Keberhasilan Swasembada Pangan Era Soeharto Dinilai Patut Ditiru

Sabtu, 08 Juni 2019 - 09:30 WIB
Keberhasilan Swasembada...
Keberhasilan Swasembada Pangan Era Soeharto Dinilai Patut Ditiru
A A A
JAKARTA - Selama 32 tahun memimpin, banyak catatan kebanggaan dan prestasi yang ditorehkan mendiang Soeharto. Pembangunan tersebut sebenarnya dapat dilanjutkan oleh pemerintahan Indonesia saat ini dan di masa akan datang.

Salah satunya swasembada pangan. Pada tahun 1984, Indonesia berhasil swasembada beras dengan angka produksi sebanyak 25,8 ton. Kesuksesan ini mendapatkan penghargaan dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) pada tahun 1985. Pasalnya, pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia untuk dapat mempertahankan hidup.

Negara yang tak mampu mencukupi kebutuhan pangannya sangat rentan terhadap gejolak, baik gejolak harga hingga tergantung pada pasokan negara lain. Artinya, kedaulatan negara sebenarnya dalam konteks praktis bertumpu pada swasembada pangan.

Keberhasilan itu diakui oleh Pakar Sejarah dari Universitas Padjajaran (Unpad), Dr Tiar Anwar Bahtiar. "Swasembada pangan itu proyek yang bagus. Kalau kita mau jadi negara yang mandiri, maka harus bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Tidak tergantung pada orang lain," ujar Tiar kepada Indonesia Inside, saat dihubungi, Jumat (7/6/2019).

Pangan menjadi magnet perhatian publik karena memang dampaknya yang luas, mulai dari pegawai kantoran, ibu rumah tangga, hingga asisten rumah tangga pasti mengomentari berita tentang pangan. Maka itu, pemerintah yang berkuasa harus memprioritaskan komoditas pangan.

"Itu pokok. Jadi kalau sekarang terlalu banyak impor pangan seperti jagung dan kedelai, itu menandakan negara kita lemah," ujar mantan Ketua Umum Pemuda Persis ini.

Swasembada pangan peninggalan (legacy) Pak Harto yang akan terus dikenang bangsa ini. Satu strategi yang digagas Pak Harto untuk memajukan sektor pertanian kala itu adalah Revolusi Hijau adalah cara bercocok tanam dari tradisional berubah ke cara modern untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Revolusi Hijau muncul karena adanya masalah kemiskinan yang disebabkan karena pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat pesat tidak sebanding dengan peningkatan produksi pangan. Terdapat beberapa upaya yang dilakukan pemerintah Orde Baru untuk menggalakkan revolusi hijau, di antaranya upaya intensifikasi pertanian, ekstensifikasi pertanian, diversifikasi pertanian, dan rehabilitasi pertanian.

"Sesuatu yang dikerjakan Pak Harto harus menjadi contoh bahwa (negara) kita bisa swasembada pangan," tutur Tiar.

Maka, tidak ada salahnya jika pemerintah yang berkuasa berkaca pada sejarah tentang keberhasilan negeri ini mengubah posisi net importer beras menjadi pengekspor beras terbesar. Adalah medali From Rice Importer To Self Sufficiency dari Food and Agriculture Organization (FAO) pada 1984 yang diterima Presiden RI kedua Soeharto menjadi tonggak bersejarah negeri ini.

"Cuman memang usahanya harus keras. Sektor pertanian harus diperhatikan secara intensif," kata dia.

Keberhasilan lain, menurut Tiar, yaitu adanya beberapa proyek strategis seperti Pindad, IPTN, PAL, INKA, dan Krakatau Steel. Hal ini menjadikan Indonesia semakin dipandang oleh negara-negara lain.

"Ini yang membuat kita menjadi mandiri dalam penyelenggaraan alat pertahanan negara. Itu sangat penting. Kedua hal ini sangat fundamental, jika bisa dikerjakan, maka akan memperkuat daya tawar posisi Indonesia," katanya.

Selain itu, Soeharto cukup dekat dalam merangkul umat Islam menjelang akhir jabatannya. Salah satu institusi keagamaan yang lahir saat itu ialah Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI).

"Sesuatu yang cukup bagus pada jaman Pak Harto sebelum beliau lengser ialah mengembangkan kerja sama dengan umat Islam. Nah, ini juga perlu dilanjutkan lagi kerja sama
dengan kelompok-kelompok Islam," kata Tiar.
(kri)
Berita Terkait
Hebatnya Satuan Korps...
Hebatnya Satuan Korps Hiu Kencana Koarmada II Bertugas dalam Senyap
Lindungi Kedaulatan...
Lindungi Kedaulatan NKRI, Indonesia Rancang Strategi Keamanan Nasional
Ancaman Hoaks Terhadap...
Ancaman Hoaks Terhadap Kedaulatan NKRI di Dunia Siber
Kopassus Ajak Keluarga...
Kopassus Ajak Keluarga Besar TNI Jaga Kedaulatan NKRI
Pemerintah Diminta Tegas...
Pemerintah Diminta Tegas dan Serius Jaga Kedaulatan NKRI
Syarief Hasan Demokrat...
Syarief Hasan Demokrat Nilai China Lecehkan Kedaulatan NKRI
Berita Terkini
Hukum dan Ekonomi: Penopang...
Hukum dan Ekonomi: Penopang Keberhasilan Piala Dunia 2026
Pakar: Penetapan Tersangka...
Pakar: Penetapan Tersangka Febrie Adriansyah Bukti Profesionalisme Kejagung
Febrie Adriansyah Ditahan,...
Febrie Adriansyah Ditahan, Eks Penyidik KPK: Kejagung Tunjukkan Keseriusan
Anis Matta soal Politik...
Anis Matta soal Politik Luar Negeri Bebas Aktif: Jangan Datang kepada Orang Hanya Waktu Kita Punya Masalah
Mohon Perlindungan Presiden,...
Mohon Perlindungan Presiden, Asosiasi Petani Tembakau Tolak Rancangan Pembatasan Kadar Nikotin
Ketua MUI Harap KUII...
Ketua MUI Harap KUII VIII Keluarkan Rekomendasi Tegas Penolakan Praktik LGBT
Infografis
Pilih Tangkap Putin...
Pilih Tangkap Putin daripada Netanyahu, Uni Eropa Dinilai Munafik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved