Singgung Jaksa Agung dari Parpol, Nasdem Merasa Diserang
Kamis, 07 November 2019 - 18:45 WIB
Singgung Jaksa Agung dari Parpol, Nasdem Merasa Diserang
A
A
A
JAKARTA - Dalam Rapat Kerja (Raker) perdana Komisi III DPR dengan Jaksa Agung (JA) ST Burhanuddin, salah satu Anggota Komisi III dari Fraksi Demokrat Benny K Harman menyinggung soal jabatan JA yang diisi oleh orang parpol dan memanfaatkan posisi JA sebagai kendaraan politik.
Namun, Anggota Komisi III dari Nasdem Taufik Basari merasa tersinggung bahkan merasa diserang dengan pernyataan yang tendensius.
“Tadi dikatakan Bapak Jaksa Agung itu dikatakan adik sahabat saya Bapak TB Hasanuddin. Saya tanyakan juga ke temen-teman yang lain apakah betul atau tidak, semua menjawab betul sekali dan jawabannya dengan penuh kebanggaan. Saya juga ikut bangga. Tetapi ada pertanyaan yang terlintas di situ. Ada semacam kebanggaan dan ada juga ketakutan,” kata Benny di Ruang Rapat Komisi III DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (7/11/2019).
Benny menjelaskan, ketakutan itu lantaran dulu ada JA yang jelas-jelas berasal dari parpol, dan menjadikan institusi kejaksaan sebagai alat politik. Karena itu, dia mengingatkan agar ST Burhanuddin dapat menjadikan pelajaran dan menjaga profesionalitas di kejaksaan.
“Saya mohon bapak Jaksa Agung, catat ini, tolong jaga netralitas, jaga profesionalitas. Dan Jagalah keadilan,” pinta Benny.
Namun, Taufik Basari merasa tersinggung dan langsung mengajukan interupsi. Tetapi, Ketua Komisi III DPR Herman Herry selaku pimpinan sidang meminta agar Benny menyelesaikan terlebih dulu. “Sebentar-sebentar. Biarkan dia (Benny) selesai dulu,” kata Herman.
Dengan tersenyum, Benny menuturkan bahwa dirinya tidak menyebut nama siapapun. Jadi, jika ada pihak yang merasa menganggap pernyataannya itu ditujukan kepada dia, itu hanya anggapan pribadinya saja.
“Saya ndak menyebut siapa-siapa loh, kecuali ada yang menganggap jelas, ya dia sendiri yang menganggap itu, saya tahu saya tidak mengungkapkan itu, tetapi ada yang merasa jelas ya silahkan,” ucapnya.
Setelah Benny selesai, Taufik Basari diberikan kesempatan berbicara. Dia merasa bahwa pernyataan Benny itu tendensius dan menuduh. Padahal, saat JA HM Prasetyo menjabat, kesempatan untuk mengkritik dibuka seluas mungkin.
“Saya hanya ingin memberikan catatan saja agar jangan tendensius, ketika kita menyampaikan sesuatu hal yang menuduh di antara kita di sini terkait dengan partai politik misalnya, itu kan kemarin kita selama sepanjang periode jaksa agung kemarin kan terbuka seluas luasnya jika ingin mempertanyakan jika ada masalah jika ada sesuatu hal. Ya itu kan bisa ditanyakan saat dulu, kalau kemarin tidak ada persoalan, kenapa kemudian dipertanyakan sekarang. Itu saja pimpinan,” ujar Taufik.
Namun, Benny membela diri bahwa dia tidak menuduh parpol atau JA tertentu. Karena, kader parpol yang menjadi JA bukan hanya dari Nasdem saja tapi juga ada parpol lainnya. “Saya tidak menuduh siapapun partai politik itu, tetapi saya ingatkan dulu ada orang partai politik yang menjadi jaksa agung, dan menggunakan institusi ini alat politiknya. Siapa yang saya sebutkan itu bukan partai tertentu,” kilah Benny.
“Jadi, kalau ada yang tersinggung, loh, sebut siapa yang sebutkan itu, sebab jaksa agung dulu ada dari PBB, ada dari Golkar, ada PPP,” tambahnya.
Lalu, Herman Herry menghentikan perdebatan itu dan akan menyelesaikannya di ruang Pimpinan Komisi III DPR. “Cukup-cukup. Jika masih ada yang belum selesai, saya skors rapat ini selesaikan di ruang pimpinan,” ucap Politikus PDIP itu.
Namun, Anggota Komisi III dari Nasdem Taufik Basari merasa tersinggung bahkan merasa diserang dengan pernyataan yang tendensius.
“Tadi dikatakan Bapak Jaksa Agung itu dikatakan adik sahabat saya Bapak TB Hasanuddin. Saya tanyakan juga ke temen-teman yang lain apakah betul atau tidak, semua menjawab betul sekali dan jawabannya dengan penuh kebanggaan. Saya juga ikut bangga. Tetapi ada pertanyaan yang terlintas di situ. Ada semacam kebanggaan dan ada juga ketakutan,” kata Benny di Ruang Rapat Komisi III DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (7/11/2019).
Benny menjelaskan, ketakutan itu lantaran dulu ada JA yang jelas-jelas berasal dari parpol, dan menjadikan institusi kejaksaan sebagai alat politik. Karena itu, dia mengingatkan agar ST Burhanuddin dapat menjadikan pelajaran dan menjaga profesionalitas di kejaksaan.
“Saya mohon bapak Jaksa Agung, catat ini, tolong jaga netralitas, jaga profesionalitas. Dan Jagalah keadilan,” pinta Benny.
Namun, Taufik Basari merasa tersinggung dan langsung mengajukan interupsi. Tetapi, Ketua Komisi III DPR Herman Herry selaku pimpinan sidang meminta agar Benny menyelesaikan terlebih dulu. “Sebentar-sebentar. Biarkan dia (Benny) selesai dulu,” kata Herman.
Dengan tersenyum, Benny menuturkan bahwa dirinya tidak menyebut nama siapapun. Jadi, jika ada pihak yang merasa menganggap pernyataannya itu ditujukan kepada dia, itu hanya anggapan pribadinya saja.
“Saya ndak menyebut siapa-siapa loh, kecuali ada yang menganggap jelas, ya dia sendiri yang menganggap itu, saya tahu saya tidak mengungkapkan itu, tetapi ada yang merasa jelas ya silahkan,” ucapnya.
Setelah Benny selesai, Taufik Basari diberikan kesempatan berbicara. Dia merasa bahwa pernyataan Benny itu tendensius dan menuduh. Padahal, saat JA HM Prasetyo menjabat, kesempatan untuk mengkritik dibuka seluas mungkin.
“Saya hanya ingin memberikan catatan saja agar jangan tendensius, ketika kita menyampaikan sesuatu hal yang menuduh di antara kita di sini terkait dengan partai politik misalnya, itu kan kemarin kita selama sepanjang periode jaksa agung kemarin kan terbuka seluas luasnya jika ingin mempertanyakan jika ada masalah jika ada sesuatu hal. Ya itu kan bisa ditanyakan saat dulu, kalau kemarin tidak ada persoalan, kenapa kemudian dipertanyakan sekarang. Itu saja pimpinan,” ujar Taufik.
Namun, Benny membela diri bahwa dia tidak menuduh parpol atau JA tertentu. Karena, kader parpol yang menjadi JA bukan hanya dari Nasdem saja tapi juga ada parpol lainnya. “Saya tidak menuduh siapapun partai politik itu, tetapi saya ingatkan dulu ada orang partai politik yang menjadi jaksa agung, dan menggunakan institusi ini alat politiknya. Siapa yang saya sebutkan itu bukan partai tertentu,” kilah Benny.
“Jadi, kalau ada yang tersinggung, loh, sebut siapa yang sebutkan itu, sebab jaksa agung dulu ada dari PBB, ada dari Golkar, ada PPP,” tambahnya.
Lalu, Herman Herry menghentikan perdebatan itu dan akan menyelesaikannya di ruang Pimpinan Komisi III DPR. “Cukup-cukup. Jika masih ada yang belum selesai, saya skors rapat ini selesaikan di ruang pimpinan,” ucap Politikus PDIP itu.
(pur)