Tren Pembentukan Koalisi Baru Menuju 2024 Menguat

Jum'at, 01 November 2019 - 10:30 WIB
Tren Pembentukan Koalisi...
Tren Pembentukan Koalisi Baru Menuju 2024 Menguat
A A A
JAKARTA - Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Nyarwi Ahmad menganggap, meski kontestasi Pemilu 2024 masih sangat jauh, ada tren menarik atau fakta politik baru yakni, munculnya konsolidasi antar partai politik pascapengumuman kabinet oleh Presiden Jokowi.

Menurutnya, tren ini bukan sekadar bagi-bagi jatah kursi menteri dan peran pemerintah dalam mengelola kekuasaan negara dengan pertimbangan depolarisasi, anti radikalisasi dan keutuhan NKRI.
"Namun juga konsolidasi peran parpol dalam sistem demokrasi kita," kata Nyarwi kepada SINDOnews, Jumat (1/11/2019).

Nyarwi menganggap, konsolidasi ini tampaknya tidak hanya untuk penguatan visibilitas peran parpol dalam panggung politik Indonesia, namun juga penguatan main streaming narasi kebangsaan.

Lantas apakah artinya konsolidasi sebelum Pemilu 2024 itu tidak lagi kuat? Nyarwi memandang sebagai konsolidasi pragmatis untuk kepentingan pilpres dan berpotensi bisa rapuh.

Gejala itu mulai diperlihatkan oleh Partai Nasdem, sebagai partai pengusung Jokowi-KH. Ma'ruf Amin. "Masuknya Gerindra dan Prabowo kian mempersempit ruang Nasdem dalam Pemerintahan Jokowi," tutur dia.

Nyarwi melihat Nasdem dan aliansi parpol lain untuk menjaga agar eksistensinya tetap menguat dan atas nama kepentingan rakyat tetap melihat dinanika politik berbasis pada retorika.

Menurutnya, pentingnya blok opisisi di luar pemerintah untuk menjaga sustainability atau keberlanjutan demokrasi menjadi dalih yang tak bisa terbantahkan.

"Nasdem sepertinya mengembangkan langkah kuda. Menjalin konsolidasi dengan parpol-parpol di luar blok parpol pendukung pemerintah," ujarnya.

Kemudian, apakah perpindahan posisi parpol seperti ini akan terus terjad hingga 2024 nanti. Nyarwi menyebut, tren semacam itu jelas terbuka dan semakin menguat mendekati 2024. Dengan kata lain, pembentukan koalisi baru kian terbuka lebar.

Terlebih jika dalam perjalanan 4 tahun ke depan, Presiden Jokowi terus mengambil kebijakan-kebijakan yang tidak populis, yang dianggap membebani kehidupan masyarakat ataupun kebijakan-kebijakannya tidak dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.

"Jika kondisi tersebut diiring dengan meningkatnya tingkat ketidakpuasaan pada kinerja Pemerintahan Jokowi dan disertai dengan menguatnya gelombang protes ke Pemerintahan Jokowi, tren tersebut bisa makin meningkat," katanya.
(cip)
Berita Terkait
PAN Gabung Koalisi Jokowi,...
PAN Gabung Koalisi Jokowi, Pengamat: Tidak Selalu Harus Masuk Kabinet
Selain Wapres, Jokowi...
Selain Wapres, Jokowi Disarankan Aktifkan Ma'ruf Amin Jadi Penasihat
Reshuffle Kabinet Dinilai...
Reshuffle Kabinet Dinilai Sulit Hindari Tarik Menarik Kepentingan Partai
Reshuffle Kabinet, Partai...
Reshuffle Kabinet, Partai Demokrat: Kami Tidak Akan Mencampurinya
Jejak Reshuffle Kabinet...
Jejak Reshuffle Kabinet Era Jokowi-Ma'ruf Amin
Pemerintah Diimbau Antisipasi...
Pemerintah Diimbau Antisipasi Gimik Politik Terkait Dana Stimulus UMKM
Berita Terkini
9 Jaksa Mulai Bekerja...
9 Jaksa Mulai Bekerja Tangani Kasus Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
Dirikan LBH, Jro Bima:...
Dirikan LBH, Jro Bima: Perindo Bali Harus Jadi Rumah Keadilan
Gibran Duduk di Barisan...
Gibran Duduk di Barisan Menteri saat Sidang Kabinet, Mensesneg Beri Penjelasan
KPK Tetapkan Bupati...
KPK Tetapkan Bupati Lombok Barat Tersangka Dugaan Suap dan Gratifikasi
Istana: Presiden Prabowo...
Istana: Presiden Prabowo Bakal Angkat Jampidsus Definitif dalam 1-2 Hari
Paripurna DPR Setujui...
Paripurna DPR Setujui Wahidah Suaib Jadi Anggota Ombudsman Pengganti Hery Susanto
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved