Parpol menengah butuh figur eksternal
Jum'at, 03 Agustus 2012 - 09:26 WIB
Parpol menengah butuh figur eksternal
A
A
A
Sindonews.com - Semangat memunculkan figur alternatif akan berjalan mulus jika ada kesadaran dari elite partai politik (parpol), terutama tokoh tua untuk mengalah.
Hanya melalui parpol, figur alternatif memiliki ruang untuk muncul kehadapan publik. Sedangkan kebijakan parpol selama ini justru dikuasai para tokoh tua.
”Indonesia membutuhkan tokoh baru yang memiliki energi besar. Pemimpin baru ini diharapkan memiliki kredibilitas dan perspektif luas sehingga bisa membawa bangsa ini untuk mengikuti tantangan dan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Parpol perlu membuka ruang bagi munculnya figur baru itu,” tandas pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro di Jakarta kemarin.
Siti sepakat klasifikasi calon pemimpin itu tidak perlu didikotomikan antara tua dan muda berdasarkan usia. Namun, jika yang diharapkan muncul adalah figur alternatif, itu bukanlah dari kalangan senior yang sudah mewarnai kompetisi sejak reformasi 1998.
Menurut dia, figur alternatif adalah mereka yang tidak merepresentasikan kekuatan politik lama atau wajah politik lama. Dengan begitu, harapan perubahan sebagaimana diinginkan publik bisa membuat kefiguran seorang tokoh bisa diterima.
”Masyarakat sudah memiliki kriteria untuk calon pemimpin pada Pilpres 2014. Jika parpol besar tidak mengakomodasi keinginan masyarakat, mereka akan dihukum. Masyarakat tidak akan memilihnya,” katanya.
Dengan kondisi itu, Siti mengingatkan kepada tokoh-tokoh yang sudah gagal dalam pilpres sebelumnya untuk sadar diri. Menurut dia, kalau sudah mencalonkan dan tidak laku, sebaiknya becermin.
”Bukan malah berpikiran bahwa kalau tidak sekarang kapan lagi. Mereka harus bijaksana,” tandasnya.
Beberapa figur alternatif mulai muncul dalam berbagai survei dan jajak pendapat, baik figur dari parpol maupun dari nonparpol.
Belakangan jajak pendapat yang dilakukan sebuah stasiun televisi swasta menunjukkan ada respons positif publik terhadap figur alternatif.
Dalam jajak pendapat itu muncul sejumlah capres yakni Wakil Ketua DPR yang juga Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso berada di posisi teratas dengan perolehan 21,11 persen, diikuti Ketua DPP PDIP Puan Maharani dengan perolehan 16,94 persen.
Kemudian Wakil Ketua DPR dari PDIP Pramono Anung 13,06 persen, Sandiaga Uno 10,97 persen, Dahlan Iskan 10,95 persen,dan Mahfud MD 10,68 persen.
Adapun survei yang dilakukan Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga memunculkan capres alternatif seperti Surya Paloh dengan elektabilitas mencapai 1,4 persen, Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan 0,9 persen, dan Dahlan Iskan 0,9 persen.
Sementara hingga saat ini parpol yang sudah menetapkan capres hanya tiga yakni Partai Golkar yang telah mendeklarasikan Aburizal Bakrie (Ical) sebagai capres, lalu Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, serta Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa.
Sementara dua partai besar lain yakni Partai Demokrat dan PDIP masih belum memutuskan akan mengusung siapa.
Direktur Lembaga Kajian dan Survei Nusantara (LAKSNU) Gugus Joko Waskito mengatakan, dengan kondisi seperti saat ini, seharusnya partai menengah khususnya yang belum punya figur capres yakni PPP, PKS, PKB, Hanura, dan NasDem tidak sekadar melakukan cek gelombang/cek pasar siapa figur yang akan dicapreskan.
”Pilihannya hanya tiga, mencapreskan kader internal partainya, mencapreskan figur nonpartai, atau berkoalisi dengan partai yang sudah jelas figur capresnya,” kata Gugus.
Semua pilihan itu serba mungkin dan penuh dengan pertimbangan. Namun, jika mau melakukan pilihan dengan pertimbangan mendongkrak perolehan suara, partai menengah lebih ideal mulai mengumumkan capresnya atau paling tidak menyosialisasikan siapa capres yang kemungkinan besar akan didukung sebelum pelaksanaan pemilu legislatif.
Akan lebih baik lagi, ujarnya, jika parpol menengah mempertimbangkan melirik figur dari kalangan eksternal atau nonparpol.
”Kenapa? Karena jika partai-partai tersebut tepat memilih figur yang layak dan laku di masyarakat, bukan tidak mungkin perolehan suaranya akan ikut naik saat pemilu legislatif,” tandasnya.
Wakil Ketua Umum DPP PPP Lukman Hakim Saifuddin mengklaim partainya sudah membuka semua figur potensial untuk ditawarkan ke publik.
PPP tidak hanya menunggu dan memaksakan figur dari kalangan internal, tetapi juga siap mengusung figur terbaik asalkan tingkat penerimaan publik besar dan kuat.
Hanya melalui parpol, figur alternatif memiliki ruang untuk muncul kehadapan publik. Sedangkan kebijakan parpol selama ini justru dikuasai para tokoh tua.
”Indonesia membutuhkan tokoh baru yang memiliki energi besar. Pemimpin baru ini diharapkan memiliki kredibilitas dan perspektif luas sehingga bisa membawa bangsa ini untuk mengikuti tantangan dan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Parpol perlu membuka ruang bagi munculnya figur baru itu,” tandas pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro di Jakarta kemarin.
Siti sepakat klasifikasi calon pemimpin itu tidak perlu didikotomikan antara tua dan muda berdasarkan usia. Namun, jika yang diharapkan muncul adalah figur alternatif, itu bukanlah dari kalangan senior yang sudah mewarnai kompetisi sejak reformasi 1998.
Menurut dia, figur alternatif adalah mereka yang tidak merepresentasikan kekuatan politik lama atau wajah politik lama. Dengan begitu, harapan perubahan sebagaimana diinginkan publik bisa membuat kefiguran seorang tokoh bisa diterima.
”Masyarakat sudah memiliki kriteria untuk calon pemimpin pada Pilpres 2014. Jika parpol besar tidak mengakomodasi keinginan masyarakat, mereka akan dihukum. Masyarakat tidak akan memilihnya,” katanya.
Dengan kondisi itu, Siti mengingatkan kepada tokoh-tokoh yang sudah gagal dalam pilpres sebelumnya untuk sadar diri. Menurut dia, kalau sudah mencalonkan dan tidak laku, sebaiknya becermin.
”Bukan malah berpikiran bahwa kalau tidak sekarang kapan lagi. Mereka harus bijaksana,” tandasnya.
Beberapa figur alternatif mulai muncul dalam berbagai survei dan jajak pendapat, baik figur dari parpol maupun dari nonparpol.
Belakangan jajak pendapat yang dilakukan sebuah stasiun televisi swasta menunjukkan ada respons positif publik terhadap figur alternatif.
Dalam jajak pendapat itu muncul sejumlah capres yakni Wakil Ketua DPR yang juga Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso berada di posisi teratas dengan perolehan 21,11 persen, diikuti Ketua DPP PDIP Puan Maharani dengan perolehan 16,94 persen.
Kemudian Wakil Ketua DPR dari PDIP Pramono Anung 13,06 persen, Sandiaga Uno 10,97 persen, Dahlan Iskan 10,95 persen,dan Mahfud MD 10,68 persen.
Adapun survei yang dilakukan Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga memunculkan capres alternatif seperti Surya Paloh dengan elektabilitas mencapai 1,4 persen, Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan 0,9 persen, dan Dahlan Iskan 0,9 persen.
Sementara hingga saat ini parpol yang sudah menetapkan capres hanya tiga yakni Partai Golkar yang telah mendeklarasikan Aburizal Bakrie (Ical) sebagai capres, lalu Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, serta Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa.
Sementara dua partai besar lain yakni Partai Demokrat dan PDIP masih belum memutuskan akan mengusung siapa.
Direktur Lembaga Kajian dan Survei Nusantara (LAKSNU) Gugus Joko Waskito mengatakan, dengan kondisi seperti saat ini, seharusnya partai menengah khususnya yang belum punya figur capres yakni PPP, PKS, PKB, Hanura, dan NasDem tidak sekadar melakukan cek gelombang/cek pasar siapa figur yang akan dicapreskan.
”Pilihannya hanya tiga, mencapreskan kader internal partainya, mencapreskan figur nonpartai, atau berkoalisi dengan partai yang sudah jelas figur capresnya,” kata Gugus.
Semua pilihan itu serba mungkin dan penuh dengan pertimbangan. Namun, jika mau melakukan pilihan dengan pertimbangan mendongkrak perolehan suara, partai menengah lebih ideal mulai mengumumkan capresnya atau paling tidak menyosialisasikan siapa capres yang kemungkinan besar akan didukung sebelum pelaksanaan pemilu legislatif.
Akan lebih baik lagi, ujarnya, jika parpol menengah mempertimbangkan melirik figur dari kalangan eksternal atau nonparpol.
”Kenapa? Karena jika partai-partai tersebut tepat memilih figur yang layak dan laku di masyarakat, bukan tidak mungkin perolehan suaranya akan ikut naik saat pemilu legislatif,” tandasnya.
Wakil Ketua Umum DPP PPP Lukman Hakim Saifuddin mengklaim partainya sudah membuka semua figur potensial untuk ditawarkan ke publik.
PPP tidak hanya menunggu dan memaksakan figur dari kalangan internal, tetapi juga siap mengusung figur terbaik asalkan tingkat penerimaan publik besar dan kuat.
(lns)