka. "Dan itu memang tidak ada pada figur Pak Ical," kata Asep.
Siapa figur ideal untuk mengisi posisi capres cadangan? Asep melihat Golkar tidak akan mengalami kesulitan. Golkar, kata dia, adalah partai yang banyak memiliki tokoh besar dan berpengalaman. Menurut dia, mantan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla (JK) dan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso bisa disiapkan untuk skenario B.
Pengamat politik dari Charta Politika YunartoWijaya menilai, penetapan Ical sebagai capres Golkar hingga sejauh ini baru sebatas ke putusan. "Secara de jure pencapresan Ical sah berdasarkan internal partainya. Tapi secara de facto masih banyak masalah karena selain tokoh seniornya belum solid, juga karena belum ada dukungan riil dari DPD II atau kabupaten/kota," jelasnya.
Menurut dia, dengan keputusan formalitas itu, bisa jadi Ical hanya membutuhkan legitimasi bahwa tidak ada lagi kader Golkar yang berspekulasi mengenai capres.
Kalaupun pada akhirnya menyadari dirinya tidak akan memenangi Pilpres 2014, Ical juga yang akan mendominasi keputusan selanjutnya. Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung mengatakan, secara resmi partainya memang sudah men deklarasikan Ical sebagai capres. Namun, kata Akbar, Ical dalam berbagai kesempatan juga selalu mengatakan akan terus mencermati hasil survei elektabilitas.
Artinya, ketika ada dinamika yang berkembang dan itu punya efek politik, bisa jadi nantinya akan diputuskan skenario lain, termasuk mengenai capres cadangan. "Itu akan dicermati terus agar capres kami memiliki elektabilitas tinggi, memiliki probability, dan peluangnya tinggi jadi pemenang," ungkapnya.
Sambil terus mencermati dinamika politik, lanjut Akbar, lebih baik jika Ical dan Golkar fokus pada konsolidasi dan berupaya memenangi setiap pemilihan kepala daerah (pilkada). Jika bisa mendominasi pilkada, Golkar memiliki modal sangat besar untuk memenangi pemilu legislatif.
(san)