Jubir TKN Sebut Jokowi Menang Telak dari Prabowo, Skornya 6:0
Senin, 18 Februari 2019 - 13:04 WIB
Jubir TKN Sebut Jokowi Menang Telak dari Prabowo, Skornya 6:0
A
A
A
JAKARTA - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily menganggap debat kedua semalam menjadi panggung calon petahana Jokowi karena menguasai materi dan persoalan.
Menurut Ace, Jokowi kembali menang telak setelah menguasai masalah dengan menyampaikan capaian keberhasilan. Sementara penantangnya, Prabowo Subianto hanya bicara normatif dan banyak mengakui keberhasilannya Jokowi dalam banyak hal.
"Prabowo terkesan tidak menguasai masalah, miskin konsep, terutama hal-hal yang terkait dengan program yang lebih fokus, selalu mengulang-ngulang dan tidak nyambung," ujar Ace kepada SINDOnews, Senin (18/2/2019).
(Baca juga: Elektabilitas Jokowi Diprediksi Naik, Prabowo Stagnan Pasca Debat)
Ace menyebut, pemaparan visi dan misi terlihat sekali terjadi perbedaan yang tajam yakni Prabowo melangit, Jokowi membumi. Prabowo bicara soal kemandirian namun tidak menjelaskan tentang apa yang akan dilakukan untuk mendukung ke arah terwujudnya kemandirian tersebut.
"Bicara soal swasembada pangan, tetapi tidak mengurai tentang bagaimana cara mencapainya. Belum lagi bicara soal swasembada air, apa maksudnya dengan istilah itu?" ucap dia.
Sementara Jokowi memaparkan visi dengan menjelaskan capaian dan langkah yang lebih konkret dan realistis. Bicara soal infrastruktur dasar yang dirasakan rakyat di pedesaan berupa jalan, irigasi dan infrastruktur dasar lainnya, bukan hanya jalan tol, bendungan dan lain-lain.
Kata Ace, Jokowi juga bicara soal prestasi pangan dengan menyampaikan keberhasilannya dengan contoh produksi jagung. Soal lingkungan juga jelas tentang tidak ada kebakaran hutan selama tiga tahun terakhir ini termasuk juga soal sampah dan Energi fosil yang sudah dimulai.
"Menjawab soal Indeks Kompetisi Global (GCI) Pak Jokowi kembali menunjukan kelasnya dengan penguasaan terhadap substansi infrastruktur. Pak Jokowi telah melakukan program yang lebih maju dengan melakukan digitalisasi industri 4.0," jelasnya.
Dilanjutkan Ace, serangan Prabowo soal infrastruktur yang tidak berpihak kepada rakyat dan tanpa perencanaan yang matang, Jokowi dengan lugas dan tenang menjawabnya. Kembali Prabowo menyerang dengan infrastruktur yang mahal seperti LRT dan MRT tanpa menyebutkan angka dan datanya yang memadai.
"Padahal biaya pembangunan LRT Jabodetabek per kilometer Rp673 miliar, sementara di Malaysia LRT Kelana Jaya Malaysia biaya per Km nya Rp817 miliar/Km. Prabowo bilang Malaysia dua kali lebih efektif daripada Indonesia. Lagi lagi sebar hoaks," tegasya.
(Baca juga: Jokowi Dinilai Bicara Pakai Data, Prabowo Lebih Banyak Beretorika)
Adapun Jokowi menyatakan bahwa salah besar kalau tanpa perencanaan yang matang dan tidak digunakan rakyat. Jokowi dinilainya menjawab dengan santai bahwa pemanfaatan infrastruktur membutuhkan waktu. Misalnya, budaya penggunaaan transportasi publik membutuhkan waktu, juga dengan pembangunan Bandara di Jawa Barat masih membutuhkan infrastruktur lainnya.
Lainnya, kata Ace, soal ganti rugi pembangunan infrastruktur yang dinilai tidak pro rakyat, Jokowi mengatakan bahwa justru yang terjadi ganti untung. "Soal reformasi agraria yang merupakan hal yang semakin mengunggulkan kemenangan Pak Jokowi. Berbagai program seperti program Perhutanan Sosial, konsesi tanah untuk masyaraat adat dan ulayat adalah program yang konkret, selain program sertipikasi tanah," papar dia.
Soal tata kelola sawit, lanjut Ace, Prabowo menyatakan program yang normatif dengan menyebut perkebunan inti rakyat dan plasma. Program itu sudah sejak zaman baheula dilaksanakan. Dalam hal ini, Jokowi menyatakan bahwa produksi sawit semakin tinggi dan sudah dipergunakan untuk B20 untuk memenuhi biodiesel.
Isu lainnya mengenai perdebatan soal lingkungan hidup, Prabowo lebih banyak mengakui keberhasilan Jokowi dalam hal penegakan hukum lingkungan dan program yang lebih konkret misalnya soal Citarum Harum di Jawa Barat. Sementara Prabowo tak ada yang ditawarkan kecuali mengafirmasi program Jokowi.
Kemudian soal industri 4.0, Jokowi sangat menguasai. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu dianggap piawai bicara soal infrastruktur teknologi informasi hingga bagaimana pemanfaatannya.
Menurutnya, penggunaan industri 4.0 diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Jokowi dengan fasih bicara industri 4.0 ini dipergunakan untuk semakin memperkuat nilai tambah untuk rakyat.
"Penjelasan Pak jokowi lebih konkret soal fintech dan juga soal marketplace. Pak Jokowi sangat fasih bicara soal unicorn dan startup. Sementara respons Prabowo sangat normatif dan cenderung tidak nyambung. Prabowo menjelaskan industri 4.0 namun dikaitkan dengan uang yang tersimpan di luar negeri," ucapnya.
(Baca juga: Jokowi Tegaskan Tak Ada Serangan Personal ke Prabowo)
Ace menambahkan, debat semalam Jokowi unggul telak dan sangat menguasai tema ini. Bahkan, Politikus Partai Golkar ini menyebut Jokowi unggul telak dengan skor 6:0. "Programnya lebih konkret dan teruji. Sementara Pak Prabowo selalu mengulang-mengulang narasi normatif soal pasal 33, tanah, air dan udara dikuasi negara. Memang Pak Prabowo konsisten dengan paradoksnya," pungkasnya.
Menurut Ace, Jokowi kembali menang telak setelah menguasai masalah dengan menyampaikan capaian keberhasilan. Sementara penantangnya, Prabowo Subianto hanya bicara normatif dan banyak mengakui keberhasilannya Jokowi dalam banyak hal.
"Prabowo terkesan tidak menguasai masalah, miskin konsep, terutama hal-hal yang terkait dengan program yang lebih fokus, selalu mengulang-ngulang dan tidak nyambung," ujar Ace kepada SINDOnews, Senin (18/2/2019).
(Baca juga: Elektabilitas Jokowi Diprediksi Naik, Prabowo Stagnan Pasca Debat)
Ace menyebut, pemaparan visi dan misi terlihat sekali terjadi perbedaan yang tajam yakni Prabowo melangit, Jokowi membumi. Prabowo bicara soal kemandirian namun tidak menjelaskan tentang apa yang akan dilakukan untuk mendukung ke arah terwujudnya kemandirian tersebut.
"Bicara soal swasembada pangan, tetapi tidak mengurai tentang bagaimana cara mencapainya. Belum lagi bicara soal swasembada air, apa maksudnya dengan istilah itu?" ucap dia.
Sementara Jokowi memaparkan visi dengan menjelaskan capaian dan langkah yang lebih konkret dan realistis. Bicara soal infrastruktur dasar yang dirasakan rakyat di pedesaan berupa jalan, irigasi dan infrastruktur dasar lainnya, bukan hanya jalan tol, bendungan dan lain-lain.
Kata Ace, Jokowi juga bicara soal prestasi pangan dengan menyampaikan keberhasilannya dengan contoh produksi jagung. Soal lingkungan juga jelas tentang tidak ada kebakaran hutan selama tiga tahun terakhir ini termasuk juga soal sampah dan Energi fosil yang sudah dimulai.
"Menjawab soal Indeks Kompetisi Global (GCI) Pak Jokowi kembali menunjukan kelasnya dengan penguasaan terhadap substansi infrastruktur. Pak Jokowi telah melakukan program yang lebih maju dengan melakukan digitalisasi industri 4.0," jelasnya.
Dilanjutkan Ace, serangan Prabowo soal infrastruktur yang tidak berpihak kepada rakyat dan tanpa perencanaan yang matang, Jokowi dengan lugas dan tenang menjawabnya. Kembali Prabowo menyerang dengan infrastruktur yang mahal seperti LRT dan MRT tanpa menyebutkan angka dan datanya yang memadai.
"Padahal biaya pembangunan LRT Jabodetabek per kilometer Rp673 miliar, sementara di Malaysia LRT Kelana Jaya Malaysia biaya per Km nya Rp817 miliar/Km. Prabowo bilang Malaysia dua kali lebih efektif daripada Indonesia. Lagi lagi sebar hoaks," tegasya.
(Baca juga: Jokowi Dinilai Bicara Pakai Data, Prabowo Lebih Banyak Beretorika)
Adapun Jokowi menyatakan bahwa salah besar kalau tanpa perencanaan yang matang dan tidak digunakan rakyat. Jokowi dinilainya menjawab dengan santai bahwa pemanfaatan infrastruktur membutuhkan waktu. Misalnya, budaya penggunaaan transportasi publik membutuhkan waktu, juga dengan pembangunan Bandara di Jawa Barat masih membutuhkan infrastruktur lainnya.
Lainnya, kata Ace, soal ganti rugi pembangunan infrastruktur yang dinilai tidak pro rakyat, Jokowi mengatakan bahwa justru yang terjadi ganti untung. "Soal reformasi agraria yang merupakan hal yang semakin mengunggulkan kemenangan Pak Jokowi. Berbagai program seperti program Perhutanan Sosial, konsesi tanah untuk masyaraat adat dan ulayat adalah program yang konkret, selain program sertipikasi tanah," papar dia.
Soal tata kelola sawit, lanjut Ace, Prabowo menyatakan program yang normatif dengan menyebut perkebunan inti rakyat dan plasma. Program itu sudah sejak zaman baheula dilaksanakan. Dalam hal ini, Jokowi menyatakan bahwa produksi sawit semakin tinggi dan sudah dipergunakan untuk B20 untuk memenuhi biodiesel.
Isu lainnya mengenai perdebatan soal lingkungan hidup, Prabowo lebih banyak mengakui keberhasilan Jokowi dalam hal penegakan hukum lingkungan dan program yang lebih konkret misalnya soal Citarum Harum di Jawa Barat. Sementara Prabowo tak ada yang ditawarkan kecuali mengafirmasi program Jokowi.
Kemudian soal industri 4.0, Jokowi sangat menguasai. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu dianggap piawai bicara soal infrastruktur teknologi informasi hingga bagaimana pemanfaatannya.
Menurutnya, penggunaan industri 4.0 diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Jokowi dengan fasih bicara industri 4.0 ini dipergunakan untuk semakin memperkuat nilai tambah untuk rakyat.
"Penjelasan Pak jokowi lebih konkret soal fintech dan juga soal marketplace. Pak Jokowi sangat fasih bicara soal unicorn dan startup. Sementara respons Prabowo sangat normatif dan cenderung tidak nyambung. Prabowo menjelaskan industri 4.0 namun dikaitkan dengan uang yang tersimpan di luar negeri," ucapnya.
(Baca juga: Jokowi Tegaskan Tak Ada Serangan Personal ke Prabowo)
Ace menambahkan, debat semalam Jokowi unggul telak dan sangat menguasai tema ini. Bahkan, Politikus Partai Golkar ini menyebut Jokowi unggul telak dengan skor 6:0. "Programnya lebih konkret dan teruji. Sementara Pak Prabowo selalu mengulang-mengulang narasi normatif soal pasal 33, tanah, air dan udara dikuasi negara. Memang Pak Prabowo konsisten dengan paradoksnya," pungkasnya.
(kri)