Wakil Ketua MPR: Santri Harus Diberdayakan Agar Tak Disusupi Paham Radikal

Kamis, 31 Oktober 2019 - 04:12 WIB
Wakil Ketua MPR: Santri...
Wakil Ketua MPR: Santri Harus Diberdayakan Agar Tak Disusupi Paham Radikal
A A A
GRESIK - Upaya menangkal paham radikal harus terus dilakukan. Termasuk di kalangan santri. Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, sebenarnya di kalangan santri terutama santri Nahdlatul Ulama (NU), isu radikalisme tidak menjadi persoalan karena mereka sudah ditanamkan kecintaan pada Tanah Air sebagai bagian dari iman.

Kendati begitu, upaya penguatan terhadap santri harus terus dilakukan agar tidak disusupi paham radikal. Di antara cara yang bisa dilakukan yaitu harus ada penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) santri.

"Kedua, ekonomi santri harus hidup. Justru agar tidak tergoda oleh pikiran-pikiran lain yang biasanya muncul terutama karena faktor ekonomi, ketidakberdayaan, empat pilar itu mudah rapuh," tuturnya dalam acara Peringatan Hari Santri Nasional dan Pertemuan Tokoh Masyarakat Bawean dengan tema Meneguhkan Energi Nasionalisme Kaum Santri di Lapangan Tanjung Anyar, Lebak, Sangkapura, Bawean, Gresik, Rabu (30/10/2019) malam.

Wakil Ketua Umum PKB ini mengatakan melalui momentum Hari Santri Nasional, perlu dipersiapkan program-program oleh pemerintah agar bagaimana daerah bisa terjaga kuat.
"Termasuk sekarang ada UU Pesantren. Apa yang kemudian bisa dilakukan untuk momentum santri, utamanya di bidang ekonomi dan pendidikan," urainya.

Menurut Jazil, tak bisa dipungkiri bahwa posisi santri harusnya berada di garis paling depan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Karena Empat Pilar itu santri sudah diajarkan sejak kecil. Bahkan dilagukan itu, cinta Tanah Air itu sebagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Itu artinya cinta NKRI. NKRI itu ada aturannya, Pancasila ada undang-undangnya. Jadi santri menurut saya harus ada di garda paling depan," paparnya.

Namun, hal itu dinilai tidak cukup. Santri harus diberikan peluang dan dukungan pemberdayaan. "Kalau tidak, nanti akan disusupi itu (paham radikal). Justru munculnya isu-isu radikalisme itu karena lulus dari pesantren enggak punya pekerjaan lalu keluar negeri. Di situ tertular itu," katanya.

Jazil mencontohkan di beberapa di daerah pemilihannya di Lamongan tertularnya paham radikal bukan di daerah tempatnya tapi mereka tertular ketika mencari kerja di luar negeri. Kemudian bertemu dengan kelompok-kelompok ekstremis untuk direkrut dan diajari.

"Jadilah itu. Kemudian melakukan operasinya di Indonesia. Kalau melakukan operasinya di luar sih saya kira tidak akan merusak bangsa kita," katanya.
(kri)
Berita Terkait
Marwan Jafar: Saatnya...
Marwan Jafar: Saatnya Nahdliyin Punya Badan Usaha Milik Nahdlatul Ulama
Respons PBNU dan PKB,...
Respons PBNU dan PKB, SAS Institute: Nahdlatul Ulama Rumah Perjuangan Umat
Tantangan Lebih Berat,...
Tantangan Lebih Berat, Wakil Ketua MPR: Polri Harus Lebih Profesional
Gus Jazil: Idul Adha...
Gus Jazil: Idul Adha Momentum Memperkuat Keimanan dan Kebersamaan
Kritik PKB, Wasekjen...
Kritik PKB, Wasekjen PBNU Rahmat Hidayat Pulungan Dinilai Tak Paham AD-ART
Negara di Ambang Resesi,...
Negara di Ambang Resesi, Jazilul Fawaid: Masyarakat Jangan Sampai Kelaparan
Berita Terkini
Perindo Perkuat Pemahaman...
Perindo Perkuat Pemahaman dan Kapasitas Anggota DPRD lewat Bimtek Nasional 2026, Dorong Ekonomi Kerakyatan
Febrie Adriansyah Jadi...
Febrie Adriansyah Jadi Tersangka TPPU, Kejagung Paparkan Modusnya
Penyesuaian Tarif PNBP...
Penyesuaian Tarif PNBP Berkeadilan, Tarif Merek UMKM Tetap dan Pendaftaran Hak Cipta Lagu Gratis
Febrie Adriansyah Ditahan...
Febrie Adriansyah Ditahan Tanpa Rompi Pink, PB PMII: Cetak Sejarah
PWNU Jateng dan Konjen...
PWNU Jateng dan Konjen Tiongkok Jalin Kerja Sama Pendidikan, Gus Rozin Ikuti Jejak Gus Dur
Pakar Kebijakan Publik...
Pakar Kebijakan Publik Soroti Ego Sektoral Penegakan Hukum, Sarankan Pelibatan KPK
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved