Sikap Prabowo Dinilai Tidak Konsisten Terkait Isu Korupsi
Jum'at, 18 Januari 2019 - 15:44 WIB
Sikap Prabowo Dinilai Tidak Konsisten Terkait Isu Korupsi
A
A
A
JAKARTA - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Charles Honoris menilai Prabowo Subianto menunjukkan sikap tidak konsisten atau inkonsistensi dalam debat perdana calon presiden-calon wakil presiden, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis 17 Januari 2019 malam.
Dia menilai inkonsistensi pernyataan Prabowo itu salah satunya saat membahas tentang isu korupsi. Inkonsistensi Prabowo dikatakannya terkuak berkat kelihaian Jokowi dalam memainkan narasi.
"Bagaimana bisa seorang Prabowo di satu sisi mengatakan akan menghukum koruptor dengan menaruh di pulau terpencil dan suruh tambang pasir terus menerus, tapi di sisi lain dia membela enam caleg Gerindra mantan koruptor dengan mengatakan korupsinya enggak seberapa," kata Charles dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/1/2019).
Charles pun mengkritik Bambang Widjojanto yang seharusnya memberikan pemahamanan kepada Prabowo bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa."Seharusnya mantan pimpinan KPK yang menjadi mentor debat Prabowo memberi pemahaman lebih kepada jagoannya bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa, menyengsarakan rakyat, " tandas anggota DPR dari Fraksi PDIP ini.
Menurut dia, dari inkonsistensi ini, publik sebenarnya bisa melihat komitmen pemberantasan korupsi Prabowo yang tebang pilih. Keras terhadap pihak lain, tapi lembek untuk kader sendiri.
Dia menilai sikap calon pemimpin seperti ini jelas sangat membahayakan bagi masa depan pemberantasan korupsi di negeri ini.
"Sebaliknya Pak Jokowi sangat enteng memainkan narasi korupsi karena seperti beliau katakan sendiri," katanya.
Charles mengutip pernyataan Jokowi saat debat, yakni menyebut dirinya tidak memiliki beban masa lalu dan tidak mempunyai rekam jejak korupsi.
"Di samping itu, PDI Perjuangan, partainya Pak Jokowi, atas instruksi Ibu Megawati juga telah bersikap tegas dengan tidak meloloskan satu pun caleg yang pernah terlibat korupsi dalam Pemilu 2019," katanya.
Dia menilai inkonsistensi pernyataan Prabowo itu salah satunya saat membahas tentang isu korupsi. Inkonsistensi Prabowo dikatakannya terkuak berkat kelihaian Jokowi dalam memainkan narasi.
"Bagaimana bisa seorang Prabowo di satu sisi mengatakan akan menghukum koruptor dengan menaruh di pulau terpencil dan suruh tambang pasir terus menerus, tapi di sisi lain dia membela enam caleg Gerindra mantan koruptor dengan mengatakan korupsinya enggak seberapa," kata Charles dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/1/2019).
Charles pun mengkritik Bambang Widjojanto yang seharusnya memberikan pemahamanan kepada Prabowo bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa."Seharusnya mantan pimpinan KPK yang menjadi mentor debat Prabowo memberi pemahaman lebih kepada jagoannya bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa, menyengsarakan rakyat, " tandas anggota DPR dari Fraksi PDIP ini.
Menurut dia, dari inkonsistensi ini, publik sebenarnya bisa melihat komitmen pemberantasan korupsi Prabowo yang tebang pilih. Keras terhadap pihak lain, tapi lembek untuk kader sendiri.
Dia menilai sikap calon pemimpin seperti ini jelas sangat membahayakan bagi masa depan pemberantasan korupsi di negeri ini.
"Sebaliknya Pak Jokowi sangat enteng memainkan narasi korupsi karena seperti beliau katakan sendiri," katanya.
Charles mengutip pernyataan Jokowi saat debat, yakni menyebut dirinya tidak memiliki beban masa lalu dan tidak mempunyai rekam jejak korupsi.
"Di samping itu, PDI Perjuangan, partainya Pak Jokowi, atas instruksi Ibu Megawati juga telah bersikap tegas dengan tidak meloloskan satu pun caleg yang pernah terlibat korupsi dalam Pemilu 2019," katanya.
(dam)