Jubir TKN: Sandi Boleh Jadi Lebih Muda tapi Ma'ruf Lebih Visioner
Senin, 18 Maret 2019 - 09:35 WIB
Jubir TKN: Sandi Boleh Jadi Lebih Muda tapi Ma'ruf Lebih Visioner
A
A
A
JAKARTA - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily menganggap Cawapres Kiai Ma'ruf tampil dengan prima menyampaikan visi-misi dan program yang ditawarkan dalam debat ketiga tentang ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan, sosial-budaya tadi malam."Abah Kiai menyampaikan visi dan misi dalam bidang-bidang tersebut dengan komprehensif sesuai dengan fokus pemerintahan Jokowi lima tahun ke depan yaitu: mengembangkan SDM Indonesia yang sehat, cerdas, dan berakhlakul karimah," ujar Ace kepada wartawan, Senin (18/3/2019).
(Baca juga: Kiai Ma'ruf Juga Berjanji Sediakan Dana Abadi Riset)
Sebaliknya, lawan debatnya yang tak lain Cawapres nomor urut 02, Sandiaga S Uno menyampaikan visi dan misinya seperti biasa, sangat normatif dengan ulasan yang berputar-putar pada isu itu-itu saja. Sehingga gagal mengelaborasi visi dan misinya.
"Dengan tampilan debat tersebut rakyat melihat bahwa boleh jadi Sandiaga Uno lebih muda namun KH Maruf Amin jauh lebih visioner, program konkret dan menjawab kebutuhan," ujarnya.
Ace menegaskan Sandi boleh jadi lebih muda tapi Kiai Maruf lebih visioner dengan menggunakan istilah generasi milineal #10 years challenge. Menurutnya, apa yang disampaikan Kiai Ma’ruf sangat menguasai masalah hingga ke soal yang teknis.
Sementara Sandi seperti biasanya hanya mengambil kasus-kasus pribadi yang didramatisasi seakan-akan itu masalah besar. Padahal kata Ace, apa yang disampaikan Sandi telah dilakukan Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.
Politikus Partai Golkar ini menuturkan Kiai Ma’ruf Amin secara konsisten menawarkan program 3 kartu: Kartu Sembako Murah, Kartu KIP Kuliah dan Kartu Pra Kerja, sebagai bagian dari solusi yang ditawarkan. Program-program tersebut dijelaskan secara cerdas dan elaboratif oleh Ketua Umum MUI itu dengan baik. Sementara Sandi menawarkan Program Ok Oce secara nasional sambil tidak menjelaskan dimana letak keberhasilan program itu yang diterapkan di DKI Jakarta.
Adapun soal ketenagakerjaan, lanjut Ace, di luar dugaan Kiai Ma’ruf memberikan element of surprise tertinggi bagi sosok ulama. Musyatasyar PBNU itu dianggap menyampaikan bahwa pemahaman terhadap pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja yang dimulai dari pendidikan, pelatihan, kerja sama dan kolaborasi, dan juga pentingnya meluruskan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri dengan paradigma baru untuk mendahulukan kemaslahatan dan menolak kerusakan benar-benar menyentuh hati kara pekerja Indonesia baik di dalam maupun luar negeri.
"Abah Kiai Maruf Amin dengan nuraninya berbicara dengan kebaikan untuk umat, penuh kejujuran," ucapnya.
Selain itu, kata Ace, Kiai Ma'ruf juga menawarkan pembentukan Badan Riset Nasional. Konsep ini disalah pahami oleh Sandi yang mengatakan bahwa lembaga ini akan menjadi lembaga baru. Menurutnya, justru dengan lembaga ini akan memaksimalkan penelitian dan pengembangan di Indonesia.
Dijelaskannya, alokasi riset saat ini tersebar di kementerian dan lembaga, nanti akan kami satukan menjadi satu koordinasi yang namanya Badan Riset Nasional. Riset dan pengembangan merupakan salah satu elemen penting dalam kemajuan suatu bangsa.
(Baca juga: Janji Perbaiki Layakan Kesehatan, Sandiaga Uno: Negara Tidak Boleh Pelit)
Oleh sebab itu menurutnya, penyatuan dana riset di satu badan merupakan keniscayaan karena akan lebih memudahkan. Justru penyatuan semua lembaga riset itu dilakukan atas dasar efisiensi dan akan melibatkan dunia usaha.
Dengan demikian, riset akan lebih memberikan dampak yang signifikan. Sebaliknya yang dikatakan Sandi malah terkesan usang dan tidak ada hal baru. Sebab, konsep link and match itu telah dilakukan pemerintah melalui program vokasi.
Kemudian di bidang kebudayaan, mantan Rais Aam PBNU itu menunjukkan penguasaannya terhadap budaya yang berbasiskan kearifan lokal bangsa Indonesia. Istilah dalihan na talu, pela gadong, dan kekayaan khazanah budaya bangsa ini akan diangkat sebagai warisan budaya menjadi mengglobal.
Menurut Ace, pria yang akrab disapa Abah juga menunjukan pengetahuannya tentang berbagai kata-kata kunci yang digunakan anak muda yang dikaitkan dengan konteks tema debat dengan tepat. Istilah unicorn, startup dan dunia digital dengan pas.
"Justru tidak terlihat apa yang disampaikan Sandi banyak keluar dari konteks dalam menjawab pertanyaan dari Abah Ma’ruf. Misalnya soal stunting dan sodaqah putih. Jawaban Sandi muter-muter dan tidak menguasai persoalan namun mengambil contoh personal yang tidak tepat," papar dia.
Demikian juga dengan jawaban tentang pengawasan terhadap dana transfer pendidikan. Ace menegaskan, jawabannya Sandi berputar-putar dan tidak nyambung dengan pertanyaan yang dilontarkan Abah Ma’ruf.
"Banyak pihak yang awalnya under estimate kepada Abah Kiai Ma’ruf Amin. Penampilannya malam debat yang ketiga ini mematahkan dugaan banyak pihak. Keseluruhan tampilan debat akhirnya membawa diferensiasi Kiai Maruf sebagai sosok berpengalaman dan penuh dengan kebijaksanaan, sebaliknya Sandi tampil dalam kemudaan secara fisik, namun gagal mengelaborasi visi-misi," pungkasnya.
(Baca juga: Kiai Ma'ruf Juga Berjanji Sediakan Dana Abadi Riset)
Sebaliknya, lawan debatnya yang tak lain Cawapres nomor urut 02, Sandiaga S Uno menyampaikan visi dan misinya seperti biasa, sangat normatif dengan ulasan yang berputar-putar pada isu itu-itu saja. Sehingga gagal mengelaborasi visi dan misinya.
"Dengan tampilan debat tersebut rakyat melihat bahwa boleh jadi Sandiaga Uno lebih muda namun KH Maruf Amin jauh lebih visioner, program konkret dan menjawab kebutuhan," ujarnya.
Ace menegaskan Sandi boleh jadi lebih muda tapi Kiai Maruf lebih visioner dengan menggunakan istilah generasi milineal #10 years challenge. Menurutnya, apa yang disampaikan Kiai Ma’ruf sangat menguasai masalah hingga ke soal yang teknis.
Sementara Sandi seperti biasanya hanya mengambil kasus-kasus pribadi yang didramatisasi seakan-akan itu masalah besar. Padahal kata Ace, apa yang disampaikan Sandi telah dilakukan Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.
Politikus Partai Golkar ini menuturkan Kiai Ma’ruf Amin secara konsisten menawarkan program 3 kartu: Kartu Sembako Murah, Kartu KIP Kuliah dan Kartu Pra Kerja, sebagai bagian dari solusi yang ditawarkan. Program-program tersebut dijelaskan secara cerdas dan elaboratif oleh Ketua Umum MUI itu dengan baik. Sementara Sandi menawarkan Program Ok Oce secara nasional sambil tidak menjelaskan dimana letak keberhasilan program itu yang diterapkan di DKI Jakarta.
Adapun soal ketenagakerjaan, lanjut Ace, di luar dugaan Kiai Ma’ruf memberikan element of surprise tertinggi bagi sosok ulama. Musyatasyar PBNU itu dianggap menyampaikan bahwa pemahaman terhadap pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja yang dimulai dari pendidikan, pelatihan, kerja sama dan kolaborasi, dan juga pentingnya meluruskan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri dengan paradigma baru untuk mendahulukan kemaslahatan dan menolak kerusakan benar-benar menyentuh hati kara pekerja Indonesia baik di dalam maupun luar negeri.
"Abah Kiai Maruf Amin dengan nuraninya berbicara dengan kebaikan untuk umat, penuh kejujuran," ucapnya.
Selain itu, kata Ace, Kiai Ma'ruf juga menawarkan pembentukan Badan Riset Nasional. Konsep ini disalah pahami oleh Sandi yang mengatakan bahwa lembaga ini akan menjadi lembaga baru. Menurutnya, justru dengan lembaga ini akan memaksimalkan penelitian dan pengembangan di Indonesia.
Dijelaskannya, alokasi riset saat ini tersebar di kementerian dan lembaga, nanti akan kami satukan menjadi satu koordinasi yang namanya Badan Riset Nasional. Riset dan pengembangan merupakan salah satu elemen penting dalam kemajuan suatu bangsa.
(Baca juga: Janji Perbaiki Layakan Kesehatan, Sandiaga Uno: Negara Tidak Boleh Pelit)
Oleh sebab itu menurutnya, penyatuan dana riset di satu badan merupakan keniscayaan karena akan lebih memudahkan. Justru penyatuan semua lembaga riset itu dilakukan atas dasar efisiensi dan akan melibatkan dunia usaha.
Dengan demikian, riset akan lebih memberikan dampak yang signifikan. Sebaliknya yang dikatakan Sandi malah terkesan usang dan tidak ada hal baru. Sebab, konsep link and match itu telah dilakukan pemerintah melalui program vokasi.
Kemudian di bidang kebudayaan, mantan Rais Aam PBNU itu menunjukkan penguasaannya terhadap budaya yang berbasiskan kearifan lokal bangsa Indonesia. Istilah dalihan na talu, pela gadong, dan kekayaan khazanah budaya bangsa ini akan diangkat sebagai warisan budaya menjadi mengglobal.
Menurut Ace, pria yang akrab disapa Abah juga menunjukan pengetahuannya tentang berbagai kata-kata kunci yang digunakan anak muda yang dikaitkan dengan konteks tema debat dengan tepat. Istilah unicorn, startup dan dunia digital dengan pas.
"Justru tidak terlihat apa yang disampaikan Sandi banyak keluar dari konteks dalam menjawab pertanyaan dari Abah Ma’ruf. Misalnya soal stunting dan sodaqah putih. Jawaban Sandi muter-muter dan tidak menguasai persoalan namun mengambil contoh personal yang tidak tepat," papar dia.
Demikian juga dengan jawaban tentang pengawasan terhadap dana transfer pendidikan. Ace menegaskan, jawabannya Sandi berputar-putar dan tidak nyambung dengan pertanyaan yang dilontarkan Abah Ma’ruf.
"Banyak pihak yang awalnya under estimate kepada Abah Kiai Ma’ruf Amin. Penampilannya malam debat yang ketiga ini mematahkan dugaan banyak pihak. Keseluruhan tampilan debat akhirnya membawa diferensiasi Kiai Maruf sebagai sosok berpengalaman dan penuh dengan kebijaksanaan, sebaliknya Sandi tampil dalam kemudaan secara fisik, namun gagal mengelaborasi visi-misi," pungkasnya.
(kri)