Kata Pengamat LIPI Soal Isu Jual Beli Kursi PAW Anggota DPR

Minggu, 12 Januari 2020 - 16:15 WIB
Kata Pengamat LIPI Soal...
Kata Pengamat LIPI Soal Isu Jual Beli Kursi PAW Anggota DPR
A A A
JAKARTA - Terkuaknya kasus jual-beli kursi DPR lewat Pergantian Antar-Waktu (PAW) dengan tertangkapnya Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu, mengungkap bahwa institusi parpol tidak bertanggung jawab menjalankan perannya sebagai lembaga demokrasi.

Dan Ketua Umum (Ketum) Parpol seharusnya memegang peranan sebagai manajer yang bertanggung jawab sehingga kasus jual-beli PAW ini tidak terjadi.

“Ketua umum partai seharusnya berperan sebagai nanajer partai yang bertanggung jawab terhadap maju mundurnya partai. Selain itu, ia juga melakukan kaderisasi dan promosi kader secara transparan dan akuntabel,” kata Pakar Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro saat dihubungi di Jakarta, Minggu (12/1/2020).

Menurut perempuan yang akrab disapa Wiwiek ini, kemampuan manajerial yang bertanggung jawab dari seorang Ketum Parpol ini sangat krusial dalam sebuah parpol khususnya, guna menghindari promosi kader ke jenjang-jenjang tertentu dilakukan secara serampangan atau menafikan kaidah dan peraturan yang ada.

“Promosi kader tidak boleh semata-mata dilandasi oleh suka-tidak suka atau karena kedekatan dan kekerabatan. Apalagi kalau sampai ke taraf diperjualbelikan. Ini sangat celaka karena menodai demokrasi dan menimbulkan public distrust (ketidakpercayaan publik) yang serius,” tutur Wiwek.

Profesor Riset Ilmu Politik ini mengakui bahwa memang uang menggoda siapa saja. Tetapi, hasil jual-beli PAW seperti itu sangat menodai demokrasi, sangat tidak elok dan tidak etis dilakukan oleh siapapun termasuk oleh elite partai dan komisioner KPU. Terlebih parpol dan KPU ini lembaga demokrasi.

Wiwiek menegaskan bahwa partai politik secara prinsip harus mampu merefleksikan institusinya sebagai rumah demokrasi dan aset negara.

“Karena itu tidak pada tempatnya jika pimpinan partai bertindak otoriter dengan memecat kader tanpa alasan yang logis dan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan,” tandasnya.
(pur)
Berita Terkait
Aturan Keluarga Satu...
Aturan Keluarga Satu Partai Dinilai Beri Dampak Positif bagi PDIP
Jadi Partai Modern,...
Jadi Partai Modern, PDIP Dinilai Tak Tinggalkan Elan Kerakyatan
PDIP Akan Ekspose Prestasi...
PDIP Akan Ekspose Prestasi Kepemimpinan 3 Pilar Partai ke Publik
Romo Benny Sebut PDIP...
Romo Benny Sebut PDIP Partai Modern yang Kekuatannya pada Struktur Organisasi
PDIP Gelar Banteng Ride...
PDIP Gelar Banteng Ride and Night Run, 500 Orang Daftar
PDIP Akan Serap Aspirasi...
PDIP Akan Serap Aspirasi Rakyat Sebelum Bertemu Parpol Lain
Berita Terkini
Kemendagri Terus Perkuat...
Kemendagri Terus Perkuat Pengawasan dan Transparansi Tata Kelola Pemerintahan
Bareskrim Polri Tahan...
Bareskrim Polri Tahan 2 Bos Pabrik Gas Whip Pink
Oegroseno Buka Suara...
Oegroseno Buka Suara usai Absen dari Panggilan Kortas Tipidkor: Datang Harus Bawa Data
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Kasus Pembunuhan Sesama...
Kasus Pembunuhan Sesama WNI di Armenia, Kemlu: 2 Orang Dibebaskan, 4 Masih Diperiksa
KPK Periksa Sekjen Kementerian...
KPK Periksa Sekjen Kementerian ATR/BPN dan Pejabat Kemenhut terkait Kasus Bupati Kuansing
Infografis
Ini Rincian Gaji Anggota...
Ini Rincian Gaji Anggota DPR Jadi Rp65,5 Juta usai Pemangkasan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved