Kelompok Lukriyang, Wadah Merajut Persatuan di Thailand Selatan

Senin, 09 September 2019 - 01:48 WIB
Kelompok Lukriyang,...
Kelompok Lukriyang, Wadah Merajut Persatuan di Thailand Selatan
A A A
YALA - Konflik selalu menyisakan kesedihan yang mendalam bagi anak-anak. Bagaimana tidak, mereka harus kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Hal ini pernah dialami masyarakat di tiga provinsi di Thailand selatan yakni, Provinsi Yala, Narathiwat dan Pattani. Meski perdamaian kini sudah terwujud namun, perasaan traumatik masih menghinggapi anak-anak yang pernah tinggal di daerah tersebut.

Kondisi inilah yang mendorong Wannakanok Pohitaedaoh, membentuk Kelompok Lukriyang, sebuah tempat penampungan bagi anak-anak korban konflik untuk kembali menatap dan membangun masa depannya yang lebih baik. "Mereka yang ditampung di sini adalah anak-anak yang keluarganya menjadi korban," katanya Minggu (8/9/2019).

Didirikan pada 2005, Kelompok Lukriyang berhasil membentuk anak-anak menjadi pribadi yang mandiri. Pribadi yang pantang menyerah dan optimistis dalam meraih cita-cita. Ya, di Kelompok Lukriyang ini mereka dibekali keterampilan, beasiswa pendidikan hingga ke jenjang S-2 baik di dalam maupun di luar negeri dan dilatih untuk menjadi seorang pemimpin.

"Tujuan pembentukan kelompok ini adalah untuk memberikan keamanan dan fasilitas kepada anak-anak, ada semacam latihan dan panduan untuk safety atau keamanan diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Saat ini, ada 102 anak-anak yang ditampung oleh lembaga kemanusiaan Lukriyang. Mereka berusia antara 10 tahun hingga 22 tahun. "Mereka yang tinggal di sini 16 orang. Sisanya pulang, tinggal bersama dengan keluarganya. Karena ada yang harus membantu orang tua, ayahnya dan sebagainya," katanya.

Wannakanok Pohitaedaoh, yang kini menjabat sebagai Ketua Kelompok Lukriyang ini mengaku, di sini anak-anak diajarkan untuk saling mencintai satu sama lain, menghargai perbedaan dan menerima kenyataan. "Apa yang telah dilihat itu pasti membekas, tapi di sini diajarkan supaya mereka bisa menerima kenyataan bahwa ini sudah terjadi maka kita harus mandiri," ujarnya.

Perempuan yang telah kehilangan empat kakak tercintanya dalam kurun beberapa tahun akibat berbagai peristiwa itu mengaku, ingin anak-anak asuhnya dapat hidup normal dan berdampingan satu sama lain."Nanti kalau sudah besar kita harus menerima kenyataan bahwa kita berada di lingkungan ini," katanya.
(cip)
Berita Terkait
Indonesia Punya Peran...
Indonesia Punya Peran Penting dalam Diplomasi Internasional
Travel Alliance + Grab...
Travel Alliance + Grab + Trip.com = Kombo Mantap untuk Ngebolang Keliling Asia!
Kisah di Balik Monumen...
Kisah di Balik Monumen Soekarno Rancangan Ridwan Kamil di Aljazair
Memahami Pendekatan...
Memahami Pendekatan Luar Negeri Prabowo: Refleksi Lawatan ke LN
Jokowi dan Pendekatan...
Jokowi dan Pendekatan Realis dalam Kebijakan Luar Negeri Indonesia
Peringati Hari Solidaritas,...
Peringati Hari Solidaritas, Kemlu: Palestina Terpatri dalam Inti Politik Luar Negeri RI
Berita Terkini
Mahfud MD Ungkap Alasan...
Mahfud MD Ungkap Alasan KPK Harus Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Singgung Asas Konflik Kepentingan
3 Tersangka Kasus Suap...
3 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Pokmas Jatim Beri Rp6,9 M agar Dapat Jatah
Penjelasan Menteri PU...
Penjelasan Menteri PU Dody Hanggodo tentang Isu Tak Mau Salaman dengan Bawahan dan Pakai Private Jet
Kuntadi Jadi Jampidsus,...
Kuntadi Jadi Jampidsus, Yusril: Tugas Pokoknya Selesaikan Kasus Febrie Adriansyah
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Jaksa Agung Mutasi 8...
Jaksa Agung Mutasi 8 Kepala Kejaksaan Tinggi, Ada Kajati Aceh hingga Sulsel
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved