Rindu negarawan

Sabtu, 30 Juni 2012 - 23:46 WIB
Rindu negarawan
Rindu negarawan
A A A
SITUASI politik negeri ini sedang tidak kondusif. Ada nuansa saling jegal, saling serang, dan saling sikut antarelemen bangsa demi pertarungan menuju Pemilu 2014. Seperti diprediksi sebelumnya, tahun 2012 dan 2013 memang pantas disebut sebagai tahun politis.

Sebab hampir semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa dipisahkan dari unsur politisasi. Publik dan masyarakat luas semakin sulit membedakan mana yang masuk kategori politisasi dan mana yang masuk kategori murni dari hati nurani. Kalaupun ada perbedaan, itu sangatlah tipis. Hanya masyarakat yang jeli dan cermat serta melek informasi yang bisa membacanya.

Masyarakat yang kurang jeli dan cermat bisa termakan, baik secara sadar maupun tidak sadar, untuk mengikuti arahan sang elite. Sebenarnya situasi seperti ini wajar-wajar saja. Hampir setiap event politik, baik itu pilkada, kongres parpol maupun suksesi di organisasi apa pun, selalu dibumbui tensi tinggi dalam rivalitas perebutan posisi, kursi, dan kekuasaan.

Apalagi ini menjelang hajatan besar pemilihan presiden dan pemilu legislatif 2014. Yang patut menjadi catatan kita adalah mengapa semua energi dan perhatian bangsa ini tersedot dalam arus politisasi tersebut. Sebagai bangsa yang sudah lumayan lama mengadopsi demokrasi, semestinya kematangan dan kedewasaan para elite politik dan masyarakat kita bisa membuat gairah politik ini semakin mencerdaskan, bukan malah membosankan.

Budaya politik yang santun, saling menghargai perbedaan, legawa menerima kekalahan, tidak lupa diri dalam kemenangan, menjunjung tinggi aturan main, adalah nilai-nilai yang makin jauh dari pentas politik nasional kita. Sikap-sikap terpuji yang diharapkan bisa mencetak para negarawan pun tergantikan oleh sikap-sikap yang tercela yang hanya akan melahirkan elite-elite yang korup, ingkar dan mengecewakan rakyat ketika mereka meraih kekuasaan.

Karena itu, kita semua tidak boleh lengah untuk selalu mengingatkan diri sendiri dan masyarakat agar tidak salah pilih pada pemilu nanti. Sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam negara demokrasi, rakyat memiliki hak penuh untuk menentukan siapa yang pantas dipilih dan siapa yang pantas tidak dipilih dalam Pemilu 2014.Rakyat tidak boleh terbuai oleh kata-kata manis dan janji-janji palsu dari elite-elite politik yang sebenarnya sudah ketahuan rekam jejaknya di masa lalu.

Salah satu ukuran apakah elite itu bisa disebut pemimpin atau sekadar penguasa bisa dilihat dari rekam jejaknya.Dari situ bisa terbaca konsistensi, keberpihakan, kematangan, dan kecenderungan tindakan si elite jika terpilih sebagai pemimpin negara nantinya. Sudahkan cocok antara perkataan dan perbuatannya, sejauh mana komitmen kebangsaan dan kenegaraannya, bagaimana konsistensinya dalam membela kepentingan masyarakat dan seterusnya.

Pencitraan politik yang dianggap sebagai senjata yang ampuh untuk mengelabui noda-noda hitam sang tokoh pun akan tumpul jika masyarakat cermat dan jeli dalam menjatuhkan pilihan. Pemilu 2014 adalah momentum emas bagi rakyat Indonesia untuk memilih pemimpin yang tepat yang bisa membawa bangsa ini makin sejahtera sebagai negara maju yang disegani dunia.

Memilih tokoh yang dibebani persoalan masa lalu hanya akan melahirkan problem baru yang akan menyandera perjalanan bangsa ini di masa depan. Sekali lagi kita berharap akan muncul para negarawan yang berani mengambil risiko, mengorbankan kepentingan pribadi/kelompok untuk mengabdi pada nusa dan bangsa. Tidak mudah memang, tapi pasti ada tokoh yang akan muncul sebagai negarawan besar yang akan membawa bangsa ini menjadi bangsa besar.
(hyk)
Berita Terkait
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Mendata Masyarakat Miskin...
Mendata Masyarakat Miskin Baru
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Berita Terkini
Yusril Tegaskan Abdul...
Yusril Tegaskan Abdul Karim Bukan Ulama dan Aktivis Kemanusiaan Gaza
Soal Peluang Periksa...
Soal Peluang Periksa Nanik S Deyang di Kasus MBG, Kejagung: Minggu Ini Belum Ada Jadwal
Yusril Berkunjung ke...
Yusril Berkunjung ke MUI Malam Ini, Jelaskan Penangkapan WNA Palestina Abdul Karim Raeq Miqdad
KPK Panggil 4 Tersangka...
KPK Panggil 4 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Jatim
Pakar Minta Polisi Objektif...
Pakar Minta Polisi Objektif Usut Dugaan Penghinaan Terhadap Jurnalis
Penanganan Dugaan Kasus...
Penanganan Dugaan Kasus Febrie Adriansyah Jadi Ujian Independensi Penegak Hukum
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved