Menerka Posisi Prabowo di Kabinet Jokowi-Ma'ruf
Selasa, 08 Oktober 2019 - 18:47 WIB
Menerka Posisi Prabowo di Kabinet Jokowi-Ma'ruf
A
A
A
JAKARTA - Pengamat politik, Ireng Maulana mengatakan, jika Prabowo Subianto hanya mengincar kursi Menteri Pertahanan (Menhan), maka perannya yang semakin menguat dianggap sejajar dengan aktor politik arus utama di perpolitikan nasional, akan memudar.
Menurut Ireng, sebagian besar orang akan menilai tingginya pragmatisme Prabowo dan akan mencatat dia hanya puas dengan kursi menteri di Kabinet Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin.
"Posisi Menhan akan menjadikan dirinya menjadi bawahan presiden yang notabene adalah Jokowi yang dua kali bertarung dengan dirinya pada Pilpres. Bawahan tidak lagi sejajar apapun dalihnya," ujar Ireng Maulana, Selasa (8/10/2019).
Alumni Lowa State University, lowa (IA) Amerika Serikat, Program Master of Art in Political Science ini menjelaskan, apabila Prabowo tidak sungguh-sungguh mengambil posisi Menhan, dia akan menjadi rujukan kekuatan politik yang mewarnai dinamika demokrasi Indonesia.
"Kelihatan sekali Prabowo masih diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan politik arus utama.
Mengincar posisi Menhan, Prabowo sama seperti menggali penolakan yang dalam atas dirinya oleh para pendukung yang sudah terlanjur loyal, dan mereka akan menyimpan ingatan tentang Prabowo yang ternyata hanya mementingkan jabatan," jelasnya.
Menurut dia, ketika Prabowo sudah mempersempit ruang perannya sendiri dengan menjadi Menhan, itu sama saja mengkerdilkan arti penting dirinya sebagai tokoh politik.
Lebih lanjut Ireng mengatakan, Prabowo tidak perlu menjadi Menhan mengingat kapasitas dirinya diperlukan bersama kekuatan bangsa lainnya untuk memback-up pemerintah dalam urusan kepentingan nasional yang jauh lebih besar dan lebih krusial.
"Apabila kepentingan untuk mendukung pemerintahan Jokowi direpresentasikan dengan menempati jabatan tertentu, maka mungkin akan lebih elegan jika Prabowo mau mewakafkan dirinya masuk dalam jajaran Wantimpres, sehingga pikiran-pikiran dan keberpihakannya terhadap kemajuan negara akan lebih langsung memperkuat gerak langkah kepemimpinan Jokowi," ungkap Ireng.
Pada peran ini, Prabowo akan lebih bisa memperlihatkan kelasnya sebagai tokoh, dan bukan sebagai bawahan atau pembantu presiden seperti menteri dalam kabinet. Publik tentu ingin menyaksikan kolaborasi yang konstruktif dari para tokoh misalkan antara Jokowi dan Prabowo dalam konteks Presiden dan Wantimpres.
Walaupun Gerindra misalkan memang dalam prosesnya menghendaki kursi Menhan, mungkin lebih baik menyiapkan orang lain yang sesuai untuk posisi tersebut karena kursi Menhan tidak sepadan dengan dinamika politik yang telah dilalui Prabowo sebagai aktor politik.
"Jika hanya akan berakhir di kursi menteri dan diikuti tawaran mendapatkan gelar Jenderal kehormatan dengan empat bintang, maka demi apalagi semua peristiwa politik yang selama ini menjadi bagian dari jatuh bangun dirinya. Terakhir, Pak Prabowo entah apa yang merasukimu (versi tik tok)?," pungkas Ireng.
Menurut Ireng, sebagian besar orang akan menilai tingginya pragmatisme Prabowo dan akan mencatat dia hanya puas dengan kursi menteri di Kabinet Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin.
"Posisi Menhan akan menjadikan dirinya menjadi bawahan presiden yang notabene adalah Jokowi yang dua kali bertarung dengan dirinya pada Pilpres. Bawahan tidak lagi sejajar apapun dalihnya," ujar Ireng Maulana, Selasa (8/10/2019).
Alumni Lowa State University, lowa (IA) Amerika Serikat, Program Master of Art in Political Science ini menjelaskan, apabila Prabowo tidak sungguh-sungguh mengambil posisi Menhan, dia akan menjadi rujukan kekuatan politik yang mewarnai dinamika demokrasi Indonesia.
"Kelihatan sekali Prabowo masih diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan politik arus utama.
Mengincar posisi Menhan, Prabowo sama seperti menggali penolakan yang dalam atas dirinya oleh para pendukung yang sudah terlanjur loyal, dan mereka akan menyimpan ingatan tentang Prabowo yang ternyata hanya mementingkan jabatan," jelasnya.
Menurut dia, ketika Prabowo sudah mempersempit ruang perannya sendiri dengan menjadi Menhan, itu sama saja mengkerdilkan arti penting dirinya sebagai tokoh politik.
Lebih lanjut Ireng mengatakan, Prabowo tidak perlu menjadi Menhan mengingat kapasitas dirinya diperlukan bersama kekuatan bangsa lainnya untuk memback-up pemerintah dalam urusan kepentingan nasional yang jauh lebih besar dan lebih krusial.
"Apabila kepentingan untuk mendukung pemerintahan Jokowi direpresentasikan dengan menempati jabatan tertentu, maka mungkin akan lebih elegan jika Prabowo mau mewakafkan dirinya masuk dalam jajaran Wantimpres, sehingga pikiran-pikiran dan keberpihakannya terhadap kemajuan negara akan lebih langsung memperkuat gerak langkah kepemimpinan Jokowi," ungkap Ireng.
Pada peran ini, Prabowo akan lebih bisa memperlihatkan kelasnya sebagai tokoh, dan bukan sebagai bawahan atau pembantu presiden seperti menteri dalam kabinet. Publik tentu ingin menyaksikan kolaborasi yang konstruktif dari para tokoh misalkan antara Jokowi dan Prabowo dalam konteks Presiden dan Wantimpres.
Walaupun Gerindra misalkan memang dalam prosesnya menghendaki kursi Menhan, mungkin lebih baik menyiapkan orang lain yang sesuai untuk posisi tersebut karena kursi Menhan tidak sepadan dengan dinamika politik yang telah dilalui Prabowo sebagai aktor politik.
"Jika hanya akan berakhir di kursi menteri dan diikuti tawaran mendapatkan gelar Jenderal kehormatan dengan empat bintang, maka demi apalagi semua peristiwa politik yang selama ini menjadi bagian dari jatuh bangun dirinya. Terakhir, Pak Prabowo entah apa yang merasukimu (versi tik tok)?," pungkas Ireng.
(maf)