Respons Nasdem Soal Prabowo dan Pembagian Jatah Menteri

Jum'at, 09 Agustus 2019 - 15:21 WIB
Respons Nasdem Soal...
Respons Nasdem Soal Prabowo dan Pembagian Jatah Menteri
A A A
JAKARTA - Partai Nasdem menganggap kehadiran Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam Kongres V PDIP di Bali dan ajakan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada Gerindra tak bisa disamakan dengan sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai kepala pemerintah.

Karena, Jokowi tidak didukung oleh satu partai politik (parpol) saja meskipun Jokowi merupakan kader PDIP. Sehingga, sikap manis PDIP tidak bisa langsung diartikan bahwa Gerindra akan dapat jatah menteri.

"PDIP tidak juga boleh diidentikkan dengan presiden. Karena presiden dan wapres adalah Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf Amin. Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf adalah presiden-wakil presiden, bukan (hanya didukung) satu partai politik meski beliau (Jokowi) kader satu parpol," kata Ketua DPP Nasdem Irma Suryani di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (9/8/2019).

Sambung Irma, soal pembagian jatah menteri ini sudah dihitung oleh presiden dan itu tidak akan mengurangi porsi parpol pendukung. Karena, Jokowi juga sudah menyampaikan bahwa proporsi kabinet nanti diisi oleh kalangan profesional, cendekiawan dan kader parpol.

"Jadi saya kira pak presiden pasti tahu lah apa yang akan dilakukan," ucap Irma.

Soal pernyataan politikus Gerindra bahwa akan ada poros Kertanegara-Teuku Umar, dia menilai hal itu sah saja dalam politik. Karena jumlah parpol di Indonesia sangat banyak sehingga bisa membentuk banyak poros. Parpol lain tentu akan membuat poros sendiri dan poros politik ini sifatnya dinamis.

"Jadi dinamis aja enggak ada masalah. Yang penting garisnya kepentingan bangsa dan negara itu di atas kepentingan partai politik itu yang paling penting yang harus dilakukan," ujarnya.

Soal bergabungnya Gerindra ke koalisi pemerintah, menurut Wakil Ketua Fraksi Nasdem ini menegaskan bahwa jangan sampai pertarungan pilpres menimbulkan friksi yang tajam. Jadi, kalau masih ada friksi yang tajam sebaiknya parpol tersebut membenahi diri dulu baru bergabung.

"Benahi diri dulu bagaimana sikapnya terhadap NKRI, terhadap Pancasila terhadap Bhinneka Tunggal Ika. Jadi hilangkan dulu politik identitasnya, baru lah gabung dengan kita kan begitu. Kalau enggak hancur nanti NKRI ini," tandasnya.
(maf)
Berita Terkait
Jokowi dan Maruf Amin...
Jokowi dan Ma'ruf Amin Hadiri Apel Kader Partai Gerindra
Prabowo Subianto Temui...
Prabowo Subianto Temui Surya Paloh, Ada Apa?
Gerindra Tak Ambil Pusing...
Gerindra Tak Ambil Pusing PAN Masuk Kabinet Indonesia Maju
Presiden Jokowi dan...
Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin Hadiri Apel Kader Partai Gerindra
Prabowo-Surya Paloh...
Prabowo-Surya Paloh Makan Siang Bersama, Jajaki Koalisi Pilpres 2024
Jika Gerindra dan NasDem...
Jika Gerindra dan NasDem Koalisi, Ada Sejumlah Nama Bisa Diusung Selain Prabowo
Berita Terkini
3 Tersangka Kasus Suap...
3 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Pokmas Jatim Beri Rp6,9 M agar Dapat Jatah
Penjelasan Menteri PU...
Penjelasan Menteri PU Dody Hanggodo tentang Isu Tak Mau Salaman dengan Bawahan dan Pakai Private Jet
Kuntadi Jadi Jampidsus,...
Kuntadi Jadi Jampidsus, Yusril: Tugas Pokoknya Selesaikan Kasus Febrie Adriansyah
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Jaksa Agung Mutasi 8...
Jaksa Agung Mutasi 8 Kepala Kejaksaan Tinggi, Ada Kajati Aceh hingga Sulsel
Ditjen Imigrasi Siapkan...
Ditjen Imigrasi Siapkan Satu Jenis Paspor Nasional, Nomor Tak Berubah Seumur Hidup
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved